“Dahlah, Mbak. Ini hapenya.”
Aku menyodorkan ponsel berlayar lebar itu kembali ke arah Mbak Citra dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ada rasa benci yang begitu pekat dan sakit hati yang menghujam telak saat aku membaca baris demi baris kata yang ditampilkan oleh Huda di sana. Tanpa tahu malu, pria itu dengan entengnya mengaku sebagai seorang lajang yang sibuk mengabdi pada negara hingga belum sempat mencari jodoh.
Tujuh tahun. Kami menghabiskan tujuh tahun bersama, sejak masa-masa dia bukan siapa-siapa, dan sekarang dia menghapus seluruh eksistensiku hanya dalam satu baris pesan singkat seolah aku tidak pernah ada.
Sekuat tenaga aku menahan napas, mencoba membendung tangis yang mulai mendesak, tapi tetap saja air mata itu luruh tanpa bisa dicegah. Kupukul dadaku kuat-kuat. Sesak ini bukan lagi sekadar kiasan, rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit jantungku, memerasnya hingga setiap detaknya terasa sangat menyakitkan.
Kenapa Huda berubah secepat ini? Apa salahku? Selama bertahun-tahun, aku adalah orang pertama yang membesarkan hatinya saat dia gagal seleksi berkali-kali. Aku yang menemaninya di titik terendah, dan sekarang, setelah dia mengenakan seragam kebanggaannya, aku justru dicampakkan begitu saja. Dibuang tanpa pamit seolah aku hanyalah benda usang yang tidak lagi berharga. Lupakah dia dengan janji yang kami pegang teguh untuk selalu bersama, bukan hanya saat sulit, tapi juga saat sukses sudah di tangan?
Tujuh tahun aku hanya memandang ke arahnya. Tidak peduli dengan segala kekurangannya, aku menerimanya karena aku sadar bahwa mencintai bukan hanya tentang menerima, tapi juga tentang memberi. Di mataku, tidak ada pria lain. Aku menutup rapat hatiku untuk orang lain demi menjaga janji yang pernah kami buat. Namun, inikah balasan atas setiaku? Selama dia jauh di Papua, aku mengabaikan setiap pria yang mencoba mendekat. Ternyata, kesetiaanku hanya dibalas dengan pengkhianatan tanpa alasan yang masuk akal.
Aku ingin marah. Aku ingin memakinya di depan mukanya dan menyadarkannya bahwa dia sudah lupa diri. Namun, rasa sakit ini terlalu besar hingga aku hanya bisa menutup wajah rapat-rapat, menyembunyikan tangis yang semakin menjadi. Mungkin aku terlihat menyedihkan, tapi mendapati pengkhianatan tepat di saat aku merasa semuanya baik-baik saja adalah tamparan yang benar-benar melumpuhkan logikaku.
“Sabar ya, Dit. Berterima kasihlah sama Tuhan karena sudah dikasih lihat bagaimana buruknya pacarmu sekarang,” suara Mbak Citra terdengar lembut, mencoba menenangkan. “Masih Alhamdulillah kamu masih pacaran. Bayangkan kalau kamu baru tahu dia b******k begini saat kalian sudah menikah.”
Aku tahu Mbak Citra benar, tapi haruskah hubungan yang dimulai dengan baik ini diakhiri dengan cara sekejam ini?
“Tapi Mbak, apa salahku? Ya Allah, kok tega banget dia sama aku ...”
“Kamu nggak salah! Si semprul itu yang salah!” Mbak Citra menyambar ucapanku dengan nada geram. “Bukan kamu yang rugi, tapi dia yang 'boncos' karena kehilangan orang sebaik kamu. Sudah ya, tenang saja. Kalau Mbak ketemu dia lagi, Mbak sambit pakai sepatu!”
Aku mencoba membersit hidung, menghapus jejak ingus yang mulai berleleran. Aku tahu penampilanku saat ini pasti sangat buruk. Wajah sembap, hidung merah, dan mata yang bengkak. Aku sudah tidak peduli lagi dengan tatapan bertanya-tanya dari rekan kantor yang lain. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan adalah tumpah dalam tangis sampai sesak ini hilang.
Namun, ucapan Mbak Citra berikutnya sukses membuat tangisanku berhenti seketika.
“Apa Mbak bilang? Mbak pernah ketemu Huda? Dia sudah balik ke sini?”
Mbak Citra tersentak, dia seolah membeku. Senyumannya menjadi ganjil dan matanya bergerak gelisah mencari alasan. Reaksinya itu sudah cukup menjadi jawaban bagiku. Hatiku yang tadinya berdarah-darah kini terasa seperti diinjak-injak. Ternyata Huda sudah kembali dari penugasannya, dan dia tidak memberitahuku sama sekali.
Air mata yang sempat terhenti kini meluncur kembali. “Sudah, Dit. Ya Allah, sudah! Jangan tangisi pria semprul kayak dia lagi,” Mbak Citra mencoba menarikku. “Inilah kenapa aku nggak mau bilang dari tadi. Jangan sia-siakan air matamu buat manusia kayak dia.”
“Kenapa si Dita, Wi?” tiba-tiba suara Pak Yudi menyahut dari meja sebelah.
“Pacarnya b******k, Pak Yudi!” jawab Mbak Citra tegas.
“Buang saja ke laut kalau b******k, Dit. Jangan nangis, nanti dia malah kesenangan merasa ganteng kalau ditangisi,” timpal Pak Yudi mencoba menghibur.
Bukannya mereda, dukungan dari para senior ini justru membuat tangisanku semakin pecah. Aku merengek seperti anak kecil yang sedang tantrum, melepaskan segala emosi yang menumpuk. Mungkin aku akan terus menangis sampai sore jika saja suara pintu yang dijeblak terbuka tidak mengejutkan kami semua.
“SIAPA INI YANG NANGIS HEBOH KAYAK MIKHA?!”
Seketika aku membungkam bibirku sendiri. Nyaliku menciut melihat sosok tinggi besar yang berdiri di ambang pintu ruang staf. Wajahnya tampan, namun tatapannya tajam memicing seolah bisa menguliti siapa pun yang dia lihat. Pak Camat Baskara Putra Bakti.
Dalam sekejap, ruangan menjadi hening. Kami semua membeku. Pak Camat yang baru menjabat dua bulan ini memang dikenal memiliki dua kepribadian, dia bisa sangat lembut saat bersosialisasi dengan warga, namun berubah menjadi singa jika melihat pegawainya melakukan kesalahan. Aku teringat sebulan lalu saat aku salah menginput data administrasi tahunan, dia mengomeliku habis-habisan tentang profesionalitas dan tanggung jawab abdi negara seolah-olah aku baru saja melakukan korupsi besar-besaran.
Dan sekarang, tangisanku yang heboh telah memicu murkanya. Dia menatapku dingin saat sesenggukanku masih sulit kukendalikan. Aku sudah pasrah, siap mendengarkan omelan panjangnya lagi. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
“Nandita, cuci muka dan lap ingusmu sekarang. Saya mau ajak kalian semua makan di luar.”
***
Gurame asam manis, ayam goreng mentega, sup buntut, hingga iga bakar tersaji melimpah di hadapanku. Biasanya, melihat makanan selezat ini akan membuat air liurku menetes, tapi kali ini semuanya tampak hambar. Patah hati sukses melumpuhkan nafsu makanku. Di saat rekan-rekan senior yang lain sibuk meraih lauk, aku hanya duduk bengong seperti ayam sakit.
Energiku terserap habis hanya untuk memikirkan kenapa Huda begitu tega. Ibarat kata, dia sudah masuk ke rumahku baik-baik, tapi sekarang dia lari lewat pintu belakang seperti maling.
“Wah, Pak Baskara, sering-sering ya Pak ngajak kita makan di luar begini,” celetuk Pak Abdul sambil mengunyah ayam bakar.
“Hush, ngelunjak kamu, Pak Abdul!” tegur Bu Murtini sambil tertawa. “Terima kasih banyak ya Pak Baskara, sudah membantu perbaikan gizi kami, apalagi buat yang honorer macam saya.”
Ucapan terima kasih mengalir dari rekan-rekanku. Aku ikut menunduk, memberikan hormat dan menunjukkan rasa terima kasih meskipun piringku belum tersentuh sama sekali. Sebenarnya Pak Baskara memang perhatian, meskipun galaknya minta ampun. Dia sering memesankan nasi boks atau kopi untuk kami saat lembur. Tuhan memang adil, kekejamannya berbanding lurus dengan perhatiannya.
“Syukur jika kalian tidak keberatan,” suara berat Pak Baskara terdengar diplomatis. “Saya hanya ingin keakraban di antara kita semakin terjalin. Kita bekerja bukan sekadar atasan dan bawahan, tapi sebagai keluarga.”
Semua orang berdecak kagum. Pak Baskara memang punya pesona duda yang sulit ditolak—wajah tampan, karier oke, dan suara yang berwibawa. Tapi bagiku, pesonanya tertutup oleh sikap diktatornya.
“Tapi sepertinya ada yang kurang berkenan dengan cara saya mengakrabkan diri,” tiba-tiba nada suaranya berubah sinis. Radar penyelamatan diriku aktif saat Mbak Citra menyenggol pahaku.
“Nandita, sepertinya kamu keberatan sekali duduk di sini? Terganggu karena acara nangismu saya interupsi?” Pak Baskara menatapku tajam. “Kalau keberatan, silakan lanjutkan nangisnya di sini daripada bikin yang lain nggak nafsu makan lihat kamu bengong kayak ayam mau bertelur.”
Wajahku memerah padam. Malu sekaligus kesal. “Nandita jangan digodain dong, Pak. Kasihan, baru saja disakiti pacarnya,” bela Pak Abdul sambil tergelak, yang justru membuatku semakin ingin menghilang dari sana.
Aku hanya bisa mengulum senyum paksa, menghindari tatapan Pak Baskara yang rasanya seperti belati yang menguliti pikiranku. Di tengah usaha mengalihkan pandangan, sebuah motor sport pria memasuki halaman parkir restoran. Mataku menyipit mengenali kendaraan yang sangat tidak asing itu.
Jantungku mulai berdegup kencang. Meskipun sudah hampir satu tahun tidak bertemu langsung, aku sangat hafal dengan postur tubuh tinggi yang kini semakin berisi dengan otot terlatih itu. Saat si pengendara melepas helm full face-nya, duniaku rasanya berhenti berputar.
Huda. Dia benar-benar ada di sini, hanya berjarak beberapa meter dariku. Dia tampak matang dan gagah dengan seragam kebanggaannya. Namun, yang membuat dadaku seperti dihantam palu godam adalah sosok di belakangnya. Seorang wanita dengan seragam perawat putih turun dari motor, menatap Huda dengan senyuman bangga yang sangat lebar. Senyuman yang kemudian dibalas Huda dengan tatapan yang sangat manis—tatapan yang dulu hanya milikku.
Dunia seakan hanya milik mereka berdua, sementara aku berdiri di sini dengan luka yang masih menganga lebar. Pria semprul itu benar-benar tidak tahu diri.
“Mau ke mana kamu, Dit?” tanya Pak Abdul saat melihatku tiba-tiba berdiri.
Aku mengabaikan semua orang di saung restoran itu. Rasa sakit ini harus mendapat balasan. Tidak akan kulewatkan kesempatan untuk menghajar Huda mumpung dia ada di depan mata.
“Mau giling kadal darat jadi bakso dulu, Pak!” jawabku ketus sambil melangkah lebar menuju parkiran.