Bab 2. Di Bawah Bayang-Bayang Masa Lalu

1177 Words
"Mbak Prita, berkas laporan keuangan lima tahun terakhir dan draf aset yang mau dialihkan sudah siap semua? Pak Indra sudah menanyakan itu sejak setengah jam yang lalu," suara Erina, rekan sesama sekretaris, memecah fokus Prita yang sedang menatap layar monitor. Prita Nafisa Haura—yang kini di kantor lebih dikenal dengan nama Nafisa—mendongak. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang memikat. "Sudah, Mbak Er. Ini baru saja selesai aku cetak dan susun rapi. Tinggal dibawa ke ruang rapat utama," jawab Prita tenang. Erina sempat terpaku sesaat menatap Prita. Meskipun sudah dua tahun mereka bekerja bersama di perusahaan ritel besar di Jakarta ini, Erina terkadang masih kagum melihat fisik Prita. Di usianya yang menginjak 27 tahun, Prita adalah definisi wanita karier yang sempurna. Tubuhnya sintal proporsional, ramping, dan anggun dibalut blazer kerja berwarna navy blue. Wajahnya yang dulu kusam, kini bersih bersinar dengan riasan natural tanpa kacamata tebal yang dulu selalu membingkai matanya—ia sudah lama beralih ke lensa kontak. Tidak ada yang tahu bahwa di balik penampilan berkelas bak model papan atas ini, Prita adalah seorang ibu tunggal yang tangguh. Setiap malam, setelah melepas status profesionalnya, ia adalah ibu dari Kenzi, bocah laki-laki berusia empat tahun yang sangat tampan dan cerdas, yang ia titipkan pada ibunya, Hasna, di rumah kontrakan mereka yang nyaman. "Eh, Mbak Prit .. maksudku Mbak Nafisa," Erina mendekat, berbisik dengan raut wajah kepo. "Kamu benar-benar tidak tahu siapa bos besar yang membeli saham mayoritas perusahaan kita? Hari ini 'kan penandatanganan resmi akuisisinya." Prita menggeleng perlahan sambil merapikan tumpukan kertas di tangannya. "Aku tidak tahu, Mbak Er. Benaran. Yang tahu detailnya cuma Pak Indra dan jajaran direksi lain. Aku 'kan tidak pernah diajak ikut pertemuan pra-akuisisi kemarin-kemarin." "Ih, kok bisa sih? Kamu 'kan sekretaris Presdir! Harusnya kamu yang paling tahu jadwal Pak Indra," gerutu Erina penasaran. "Pak Indra sengaja pakai tim hukum eksternal untuk urusan ini, Mbak Er. Aku cuma diminta menyiapkan dokumen internal saja. Siapa pun pemilik barunya, tugas kita tetap sama: bekerja dengan baik," sahut Prita mencoba bersikap bijak, walau entah mengapa, sejak pagi tadi dadanya terasa sedikit berdebar tidak tenang. Tepat pukul 09.45 WIB, interkom di meja Prita berbunyi. "Nafisa, tolong ke ruangan saya sekarang. Bawa berkasnya," suara Pak Indra, sang Presdir, terdengar dari seberang telepon. "Baik, Pak. Segera ke sana." Prita bergegas bangkit, menyambar map tebal berkulit jidat hitam, lalu melangkah menuju ruangan bosnya. Begitu pintu dibuka, Pak Indra tampak sudah rapi dengan jas formalnya, sedang mematut diri di cermin kecil. "Dokumennya sudah lengkap, Nafisa?" tanya Pak Indra langsung. "Sudah semua, Pak. Tinggal ditandatangani oleh kedua belah pihak di ruang *meeting* utama jam sepuluh nanti." Pak Indra mengangguk puas, lalu melihat jam tangannya. "Bagus. Sekarang jam sepuluh kurang sepuluh menit. Ayo, temani saya turun ke lobi utama. Kita sambut pemilik baru perusahaan ini. Mereka sangat tepat waktu, jadi kita harus sudah berdiri di sana sebelum mobil mereka merapat." "Saya ikut turun ke lobi juga, Pak?" Prita memastikan. "Tentu saja. Kamu sekretaris saya, kamu harus tahu bagaimana menyambut tamu VIP. Ayo." *** Lobi utama gedung perkantoran di kawasan Sudirman itu tampak megah dan luas. Pendingin ruangan berembus pelan, namun entah mengapa, Prita merasa udara di sekitarnya mendadak mendingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia meremas map di dadanya, mencoba mengusir rasa cemas yang tiba-tiba datang tanpa alasan. Kitrr ... Pintu kaca otomatis lobi terbuka lebar. Suara ketukan sepatu pantofel yang tegas bergaung di atas lantai marmer yang mengilat. Prita menoleh ke arah pintu. Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di parunya seolah tersedot habis. Seluruh dunianya mendadak berhenti berputar. Dari arah pintu, melangkah seorang pria bertubuh tegap, jangkung, dengan setelan jas abu-abu gelap berpotongan mahal yang sangat pas di tubuhnya. Garis rahangnya yang tegas, tatapan matanya yang elang dan tajam, serta aura arogansi yang begitu pekat ... Prita tidak akan pernah bisa melupakannya sampai mati. "Mas Faiz ...," batin Prita menjerit. Suaranya tercekat di tenggorokan. Di sebelah pria itu, berjalan seorang pria lain yang tampak sibuk memegang gawai dan beberapa dokumen. Itu Ghani, asisten pribadi Faiz yang dulu sangat akrab dan sering bersikap ramah pada Prita saat ia masih menjadi istri tertindas di Surabaya. "Selamat pagi, Pak Faiz! Selamat datang di kantor kami," Pak Indra langsung melangkah maju dengan senyum lebar, mengulurkan tangannya dengan penuh rasa hormat. Faiz Qadir Zahir, 35 tahun, menghentikan langkahnya. Ia menyambut uluran tangan Pak Indra dengan anggukan formal yang kaku. "Selamat pagi, Pak Indra. Terima kasih sambutannya." Suara bariton itu ... suara yang lima tahun lalu menjatuhkan talak kejam di hari ulang tahun pernikahan mereka, kini kembali berdengung di telinga Prita. Prita membeku di tempatnya berdiri, tepat dua langkah di belakang Pak Indra. Jari-jarinya yang mencengkeram map sampai memutih. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ketakutan terbesar dalam hidupnya mendadak menjadi kenyataan. "Bagaimana kalau Mas Faiz tahu? Bagaimana kalau dia merebut Kenzi?" "Pak Faiz, perkenalkan, ini sekretaris pribadi saya yang menyiapkan semua dokumen internal untuk Anda hari ini. Namanya Nafisa," ucap Pak Indra sambil menoleh, memberi isyarat agar Prita maju mendekat. Prita menahan napas. Rasanya ia ingin lari dan menghilang saat itu juga. Namun, kaki-kakinya dipaksa untuk melangkah maju. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah pria yang pernah menjadi suaminya. Mata tajam Faiz beralih, menatap Prita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu dingin, penuh selidik, seperti biasa. Namun, tidak ada riak keterkejutan di sana. Tatapan Faiz murni tatapan seorang bos besar yang sedang menilai penampilan bawahannya. "Nafisa, Pak," suara Prita keluar, sedikit bergetar namun berhasil ia samarkan dengan nada formal yang manis. Ia mengulurkan tangannya, bertaruh dengan nasib. Faiz menjabat tangan Prita sekilas. Genggamannya hangat namun terasa begitu menjauhkan. "Faiz Qadir Zahir." Prita melirik ke arah Ghani yang berdiri di belakang Faiz. Ghani pun hanya tersenyum sopan, mengangguk memberi salam layaknya pada rekan bisnis baru. Prita bernapas lega di dalam hati, walau dadanya masih bergemuruh hebat. "Mereka benar-benar tidak mengenaliku," batin Prita bersyukur. Perubahan fisiknya yang drastis—tubuhnya yang kini ideal, wajahnya yang terawat, dan hilangnya kacamata tebal serta pergantian namanya menjadi Nafisa—telah menjadi tameng sempurna. Bagi Faiz dan Ghani, wanita di hadapan mereka saat ini adalah orang asing yang sama sekali berbeda dengan Prita yang "gendut dan kusam" lima tahun lalu di Surabaya. "Senang bertemu dengan Anda, Pak Faiz. Mari, saya antar ke ruang rapat utama. Segala dokumennya sudah siap," ujar Prita sesempurna mungkin, berusaha menguasai emosinya yang campur aduk. "Silakan, pimpin jalannya," sahut Faiz pendek, suaranya terdengar tidak sabaran. Selama berjalan menuju lift khusus direksi, ketegangan di dalam lift terasa begitu mencekik bagi Prita. Ia berdiri di sudut, sementara Faiz dan Pak Indra terlibat obrolan kecil tentang kondisi lalu lintas Jakarta. "Grup Zahir ingin ekspansi ini berjalan cepat, Pak Indra. Saya tidak suka menunda-nunda waktu untuk urusan birokrasi internal," kata Faiz dingin sambil merapikan jam tangan rolex-nya. "Tentu, Pak Faiz. Tim kami sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang. Nafisa ini yang mengurus seluruh drafnya, pengerjaannya sangat rapi," puji Pak Indra, berniat mengambil hati owner barunya. Faiz melirik Prita lewat pantulan dinding lift yang seperti cermin. "Oh, ya? Kita lihat saja nanti di ruang rapat, apakah kinerjanya sepadan dengan pujian Anda, Pak Indra."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD