Jason duduk di samping Gianna, bahunya menempel ringan pada kursi kulit mobil yang terasa dingin. Pandangannya lurus ke depan, menatap ke arah jalan yang masih diselimuti kabut malam. Di tangannya, jemari panjangnya mengepal pelan, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar lelah.
“Jalankan mobilnya sekarang, Romeo,” ucap Jason datar tapi tegas, matanya masih tak beralih.
“Baik, Signor. Ke Tuscany?” tanya Romeo, memastikan.
Jason mengangguk perlahan. “Kamu sudah tahu itu,” balasnya dengan nada dingin.
Suasana di dalam mobil terasa tegang dan sunyi. Hanya suara mesin yang bergemuruh lembut, menyertai langkah besar mereka menuju daerah pedesaan yang tenang, Tuscany, tempat yang sudah lama Jason siapkan untuk memindahkan Gianna jauh dari semua urusan kotor dan intrik berbahaya yang menyelimuti hidupnya.
Gianna menoleh sekilas ke arah Jason, melihat wajahnya yang kaku dan mata yang tampak sayu namun tetap tajam. Ia ingin bertanya, tapi menahan diri. Di kepalanya, ribuan pertanyaan berputar, kenapa Tuscany? Kenapa dia harus dijauhkan?
Jason memejamkan mata sesaat, menegakkan kepala dan menarik napas dalam. Dalam pikirannya, hanya satu tujuan, menjaga Gianna dari bahaya, tapi juga menjauhkannya dari sisi dirinya yang gelap. 'Tuscany adalah awal dari segalanya, pikirnya dalam diam.' Awal dari rencana yang belum sepenuhnya ingin ia ungkap.
Kepala Gianna dipenuhi oleh pertanyaan yang berputar-putar tanpa henti. Sejak tadi mobil melaju menembus malam, namun tak satu pun kata keluar dari mulut Jason. Ia menatap bayangan wajah pria itu di jendela mobil, tampak tegas namun menyimpan sesuatu yang tak bisa ia tebak.
Kenapa harus pindah malam ini juga? Kenapa ke Tuscany? Apa ada bahaya yang mengintai? Atau ada urusan lain yang belum diketahuinya? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung, membuat dadanya sesak oleh rasa ingin tahu dan cemas sekaligus.
Akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara, meski suaranya terdengar pelan.
“Signor, sebenarnya kenapa kita harus pindah ke Tuscany? Aku sudah mulai beradaptasi dengan Sisilia…”
Tak ada jawaban. Hanya suara mesin mobil yang berderu lembut dan detak jam di dashboard yang terasa lambat.
Gianna menoleh perlahan. Di sampingnya, Jason tampak bersandar tenang di kursinya, mata terpejam, napasnya teratur dan dalam. Wajah dingin itu kini terlihat sedikit berbeda, lebih manusiawi, lebih lelah.
Gianna terdiam, menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Dalam diam, ia menyadari satu hal, di balik ketegasan dan kekuasaan yang dimiliki pria itu, tersimpan beban besar yang tak ia mengerti. Ia ingin tahu… tapi malam itu, ia hanya bisa memandanginya dalam sunyi, di antara perjalanan panjang menuju misteri baru bernama Tuscany.
Tatapan Gianna yang semula tertuju pada jendela kini beralih ke arah Romeo yang duduk tenang di kursi kemudi. Wajah pria itu tampak lebih ramah dibanding Jason, meski tetap menyimpan wibawa khas orang-orang yang bekerja di bawah perintah seorang Signor besar. Ada sesuatu pada sikap Romeo yang terasa lebih manusiawi, seolah dia bukan hanya pelayan, tapi juga orang yang memahami situasi di sekitarnya.
Romeo yang masih fokus pada jalanan rupanya menangkap arah pandangan Gianna. Suaranya terdengar pelan namun tetap tegas. “Signora, semua ini dilakukan untuk menjaga Anda.”
Gianna spontan menatapnya dengan dahi berkerut. “Menjaga aku? Dari apa?” tanyanya penuh kebingungan.
Romeo menjawab dengan nada halus tapi sedikit dingin. “Signor mungkin akan menjelaskan itu langsung kepada Anda nanti, Signora. Tapi sepertinya beliau kelelahan saat ini.”
Romeo kembali fokus ke jalan, sementara Gianna hanya bisa terdiam. Kata-kata itu justru menambah rasa penasaran dalam dirinya. Menjaga dari apa? Siapa yang sebenarnya mengancam dirinya hingga mereka harus pindah mendadak ke Tuscany malam ini?
Ia menatap Jason lagi, wajah itu tampak tenang, tapi ada garis-garis letih di sana. Ada sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang lebih besar dari sekadar urusan pindah rumah. Dan Gianna tahu, cepat atau lambat, ia akan mengetahui semuanya.
Perjalanan menuju Tuscany terasa begitu panjang dan sunyi. Lampu jalan hanya sesekali menampakkan sinarnya di tengah gelapnya malam yang semakin pekat. Di kursi belakang, Gianna duduk diam, menatap keluar jendela sambil sesekali menghela napas. Suara mesin mobil yang stabil berpadu dengan deru angin menjadi satu-satunya irama yang menemani mereka.
Romeo tetap mengemudi dengan tenang dan cepat, matanya fokus ke jalan, seolah terbiasa dengan perjalanan malam sejauh ini. Namun di sisi lain, tubuh Jason tampak mulai kehilangan kekuatannya. Gerakannya melambat, lalu perlahan, kepala kokohnya miring dan jatuh bersandar di bahu Gianna.
Gianna sontak terkejut. Bahunya menegang, matanya membulat menatap pria itu yang tampak begitu tenang dalam tidurnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Aroma parfum Jason yang maskulin, elegan, dan tajam menyergap penciumannya, menimbulkan sensasi aneh yang tak bisa ia jelaskan.
Ia ingin menjauh, tapi tubuhnya seolah tak sanggup bergerak. Ada perasaan halus yang menahan, membuatnya justru tetap diam membiarkan Jason bersandar di sana. Pandangannya menurun, memperhatikan rahang tegas dan alis pria itu yang tampak lembut di bawah cahaya remang.
Gianna menarik napas pelan. Entah mengapa, rasa kantuk mulai datang, tapi matanya tak mau terpejam. Ada sesuatu di dadanya yang bergetar halus antara canggung, bingung, dan... hangat. Malam itu, dalam diam dan jarak yang tak disengaja, ia menyadari sesuatu sedang berubah tanpa ia pahami sepenuhnya.
Mobil berhenti perlahan di depan sebuah mansion besar yang berdiri megah di tengah hamparan kebun anggur yang seolah tak berujung. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan masuk memantulkan cahaya lembut ke dedaunan, menimbulkan kesan hangat sekaligus misterius. Udara Tuscany terasa segar menusuk hidung, membawa aroma tanah basah dan bunga yang baru mekar setelah hujan sore tadi.
Gianna menatap keluar jendela, terpukau oleh pemandangan yang begitu indah namun asing baginya. Ketika ia hendak membangunkan Jason, pria itu sudah lebih dulu membuka matanya, seolah instingnya selalu terjaga. “Kita sudah tiba?” Suaranya serak tapi tegas.
“Ya, Signor,” jawab Romeo dengan sopan. “Untuk barang-barang lainnya yang mungkin diperlukan di sini, akan saya bawakan besok, Signor.” Ia tahu Jason datang dengan tangan kosong setelah langsung kembali dari Palermo.
Jason mengangguk pelan, menatap sekeliling lewat kaca. “Baik, aku akan kirimkan pesan padamu nanti. Ada beberapa hal yang perlu kamu ambil dari Sisilia.”
“Siap, Signor,” balas Romeo singkat. Ia pun turun, membuka pintu untuk Jason, lalu melangkah ke sisi lain membukakan pintu untuk Gianna.
Gianna keluar perlahan, mengangkat sedikit gaun malam yang ia kenakan. Angin malam menyapa wajahnya, membuatnya menggigil halus. Ia mendongak menatap mansion besar berarsitektur klasik itu, tinggi, kokoh, tapi terasa dingin dan sunyi, seolah menyimpan banyak rahasia.
Jason berdiri di sampingnya tanpa berkata apa pun. Hanya suara langkah mereka berdua yang terdengar di antara semilir angin kebun anggur yang mengelilingi tempat itu.
Jason melangkah masuk ke dalam mansion yang luas dan tenang itu, disambut aroma khas kayu tua bercampur wangi mawar yang lembut. Lampu-lampu gantung berkilau lembut, memantulkan bayangan hangat di dinding batu.
Dari arah tangga besar di tengah ruangan, seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri mereka dengan langkah tenang. Wajahnya sekilas mengingatkan Gianna pada Grace, hanya saja dengan garis-garis halus usia di sekitar mata dan senyum yang tampak lebih lembut.
“Malam, Signor dan Signora. Apakah ada yang perlu saya siapkan untuk Anda berdua?” sapanya sopan sambil menundukkan kepala hormat.
Gianna berdiri agak kaku, matanya menatap heran ke arah wanita itu, merasa seperti melihat bayangan masa lalu Grace di usia yang lebih matang. Jason menoleh sedikit ke arah Gianna, lalu kembali fokus pada sang pelayan.
“Matilda, apakah kamu sudah menyiapkan dua kamar seperti yang kuinstruksikan sebelumnya?” tanyanya dengan suara tenang namun penuh wibawa.
“Sudah, Signor,” jawab Matilda cepat. “Kamar untuk Anda sudah siap di ruang utama, di sisi kanan koridor atas. Sedangkan kamar untuk Signora terletak tepat di sampingnya. Semua sudah disiapkan, pakaian malam, handuk hangat, dan perlengkapan pribadi.”
Jason mengangguk singkat. “Baik. Pastikan tidak ada yang mengganggu malam ini.”
“Seperti perintah Anda, Signor,” balas Matilda, lalu membungkuk hormat sebelum beranjak pergi.
Gianna menatap Jason, ingin bertanya kenapa mereka harus menempati kamar terpisah. Namun tatapan dingin pria itu menahan semua kata di ujung lidahnya. Ia hanya mengikuti langkah Jason menaiki tangga, sementara pikirannya terus bertanya, kenapa hati kecilnya justru terasa sepi mendengar kata dua kamar.
Lorong panjang di lantai atas mansion itu diterangi cahaya lembut dari lampu dinding berwarna kuning keemasan. Langkah Jason terdengar mantap di atas lantai marmer, sementara Gianna berjalan beberapa langkah di belakangnya, menggenggam ujung gaunnya yang menjuntai agar tidak terinjak. Suasana malam begitu hening, hanya terdengar detak jam tua di ujung koridor dan desir angin yang menembus celah jendela.
“Ini sudah malam,” ucap Jason tanpa menoleh, suaranya dalam dan tegas. “Sebaiknya kamu juga beristirahat.”
Gianna hanya mengangguk pelan, tak tahu harus membalas apa. Ia merasa seperti sedang berjalan di sisi bayangan yang tak bisa ditembus, pria itu begitu misterius dan dingin. Mereka berhenti di depan dua pintu yang bersebelahan. Jason menoleh sebentar, menatap Gianna dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit ditebak antara menilai, memperingatkan, atau mungkin menahan sesuatu.
“Ingat tugasmu sebagai istri,” katanya perlahan namun jelas, nada suaranya membuat jantung Gianna berdegup kencang. “Bersiaplah untuk itu. Sewaktu-waktu… aku akan datang ke kamarmu.”
Selesai mengucapkan itu, Jason membuka pintu kamarnya dan masuk tanpa menoleh lagi. Suara pintu tertutup rapat bergema lembut di sepanjang koridor.
Gianna berdiri diam di tempat, tubuhnya kaku seperti patung. Kata-kata Jason terus terulang di kepalanya.
“Sewaktu-waktu aku akan datang ke kamarmu.”
Napasnya tersengal, bukan karena takut semata, melainkan karena campuran rasa penasaran dan cemas yang tak mampu ia pahami.