Tanisha melihat jam yang ada di tangannya, hari tampak sudah mendung. Sudah beberapa hari ini hujan selalu turun di sore hari, dan angin pun cukup kencang.
"Cha, lu pulang di jemput bokap lu?" tanya Linda yang sudah bersiap akan pulang dengan motor maticnya.
"Kagak tau, bokap gua gak ada kabar," balasnya.
"Ya udah mau bareng gua aja gak?" tawarnya.
Tanisha segera menggelengkan kepalanya cepat. "Kagak, kasian elu. Kan kita gak searah, mana udah mau hujan lagi," tolak Tanisha tidak tega.
"Yaelah bukan sampe rumah, noh sampe sana. Kan kalau di sana lu bisa naik bis kota," kekeh Linda.
"Sialan lu, gua kira lu mau nganterin gua sampe rumah. Gua udah terharu aja punya temen baik bener," ocehnya.
Linda tertawa pelan, "Gua kagak bisa nganter lu, emak gua udah nelponin gua di suruh pulang. Gak tau dah mau apa," jelasnya.
Tanisha mengangguk pelan, "Buruan lu mau ikut kagak sampe sana?"
Tanisha menoleh sebentar ke arag pertiga yang tidak jauh dari tempat mereka. "Boleh deh, lumayan juga, gak harus jalan kaki kan gua."
"Nah pinter, buruan naik udah mendung ini!" Tanisha pun segera naik ke motor Linda, dengan kecepatan penuh dua gadis itu melaju menuju pertiga di mana Tanisha akan menunggu bis kota.
"Ok sampe." Tanisha langsung turun dari motor Linda. "Cha lu jangan nangkrin pas di lampu merah ya, nanti takutnya lu di sangka open BO," tawa Linda.
"Sialan lu Linda, dah sono lu cepet balik. Siapa tau aja lu di suruh cepet pulang mau di kawinin sama juragan sapi!" Kini giliran Tanisha yang tertawa.
"Biarin, yang duit sama goyangannya say, hahaha," ucap Linda sambil tertawa. "Udahlah gua balik dulu, hati-hati ya Cha," pamit Linda.
"Dasar otaknya duit mulu, hati-hati lu juga Lin. Thanks ya..." Linda menyalakan klakson tanda membalas ucapan Tanisha.
Tanisha berjalan menuju halte bis kota, di mana dia akan menunggu angkutan umum. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi ojek online berniat untuk memesan ojek.
"Siapa tau dapet diskon," kekehnya. "Dari pada nunggu bis masih lama," sambungnya.
Jemarinya pun dengan sangat lihai menari di layar ponselnya. Namun, bibirnya melengkung saat melihat tarif yang tidak bersahabat, di tambah tidak ada diskon.
"Yah kok mahal amat sih?" keluhnya, ia pun memasukan ponselnya ke dalam tas dan memutuskan menunggu bis kota saja.
Tidak lama dari sana, sebuah mobil Hyundai Ioniq berhenti tepat di depan Tanisha. Keningnya mengernyit, menatap mobil yang tidak asing di matanya. Jendela mobil terbuka, tampaklah seorang pria dewasa menyapanya.
"Cha ngapain di situ?" tanya Sabda.
"Nunggu bis kota om, om ngapain di dalam mobil?"
Sabda melongo mendengar pertanyaan Tanisha, tentu saja dia sedang menyetir. "Om di dalam mobil ngadem, ya nyetirlah Cha. Mau bareng gak pulangnya?" tawar Sabda sambil terkekeh pelan.
Pipi Tanisha berubah agak merah, benar juga apa kata Sabda. Ngapain juga dia tanya ngapain di dalam mobil?
"Hmm nanti ngerepotin om," ucapnya basa-basi.
"Iya juga sih, kalau gitu gak jadi deh. Om duluan," ucap Sabda membuat mulut Tanisha menganga. "Canda Cha, ayo cepet masuk. Bentar lagi hujan, kamu takut sama petir kan?"
Mata Tanisha berputar 180° derajat sambil berdecak kesal. "Om yang bener dong, jangan bikin Icha gak enak," tutur Tanisha.
"Canda doang Cha, ayo cepet masuk. Mau om bukain pintunya?" tawar Sabda yang hendak turun dari mobil.
Tanisha langsung berdiri dari tempat duduknya. "Gak usah om, bisa sendiri kok," ucapnya, langsung membuka pintu mobil Sabda.
Mata Tanisha langsung mengitari dalam mobilnya. "Kenapa? Gak suka sama mobilnya?" tanya Sabda.
"Sebaliknya aku suka banget malah sama mobil om ini. Nyuruh papah beli mobil ini, dia gak mau," jelas Tanisha.
"Oh, pake seat beltnya Cha," titah Sabda.
Saat Tanisha akan memakai seat beltnya, entah kenapa dia merasa kesulitan. "Om ini gimana sih?" tanya Tanisha.
Sabda langsung menoleh ke arah Tanisha, tubuhnya mendekat ke arahnya untuk membantu Tanisha memakai seat belt.
"Kaya gini Cha." Sabda menarik tali seat belt, dan tanpa sengaja saat Tanisha menoleh ke arah Sabda, tatapan mereka bertemu dengan jarak amat sangat dekat.
Deruan napas Sabda pun bisa Tanisha rasakan. Aroma parfum yang menyeruak masuk ke hidungnya, membuat Tanisha seolah menahan napas saat jarak mereka begitu sangat dekat.
Sialnya Sabda tidak langsung beranjak dari sana. Ia menatap lekat ke arah Tanisha, dan sempat melihat ke arah bibirnya yang mungil.
"Kaya gini caranya Cha," ucap Sabda dengan sedikit mendekatkan wajahnya. Dan bodohnya Tanisha memejamkan matanya.
Klik
Terdengar suara seat belt telah masuk. Mata Tanisha reflek terbuka, dan ia mendapati Sabda yang masih tetap menatapnya.
"Gak usah merem juga Cha," ujarnya sambil senyum tipis.
Tin... Tin...
Terdengar suara klakson dari bis yang akan parkir. Sabda pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tanisha segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, setelah ia menahan napas beberapa detik karena ulah Sabda.
Di dalam perjalanan Tanisha masih mengontrol jantungnya yang berdetak tidak karuan, itu semua akibat Sabda. Perjaka tua yang ternyata agak nakal.
Pikiran kotor itu terus berputar-putar di kepalanya. Sampai ia menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
"Kenapa Cha? Pusing?" tanya Sabda.
"Hah? Oh iya om dikit," jawabnya asal, padahal dia tidak merasakan pusing atau apapun.
"Ya udah nanti mampir apotek dulu, beli obat. Udah makan belum?" tanya Sabda lagi.
Karena otak Tanisha belum sepenuhnya pulih, ia menggelengkan kepalanya. "Astaga, pantesan aja. Itu kamu pasti telat makan makanya jadi pusing gitu kan?"
Tanisha mengerjapkan matanya, ingin menarik lagi ucapannya. Namun, Tanisha belum sanggup banyak berbicara, pada akhirnya membiarkan Sabda menyangka dirinya belum makan.
Mobil Sabda berhenti di sebuah resto yang cukup terkenal. Di sana lebih banyak anak muda karena tempatnya aesthetic.
"Loh om kok kita ke sini?" tanya Tanisha.
"Kamu belum makan kan? Kita makan dulu," ucap Sabda sambil memarkirkan mobilnya.
"Eh gak usah om, aku makan di rumah aja," tolak Tanisha.
"Gak apa-apa, sekalian sama saya juga makan," ucapnya. "Bisa buka seat beltnya?" tanya Sabda sambil melihat ke arag seat belt Tanisha.
"Oh bisa om." Untung kali ini Tanisha bisa membuka seat beltnya. Mereka berdua pun masuk ke dalam, beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka.
Tanisha merasa kalau penampilan mereka ada yang aneh, sampai ia melihat penampilannya sendiri dari atas sampai bawah, tidak ada yang aneh menurutnya.
"Lihat itu cowo, ya Allah tipe gua banget. Pria matang dan juga mapan."
"Itu yang di sebelahnya siapa ya? Pacarnya? Atau sugar babynya?"
"Simpenan kali, tapi wajahnya polos."
"Sekarang banyak wajah polos tapi menusuk!"
Tanisha mengerjapkan matanya, bisa-bisanya dia di sebut sebagai pelakor. Tanisha langsung menatap tajam ke arah orang yang membicarakannya. Sontak tiga orang itu langsung mengalihkan tatapan mereka.
"Icha, mau pesan apa?" tanya Sabda yang sudah berada di kasir.
Tanisha pun segara berjalan menghampiri Sabda. "Di sini yang best sellernya apa?"
"Ayam taliwang ka," ucapnya.
"Ya udah itu aja," jawab Tanisha.
Sabda langsung menoleh, "Kamu suka pedes emang?"
Tanisha langsung menganggukkan kepalanya. "Suka kok om, minumnya smoothies strawberry aja," paparnya dengan mata masih menoleh ke arah 3 perempuan yang membicarakannya.
Setelah memesan, mereka berdua memilih tempat duduk di pojokan, dengan kaca besar di sebelahnya.
"Duduk di sini aja?" Tanisha hanga menganggukan kepalanya.
Mereka berdua duduk sambil menunggu makanan. "Kamu kuliah di mana?"
"Di kampus Gratama om," jawabnya.
"Jurusan?"
"Ekonomi."
"Semester?"
"4 om."
"Oh bagus, IPK?"
Tanisha mengernyitkan keningnya, ia sedikit agak heran dengan pertanyaan detail Sabda. "Kenapa om? Kok nanyanya detail banget?"
"Biar ada topik aja," kekehnya.
Tanisha berdecak kesal, padahal di dalam pikirannya. Menyangka Sabda ingin tahu kapan dia lulus lalu melamarnya, ternyata semua itu ekspektasi.
"Oh, kirain."
"Kamu kira apa?"
"Gak ada om, ya siapa tau aja mau di pekerjakan di perusahaan om," paparnya.
"Emangnya papah kamu gak mau kasih pekerjaan?"
"Gak gitu juga sih om, tapi ya gak—"
"Sabda."
Bersambung...