Sabda sudah memakai seat belt, tangannya pun menggenggam seat belt itu dengan erat. Tanisha dengan pengalaman yang minim, mencoba melajukan mobil Sabda.
"Ayo Icha lu pasti bisa!" gumam pelan.
Perlahan mobil Sabda pun keluar dari parkiran restoran, dengan meninggalkan Raisa sendiri di sana. Tanisha menelan salivanya dengan susah payah. Keringat kecil keluar dari pelipisnya, padahal AC mobil itu di nyalakan, tapi Tanisha masih saja berkeringat.
Tanisha melajukan mobil Sabda perlahan. Sabda menarik napasnya dalam-dalam, kalau begini caranya gimana mau cepat sampai di rumah sakit dan bisa terselamatkan.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Sabda memegang tangan Tanisha. Gadis itu pun menoleh ke arahnya, "Diem om, aku lagi fokus liat jalan, takutnya nanti kita ketabrak!"
Fokus sih harus, tapi masalahnya sejak tadi kita di klaksok sama pengendara yang lain, karena Tanisha melajukan mobilnya terlalu lambat.
"Cha, biar saya saja. Kamu pinggirkan mobilnya," ucap Sabda tidak mau mengambil resikonya lebih tinggi.
"Tapi om, om napas aja udah kaya mau sakaratul maut gitu. Gimana mau nyetir om?"
Sabda mendesah pelan, kenapa mulut anak sahabatnya ini begitu ceplas-ceplos. Walaupun Sabda hampir setengah mati. Tapi ia tetap masih bisa bernapas, walaupun dengan susah payah.
"Sembarangan kamu! Doain saya mati? Cepat awas!!" titah Sabda yang sudah membuka seat beltnya.
Namun, Tanisha tetal menolak, ia tidak tega dengan kondisi Sabda. "Udah om pasang lagi, Icha bakal ngebut biar om cepet Sampai!"
Mata Sabda melebar sempurna, seolah ia sedang mengantarkan dirinya pada malaikat maut detik juga. "Cha jangan Cha, om masih mau hidup!" Tolak Sabda.
"Udah deh om, mending nurut aja. Pegangan!" peringat Tanisha yang menambahkan kecepatan laju mobilnya.
Segera Sabda memakai seat belt nya kembali. Kali ini dia benar-benar seperti mempertaruhkan nyawanya pada Tanisha. Gadis gila yang baru ia temui lagi kemarin.
"Cha, awas Cha! Kamu kalau mau belok pencet tombol ritingnya astaga!" Oceh Sabda frustasi.
Tanisha sontak panik, yang mana tombolnya? Mobilnya ayahnya dengan mobil Sabda benar-benar berbeda.
"Di mana om tombolnya?"
"Itu di belakang setir!"
Mata Tanisha yang fokus pada jalan, akhirnya asal memencet saja. " Astaga kenapa wiper yang kamu pencet Icha!" Sabda benar-benar sangat frustasi melihat kelakuan Tanisha.
"Maaf om, Icha salah pencet tombol." Hingga akhirnya Tanisha menemukan tombol riting. Kini lampu sein kanan pun telah kelap-kelip, namun Tanisha tetap saja mendapatkan teguran dari pengendara lain dengan klakson.
Akhirnya Tanisha membuka kaca jendela, ia meminta maaf atas kekacauan yang dia lakukan. "Maaf om saya lagi sakit, harus ke rumah sakit. Ini dia lagi sakaratul maut!" teriak Icha, membuat Sabda menganga.
"Astaga, kalau begitu cepat bawa, akan saya dampingi!" ucap salah satu pengendara bermotor.
Dan benar saja pengendara bermotor itu memberi tahu yang lainnya hingga mobil Tanisha benar-benar di aping hingga rumah sakit yang terdekat. Tanisha melebarkan senyumnya, karena itu memudahkan Tanisha berkendara.
Hingga akhirnya Tanisha membelokkan mobilnya ke kiri dengan lampu sein ke kanan. Ternyata jiwa emak-emak Tanisha sudah keluar sejak dini.
"Makasih ya pak," Ucap Tanisha pada pengendara motor yang membantunya, saat Tanisha masuk ke area rumah sakit.
"Sama-sama dek, semoga terselamatkan omnya," balas pengendara bermotor itu.
Tanisha mengacungkan jempolnya, ia segera menuju tempat IGD. "Nah Om kita sudah sampai, pinter kan Tanisha?" Pujinya sendiri saat membuka seat belt.
Namun, tidak ada jawaban dari Sabda. Saat Tanisha menoleh ke arahnya, ia terkejut Sabda sudah tidak sadarkan diri. "Om bangun om!" teriak Tanisha mengguncangkan tubuh Sabda.
Tapi, tidak ada respon dari pria tersebut. Tanisha pun segera turun dari mobil dan memanggil seorang suster. "Sus tolong om saya sus, dia pingsan!" heboh Tanisha sambil membukakan pintu mobilnya.
Beberapa suster pun segera membawa kursi roda, dan memindahkan tubuhnya ke sana. Tanisha ikut di belakang Suster itu. "Dek maaf omnya kenapa ya?"
"Dia alergi udang sus, tadi dia makan yang mengandung udang itu!" jelas Tanisha.
Suster pun segera menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu Ade tunggu di sini dulu ya, omnya akan segera di tangani oleh dokter!"
Tanisha hanya mengangguk pasrah, ia duduk di ruang tunggu. Tubuhnya melemas, melihat Sabda yang tidak sadarkan diri. Dia bingung harus apa?
Tanisha meraih ponselnya, ia mencari kontak ayahnya, dan segera menekan tombol hijau. "Halo pah..." suara Tanisha terdengar gemetar.
(Kamu kenapa?).
"Om Sabda pah, om Sabda..." tidak lama tangis Tanisha pun pecah. Membuat Farid yang ada di balik telpon itu kebingungan.
(Kenapa dengan Sabda?)
"Dia di rumah sakit pah, om Sabda gak sadar!"
(Hah kok bisa?)
"Panjang ceritanya, papa ke sini dulu aja. Icha takut om Sabda beneran meninggal!"
(Huss, sembarangan kamu! Sekarang kamu di rumah sakit mana?)
"Di rumah sakit cendakiya pah, aku di IGD!"
(Ya udah, tunggu papah ke sana sekarang!)
Tanisha langsung mematikan ponselnya, tangannya gemetar menunggu keadaan Sabda. Kepalanya terasa pusing mecium bau obat. Melihat beberapa pasien yang berlalu lalang dengan brangkar di sertai darah, membuat bayang-bayang ibunya terlintas di pikirannya.
Sebelah tangan Tanisha memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. "Argh..."
Matanya mulai berkunang-kunang, pandangannya mulai kabur. Tanisha berusaha memulihkan kesadarannya, ia ambil air botol mineral di dalam tasnya. Tanisha langsung meneguknya perlahan.
Menarik napasnya dalam-dalam, kesadaran tak bisa mulai sedikit membaik. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencari ketenangan hingga ayahnya datang kemari.
"Pah cepet dateng Icha gak kuat!" lirihnya denga air mata membasahi wajahnya.
Tanisha kembali mengambil ponselnya, ia mencari kontak ayahnya. Tangannya gemetar, pandangannya sendikit buram. "Aduh sakit," lirihnya.
"Mana lagi hp gua!" gerutunya. Keringat dingin sudah keluar dari pelipisnya, tangannya pun sudah berkeringat. Namun, Tanisha tetap mencari ponselnya.
Hingga akhirnya ia menemukan kontak ayahnya. Tanisha segera menghubungi ayahnya, tapi tidak ada jawaban. Lagi-lagi Tanisha mencoba untuk menghubungi ayah.
Tidak lama dokter keluar, tatapan dokter itu mencari keberadaan keluarga Sabda. "Keluarga bapak Sabda!"
Mendengar nama itu disebut, Tanisha berusaha untuk bangkit dari tempat duduknya. Sambil berjalan ia memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit kepalanya.
"Saya dok, bagaimana keadaan om saya?" tanya Tanisha.
Dokter itu mengerutkan keningnya, "kamu keluarga dari bapak Sabda? Kamu tampak sedang tidak sehat?" tanya sang Dokter melihat keadaannya.
Tanisha menggelengkan kepalanya, "tidak apa-apa dok, saya baik-baik saja."
Walaupun dokter itu tahu kondisi Tanisha sedang tidak baik-baik saja. Tapi dokter itu menghargai jawaban dari Tanisha.
"Om kamu sudah sadar, dia baik-baik saja. Katanya dia ingin bertemu sama kamu," ucap sang dokter.
Tanisha pun merasa lega mendengar kabar bahwa Sabda baik-baik saja. Ia pun menghembuskan nafasnya lega. "Syukurlah dia baik-baik saja, kalau begitu saya ingin bertemu dengan om saya dok."
"Boleh silakan, kamu masuk saja," ucap dokter mempersilahkan Tanisha masuk untuk bertemu dengan Sabda.
Langkah Tanisha tampak sempoyongan, beberapa kali ia menggelengkan kepalanya untuk memperjelas pandangannya. Tanisha melihat Sabda yang terbaring di atas brangkar.
"Om..." ucap lirih.
Sabda yang sedang memejamkan matanya pun, dan langsung menatap ke arah Tanisha. "Cha..."
Sabda sedikit terkejut melihat keadaan tak bisa yang pucat. Ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya mengubah posisinya menjadi duduk.
"Cha, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Sabda.
Tanisha hanya menggelengkan kepalanya. Namun tidak lama dari sana, tubuh Tanisha ambruk.
BRUK!
"ICHA...!"
Bersambung...