Amira terdiam cukup lama. Tangannya mengepal di sisi tubuh, napasnya terasa berat. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Dimas dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Aku nggak ngelakuin apa-apa," ucapnya pelan. "Aku nggak nyiram. Aku juga nggak pernah nyentuh dia." "Kamu yakin dengan ucapan kamu?" tanya Ratna dingin. "Chintya tersungkur basah di dapur, dan kamu satu-satunya orang yang ada disini. Terus menurut kamu, air itu datang dari mana?" Ratna menyilangkan tangan di d**a. "Saya nggak suka anak yang nggak mau mengaku. Salah ya salah. Jangan malah muter-muterin cerita." Amira terdiam. "Aku nggak muter cerita. Aku cuma bilang yang sebenarnya." Ratna mendengus kecil. "Sekarang malah berani membantah orang yang lebih tua. Kamu—" Dimas langsung maju selangkah. "Ma, Amira sudah jawa

