Dimas bekerja dari ruang tamu, laptop terbuka, beberapa dokumen berserakan, namun tetap dalam jangkauan suara Amira. Sementara Amira duduk di sofa lain, mencoba fokus membaca buku teori dasar yang harus ia kuasai jika ingin benar-benar kembali kuliah. Beberapa halaman berhasil dibacanya, namun konsentrasinya terus buyar. Ia memegang halaman buku terlalu lama. Matanya membaca, tetapi otaknya melayang ke momen ketika mobil itu melaju ke arahnya, cepat, dekat, mengancam nyawanya. Hatinya tiba-tiba mencengkeras lagi, meski hanya bayangan. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang. Suara ketikan keyboard Dimas tiba-tiba terhenti. “Amira?” panggilnya lembut. “Kamu kenapa?” Amira membuka mata perlahan. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma… capek baca.” Dimas menutup laptopnya sebagian, memutar

