8, Disalahkan.

1000 Words
Suara pintu terbuka dengan sangat kasar, dan pada saat itu– Angelina menatap ke arah pintu dengan ekspresi wajah terkejut, tapi juga takut. Seorang wanita berdiri di ambang pintu, memperlihatkan kerasnya ekspresi wajah yang penuh dengan amarah, dan menekan suatu hal yang kini bulat-bulat Angelina telan. Wajahnya seketika memucat saat ia melihat sesuatu yang ada di sana. "N–nyonya?" gumam Angelina dengan suara terbata, dan ia merasa ada suatu hal yang mencekik di tenggorokannya. "Kamu w************n itu?!" teriak seseorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ningrum. Wanita itu begitu emosi saat mengetahui bahwa acara pertemuan itu akhirnya berantakan sepenuhnya hanya karena seorang wanita yang ternyata adalah pekerja di rumahnya sendiri. Dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia menarik rambut indah Angelina dengan sangat kasar! "Aagh! Ampun, Nyonya!" teriak Angelina pada saat itu. Ia menitikkan air mata cukup deras saat setelah merasakan perlakuan kasar dari bosnya itu. "Karena kamu, semuanya jadi berantakan! Karena kamu!" pekiknya lagi. Ia benar-benar melupakan emosinya paka Angelina, dan beberapa saat kemudian tangannya melayang ke wajah halus Angelina. Angelina masih bingung dengan segala hal yang terjadi, akan tetapi, ia dapat merasakan segala perlakuan buruk itu yang melukai hati dan fisiknya pada saat itu. Ia berusaha menahan semua rasa sakit yang ia terima, meskipun semuanya seolah tidak dapat ia takan sepenuhnya. Tangannya terlalu lemah untuk menahan, dan ia terlalu rapuh untuk membela diri sendiri. "Mah! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Arya setelah ia melihat apa yang dilakukan oleh mamanya pada saat itu. Ia berusaha melerai, dan pada akhirnya ia berhasil menarik mamanya menjauh dari wanita yang ia cintai. Angelina tampak mengenaskan dengan beberapa bagian tubuh yang tergores dan terluka, cairan merah tampak keluar meski tidak terlalu banyak, dan ia berusaha menjauh dari Ningrum yang tengah ditarik Arya pergi dari kamar itu. "Kenapa begini? Kenapa begini?" gumamnya sembari mencoba menahan suara isak tangisnya yang hampir pecah. Ia berusaha menahan diri dan menjadi kuat, akan tetapi ia yang meruoakan wanita yang lemah lembut tentu tidak dapat berhasil melakukannya. Rasa sakit itu nyata, dan ia makin percaya – rasa yang ada dalam hatinya sungguh sangat salah. "Aku tahu, aku tidak pantas. Aku menyesal." gumam Angelina. Ia duduk bersimpuh di lantai sembari menangisi segala hal yang sudah terjadi dalam dirinya pada saat itu. *** Arya membawa paksa ibunya keluar kamar, dan beberapa saat kemudian akhirnya ia mendapatkan sebuah tamparan keras di wajahnya. Suara tamparan itu terdengar sangat nyaring, dan ia akhirnya menolahkan wajahnya ke samping lalu diam. "Kamu benar-benar membuat malu! Bagaimana mungkin kamu menyukai seorang w************n seperti dia?! Mikir kamu! Mikir! Dia pasti hanya ingin mengincar hartamu saja?!" teriak Ningrum! Arya mengepalkan kedua tangannya dan ia berusaha menahan diri untuk tidak melupakan emosinya pada ibunya sendiri. "Mah, sebaiknya mama tidak keterlaluan begitu! Dia tidak bersalah, aku yang menghancurkan pertemuan itu, karena aku sungguh sangat tidak menerima perjodohan ini!" Arya tampak menolak, ia sama sekali tidak mau dijodohkan dengan siapapun. "Kedatanganku ke sini tidaklah ingin menuruti ucapan mama, maupun ayah! Aku tidak mau menikah dengan wanita pilihan siapapun?! Aku punya kehidupan sendiri, aku punya pilihan sendiri, sebaiknya jangan ikut campur soal ini!" ujar Arya. "Tidak! Pasti ini semua karena wanita itu!" tekan Ningrum, ia sungguh sudah sangat emosi saat mendengar ucapan dari putranya, dan pada saat itu ia akhirnya tampak menyalahkan Angelina dan memcoba menganiayanya. "Arya!" teriakan Rafli pada saat itu, dan teriakannya sudah melambangkan sebuah kemurkaan yang sudah ada dalam dirinya sedari tadi. Rafli sudah menahan amarahnya sedari tadi, akhirnya tidak lagi dapat diam saja, ia mendekat ke arah putranya dan memberikan satu tamparan keras di pipi putranya. "Kamu benar-benar anak kurang ajar! Kalau kamu terus begini, aku akan menghapus kamu dari ahli waris!" teriak Rafly pada saat itu. "Silahkan lakukan, Ayah! Aku tidaklah perduli!" pekik Arya, ia tampak tidak perduli dengan segala ancaman yang ada. Dan hal itu makin membuat orangtuanya murka! "Arya! Arya!" teriak Rafly. Akan tetapi, Prianitu berlalu pergi dan tidak perduli mau bagaimanapun ayahnya berteriak, segala hal sudah terlihat jelas, dan kedua orangtuanya akhirnya mengetahui hal yang kini membuat mereka murka. Arya melangkah pergi menuju ke kamarnya, ia sungguh sangat kesal, dan malam yang seharusnya menjadi acara yang hangat berubah memanas karena pertengkaran yang ia ciptakan. Pikirannya kacau, dan di dalam kamar miliknya, ia mulai duduk sembari mengingat wajah kesakitan Angelina. "Apa yang harus aku lakukan, Angelina? Aku rasa, aku tidak bisa melupakan kamu begitu saja, aku terlalu mencintaimu." gumam Arya. Perasaan itu tidak lagi dapat ia tahan, dan pada akhirnya ia menyerah... *** Malam semakin larut, keheningan menyelimuti, dan rasa gerah karena panas udara mulai terasa. Pada saat itu, Angelina terbangun lagi dari tidurnya karena rasa perih dan sakit dalam tubuhnya karena segala hal yang majikannya lakukan kepadanya. Saat ia mulai membuka mata, ia malah dibuat takut karena sentuhan seseorang pada saat itu. Kedua matanya terbelalak lebar, dan ia spontan bangun dari tidurnya sembari mengawasi kamarnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat sesuatu di depan sana yang akhirnya membuatnya hampir saja berteriak. Tapi belum sempat berteriak, orang di depannya itu membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. "Kamu berteriak, maka masalah akan semakin besar, diam dan patuh!" perintahnya. Angelina berada dalam dua pilihan sulit. Ia samasekali tidak tahu, apa diam adalah pilihan yang tepat, dan apa menurut akan membuatnya benar, meskipun ia termasuk seperti berbohong saja. "Apa yang kamu inginkan, dan kenapa kamu melakukan semua ini padaku?!" ujar Angelina, ia berusaha untuk membwranikan diri bertanya, hingga pada akhirnya wajah orang itu makin dekat, dan ia bahkan sampai bisa merasakan hangatnya nafas tersebut. "Aku akan beritahu, setelah aku melakukan suatu hal padamu." "Ah! Jangan, apa yang kamu lakukan! Ini tidak boleh" pekik Angelina sembari menolak dan mendorong kasar penelusup yang memasuki kamarnya! Sungguh, ia sama sekali tidak menyangka akan ada banyak tragedi yang akhirnya membuatnya berada dalam posisi sulit dan makin terhimpit. Tubuhnya seakan tertindih, dan ia merasa udara makin panas di dalam kamar kecil itu. Lantas, apa ia benar-benar mengenali orang itu? Siapa dia? "Jangan lakukan ini, aku mohon." mohon Angelina. "Sayangnya, meski kamu memohon seribu kalipun, aku akan tetap melakukannya pada kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD