Detak Jantung di Balik Pintu (In Media Res)
Bunyi itu seperti tulang yang patah mengoyak keheningan malam dan mengirimkan getaran es
langsung ke sumsum tulang belakang Rana. Ia membeku di ambang pintu apartemennya sendiri, kunci
masih tergantung di lubang, separuh masuk. Tangan kanannya gemetar hebat, mencengkeram gagang
sapu ijuk begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Udara terasa tipis, berat, seolah dicuri oleh
apa pun yang ada di dalam sana.
KRASH!
Lagi. Kali ini lebih keras, lebih tajam. Bunyi kaca yang pecah berderai di lantai, diikuti suara seretan
yang berat dan kasar. Jantung Rana melompat ke tenggorokannya, berdebar begitu kencang hingga ia
bisa merasakannya bergetar di pelipis.
Maling. Pasti maling. Otaknya berputar panik, memetakan setiap
skenario terburuk. Bagaimana bisa ada orang masuk? Pintunya sudah ia kunci dua kali. Apa penyewa barunya yang aneh itu si El ada di dalam? Terluka? Atau lebih buruk lagi?
Ia menelan ludah yang terasa seperti pasir. Keheningan yang menyusul terasa lebih mengerikan
daripada bunyi gaduh tadi. Ia menempelkan telinganya ke kayu pintu yang dingin, menahan napas.
Hanya ada suara napas terengah-engah dari dalam. Berat. Putus-putus. Seperti orang yang sedang
berjuang menahan sakit.
"Sialan… ayo… buka, anjir…" Suara gumaman seorang pria terdengar, dipenuhi keputusasaan. Itu
suara El.
Persetan dengan ketakutan. Rana menarik kuncinya dengan sekali sentak, memasukkannya ke dalam
saku. Tongkat sapu ijuk ia angkat lebih tinggi, siap memukul apa saja yang bergerak.
"El? Kamu di dalam?" teriaknya, suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban, hanya suara gedebuk lain.
"El! Jawab aku!"
Hening. Kepanikan murni mengambil alih. Rana mundur selangkah, lalu menghantamkan bahunya ke
pintu sekuat tenaga. Pintu itu bergetar tapi tidak bergeming. Ia melakukannya lagi, dan lagi. Di hantaman keempat, suara retakan kayu terdengar dan kusen pintu yang sudah lapuk itu menyerah.
Pintu terbuka dengan ayunan keras. Rana melompat masuk, sapu teracung.
"Jangan bergerak! Aku panggil polisi!"
Matanya membelalak, menyapu ruangan yang remang-remang itu. Apartemen mungilnya, yang seharusnya menjadi surga kecilnya, telah berubah menjadi medan perang. Tapi bukan pertempuran
melawan perampok. Medan pertempuran ini dipenuhi… sereal. Biskuit-biskuit gandum madu kecil bertebaran di mana-mana, menempel di dinding, mengotori lantai, beberapa bahkan terciprat ke langit-langit. Genangan s**u membentuk danau-danau kecil di ubin dapur yang pecah-pecah. Di tengah kekacauan epik itu, berdiri Elian atau El, sebagaimana ia ingin dipanggil. Wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan, dan sekujur tubuhnya dari kaus oblong abu-abu lusuh hingga celana pendeknya dipenuhi serpihan sereal dan bercak s**u. Di tangannya, ia memegang sisa-sisa kotak sereal yang telah tercabik-cabik seperti korban serangan binatang buas.
Ia menatap Rana dengan mata terbelalak, napasnya masih terengah-engah karena panik. Di sebelahnya, sebuah mangkuk kaca pecah berkeping-keping.
Rana menurunkan sapunya perlahan. Otaknya butuh beberapa detik untuk memproses pemandangan yang mustahil itu. Adrenalinnya surut, digantikan oleh kebingungan total.
"El… kamu ngapain?"
El menelan ludah, menunjuk kotak sereal yang hancur dengan jari gemetar. "Ini… kemasannya… aku gak bisa buka."
"Gak bisa buka?" ulang Rana, nada suaranya datar karena tidak percaya.
"Mereka bilang ‘Buka di Sini’," jelas El dengan sungguh-sungguh, menunjuk sobekan kecil di sudut atas kotak.
"Tapi itu bohong. Gak ada yang bisa dibuka. Aku udah coba pake kuku, pake kunci, terus aku coba getok pake mangkuk…"
Rana menatap mangkuk yang hancur di lantai, lalu kembali ke wajah El yang tampak begitu tersiksa.
"Kamu getok kotak sereal… pake mangkuk kaca?"
"Aku frustrasi!" sergah El, nadanya membela diri.
"Terus pas aku coba robek paksa, isinya meledak. Gak tau gimana caranya."
Keheningan melanda mereka. Rana menatap sereal yang menempel di ujung hidung El. Ia menatap tetesan s**u yang perlahan turun dari daun telinganya. Ia melihat sekeliling dapur yang sekarang lebih mirip instalasi seni modern yang gagal. Tongkat sapu terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan bunyi ‘buk’ yang pelan.
"Kamu serius?" bisik Rana. "Semua ini… karena kamu gak bisa buka kotak sereal?"
El mengangguk dengan ekspresi yang menyedihkan, seperti anak anjing yang baru saja memecahkan vas bunga kesayangan. Di balik kepanikan palsunya, gelombang kelegaan murni menyapu Elian Maheswara. Ini dia. Ini adalah kegagalan total yang diresepkan untuknya. Kekalahan telak di tangan
sebuah produk sarapan seharga dua puluh ribu rupiah. Rasanya membebaskan.
Rana menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia tidak
tahu harus tertawa atau menangis. Di satu sisi, ia lega karena tidak ada pembunuh berkapak di
apartemennya. Di sisi lain, ia kini hidup bersama seorang pria dewasa yang tampaknya memiliki
keterampilan motorik seekor panda mabuk.
"Jadi, suara tulang patah yang aku dengar itu apa?" tanyanya lelah.
El berpikir sejenak. "Oh, itu mungkin pas aku coba injek kotaknya."
Rana membuka matanya. Ia menatap lurus ke arah El. Sebuah senyum kecil yang dipaksakan merekah
di bibirnya.
"Kamu tahu? Ada yang namanya gunting."
Ekspresi El berubah menjadi pencerahan yang lambat. "Oh. Bener juga."
Rana menggelengkan kepalanya pelan, berjalan hati-hati melewati lautan sereal. Ia mengambil kain lap dari wastafel.
"Ya udah. Gak ada gunanya juga sekarang."
Ia melemparkan lap lain ke arah El, yang menangkapnya dengan kikuk. "Ayo bersihin."
El menatap lap di tangannya, lalu ke kekacauan di sekelilingnya. "Dari mana kita mulai?"
Rana menunjuk ke langit-langit, tempat sebongkah sereal yang lengket akhirnya menyerah pada gravitasi dan jatuh ke lantai dengan bunyi ‘plop’ yang menyedihkan.
"Mungkin dari situ," sahutnya.
Mereka mulai membersihkan dalam diam. Suara seretan kain lap di lantai dan denting pelan serpihan sereal yang dimasukkan ke kantong sampah mengisi keheningan yang canggung. Rana sesekali melirik El, yang membersihkan dengan konsentrasi penuh seorang ahli bedah yang sedang melakukan operasi
rumit, meski hasilnya lebih sering menggeser noda s**u dari satu tempat ke tempat lain.
Pria ini adalah sebuah anomali. Ia tidak bisa membuka kotak sereal tapi menyewa kamar tanpa menawar harga sepeser pun. Setengah jam kemudian, dapur itu kembali bersih, walau aroma manis madu dan s**u masih menguar
di udara. Rana sedang membilas kain lap terakhir ketika El berbicara dengan suara pelan.
"Makasih, ya," katanya. "Dan… maaf udah bikin kamu panik."
Rana berhenti, punggungnya masih menghadap El. Ada ketulusan dalam suaranya yang membuatnya
sulit untuk tetap kesal. Ia menghela napas. Mungkin pria ini hanya butuh sedikit bantuan. Mungkin ia
hanya butuh seseorang untuk melindunginya dari dunia… dan dari kotak sereal.
"Lain kali," kata Rana tanpa menoleh,
"kalo kamu butuh bantuan buat sarapan, bangunin aku aja."
Ia bisa merasakan El tersenyum di belakangnya. "Janji."
Rana memeras kain lap dengan kekuatan lebih dari yang diperlukan. Udara di antara mereka terasa aneh, tidak lagi tegang, tetapi juga tidak sepenuhnya santai. Ada semacam kesepahaman baru yang rapuh.
"Satu lagi," tambah Rana, akhirnya berbalik menghadap El. Mata mereka bertemu.
"Jangan pernah
getok apa pun pake mangkuk kaca lagi. Ngerti?”