CHAPTER 1

1632 Words

Perkenalkan namaku Tatiana Jasmine Matthew. Gadis berumur 17 tahun, sekitar lima hari yang lalu.

Orang tuaku meninggal saat usiaku masih genap 1 tahun. Mereka mengalami kecelakaan pesawat saat akan berlibur.

Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kesalahan teknis entah apa itu aku juga tidak tahu.

Pesawat yang ditumpangi Mom dan Dad jatuh ditengah laut, dan tidak ada satu orang pun yang selamat.

Jasad mereka pun tidak ditemukan sampai saat ini.

Pencarian sudah diberhentikan saat kejadian sudah 5 tahun berlalu. Dengan alasan jasad sudah dimakan ikan buas.

Sekarang aku tinggal bersama adik dari Mom, Damian Scott.

Semua kebutuhan hidupku yang menanggung uncle Damian. Daddy-ku. Matthew memiliki perusahaan di bidang pertambangan emas, Batu bara dan perhotelan.

Mom juga memiliki perusahaan di bidang impor expor barang branded.

Well... Kalian bisa tahu bagaimana kayanya kedua orang tuaku.

Perusahaan Dad bahkan masuk kedalam 10 besar perusahaan terbesar dan berpengaruh didunia.

Saat ini untuk sementara perusahaan Mom dan Dad uncle Damian yang menjalankan sampai aku menginjak usia dewasa dan siap berkecimpung didunia bisnis.

Uncle Damian juga memiliki perusahan nya sendiri di bidang teknologi.

Ya.. Meskipun tidak sebesar milik Dad.

Kalau perusahaan Mom dan Dad sudah masuk ke pasar Eropa. Sedangkan perusahaan milik uncle Damian baru mencapai pasar Asia saja.

Bayangkan uncle Damian mengelola tiga perusahaan secara bersamaan sendiri. Tapi yang pasti dibantu juga oleh orang kepercayaannya. Saking sibuknya, dalam satu hari ia bisa berpindah-pindah kota bahkan bisa Negara hanya untuk datang ke pertemuan klien.

Oh iya!Kalau kalian mengira uncle yang aku maksud adalah om-om tua, dengan uban dimana-mana,

perut buncit, berkaca mata tebal, dan botak.Jawabannya adalah BIG NO!!!!

Uncle Damian Scott, adik dari Mom, pria berusia 30 tahun dengan tinggi 186, kulit berwarna putih coklat manly, dengan rahang tegas, badan kekar karena rajin berolahraga, tatapan mata tajam berwarna coklat yang bisa membuat para wanita bertekuk lutut hanya dengan tatapan matanya.

Well.. Kenapa aku bisa tahu sampai sebegitunya?Anggap lah aku ini keponakan yang merangkap menjadi penguntitnya.

Haha... Terdengar aneh memang. Sejak setahun yang lalu aku mulai terobsesi dengan uncle ku yang tampan dan seksi. 'ok

abaikan kalimatku yang terakhir'. Aku mulai terobsesi dengan uncle Damian saat dia berbicara dengan lantang mengucapkan kata 'aku lebih berharga dari apapun, dan tidak bisa tergantikan, termasuk nyawanya sendiri'.

Kalian bisa bayangin bagaimana jika kalian berada diposisi ku.

Flashback on

Saat itu, aku diculik oleh seseorang yang tidak aku kenal. Dia berbadan besar mirip kingkong yang kulihat difilm-film saat sepulang sekolah.

Aku disekap semaleman tanpa diberi wejangan apa-apa oleh si penculik.'Sepertinya aku harus berhenti menonton film dimana si korban diberi makan sebelum dibunuh.'

Pagi buta uncle Damian baru datang menjemputku dengan keributan yang besar. Dia manggil-manggil namaku seperti orang frustasi mencari belahan jiwanya yang hilang. 'Sepertinya aku harus mengecek kondisi kejiwaan ku'

Saat uncle Damian menemukanku, ia langsung menghambur memeluk. 'halalin neng dulu bang.. Baru peluk-peluk, cium-cium, ena-ena juga boleh kalo udah syah, neng mah pasrah aja bang. 'ya Tuhan aku sudah gila. Tentu saja aku dengan senang hati menyambut pelukannya. Mataku terbelalak saat ada om-om jelek muka sangar, pala botak, memukul kepala uncle Damian sampai mengeluarkan darah di kepala dan uncle Damian juga tersungkur akibat pukulannya. Aku memekik melihat kondisi uncle. Aku mengira uncle Damian sudah tidak bisa melakukan perlawan akiibat ulah kingkong burik itu. Tapi aku salah besar. Uncle Dami berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa. 'Woah uncle makan beton ya bisa sekuat itu, apalagi kalo sana Mom maafin Tatiana yang omes ini..'

Uncle Damian menghajar orang itu dengan membabi buta, dan entah apa yang mereka bicarakan, aku sempat mendengar si kingkong burik itu mengoceh tidak jelas. Aku mendenger uncle

menyebutkan kata-kata yang membuatku terpaku. Yang sebelumnya aku bilang kalau 'aku lebih berharga dari apapun, dan tidak bisa tergantikan oleh apapun termasuk nyawanya sendiri."

Aku menangis sesegukan mendengarnya. Uncle Dami panik melihat aku menangis.

"Mana yang sakit?" tanya uncle Damian panik. Aku hanya mengelengkan kepala.

"laper..." kataku. Yah.. Hanya itu yang ada didalam otakku. gengsi dong kalau aku bilang terharu dengan kata-katanya. Dan lagi dengan keadaannya yang seperti itu malah sempat-sempatnya menanyakan kabarku.

Uncle Damian terkekeh mendengar jawabanku. Ya ampun senyumnya, bikin diabetes. 'Pengen aku lumat aja tuh bibir, coba kalo bukan uncle ku sendiri'. Lemasku.

Uncle Damian menggedong aku ala bridal style, 'kaya pengantin baru diajak kekamar buat malem pertama'.

Dan setelah kejadian culik menculik, uncle Damian menjadi super duper ketat menjagaku. 'seketat celana dalam yang aku pakai.'

Sekolah diantar jemput oleh uncle Damian atau sama supir pribadi kepercayaannya, ah..

Jangan lupa harus ada minimal 2 bodyguard. Orang berbadan tinggi besar lebih besar dari yang menculik aku tempo hari orang yang menculikku 'mungkin dia bapaknya kingkong.

Protes?

Sudah aku lakukan, tapi hasilnya tetep sama. Sampai aku pernah mogok makan pun tidak digubris olehnya. malah aku diancem balik olehnya. Aku akan home schooling kalau terus membantah. Dan.. Ujung-ujungnya aku lah yang mengalah. 'Apa daya neng mah orangnya pasrahan'

"Tiana.." teriak uncle Damian menggema memanggil ku untuk bergegas.

'Tuhkan baru diomongin udah nongol kaya pocong mumun'

"Iya uncle.. Ini Tiana udah siap." teriak ku tak kalah menggemanya.

Aku bergegas turun menghampiri uncle Damian yang sedang membereskan makanan, dengan

celemek berwarna pink yang masih menempel. 'ngga bisa bayanginkan badan besar otot kekar, tapi pake celemek pink. But, meskipun terlihat aneh dimata orang, tentu saja berbeda dimataku.

Uncle Damian terlihat lebih menawan dan hot. Dan satu lagi, sejak kecil sampai sekarang, uncle lah yang memasak untuk ku dan dirinya sendiri.

Menurutnya, masakan rumah lebih sehat, ketimbang beli makanan siap saji. Uncle Damian

memang menantu idaman para ibu-ibu komplek.

"Selamat pagi." sapa ku menghampiri meja makan yang sudah tertata rapi dengan makanan ala om-om sexy.

"Kamu telat sarapan 5 menit." protes uncle Damian padaku. Aku memutar bola mata malas.

Minusnya uncle Damian itu cerewet dan tidak suka buang-buang waktu.

"Yaelah uncle.. Telat dikit." aku mempotkan bibirku.

"Ya sudah cepat dimakan nanti makanan nya dingin." ucap uncle Damian menghidangkan nasi goreng daging dengan kacang polongnya.

"Uncle... Kacang polongnya banyak amat." rajuk ku melihat banyak bulat-bulat hijau di nasi

goreng.

"Kacang-kacangan bagus untuk pertumbuhan otak kamu.Sebentar lagi kamu UAN." jawabnya

sambil menyendokan makan kemulutnya.

"Iya... Iya." kata ku pasrah. Toh percuma berdeb aku tidak akan bisa menang.

"Oh iya uncle nanti malam makan di luar ya, Tatiana bosan makan dirumah terus." pintaku.

"Jadi maksud kamu masakan uncle ngebosenin?" tanya uncle Damian, sedikit tersinggung?

'Ck!!! Udah tua baperan.' grutu ku dalam hati.

"B-bukan begitu uncle... Masakan uncle mah yang terbaik dari yang terbaik. Tatiana hanya bosan makan dirumah terus. Sekali-kali tidak apa-apakan makan diluar?" bujuk ku dengan gaya di buat seimut-imutnya.

"Hah.. baiklah, nanti kita makan diluar, kamu mau makan apa?" Damian membuang nafas kasar mengalah.

"Yeay..... Tatiana lagi mau makan di huka huka benta." ucapku dengan semangat.

"Tapi nanti janji, malam harus belajar persiapan UAN." ucapnya.

"Yah.. Uncle Kan masih lama." aku mengerucutkan bibir. Membuat uncle Damian gemas melihatku.

"Kalo kamu belajar dari sekarangkan nanti bisa lebih mudah mengerjakanya." ucapnya lagi.

'Mulai dah si uncle cerewetnya.' grutuku lagi dalam hati.

"Ya deh terserah uncle aja." ucapku menyerah percuma juga tidak akan menang.

"Percuma berdebat sama dia tidak pernah mau ngalah" lirihku.

"Apa." tanya uncle Damian yang mendengar ocehanku.

"Eh.. Hehe.. Tidak, nanti kalo Tatiana dapat nilai bagus, Tatiana boleh minta hadiah dari uncle."

pinta ku dengan maksud terselubung.

"Boleh." jawab uncle Damian cepat tanpa menaruh curiga padaku.

"Yeah.. Inget ya uncle ngga boleh nolak permintaan Tiana." kataku mengingatkan.

"Tapi jangan minta aneh-aneh, tidak ada party perpisahan yang tidak-tidak." Damian memperingati.

"Ya uncle, masih kaku aja. Aku bukan minta yang begituan kok."

'tentu saja aku ngga minta yang seperti itu. Aku akan memikirkan hadiah apa yang pas buat nanti'

ucapku dalam hati dengan seringai tertahan.

"Baiklah, apa yang kamu mau?" tanyanya.

"Yihaa... Uncle emang yang paling the best." ucapku berdiri menghampiri uncle Damian untuk

memeluknya.

"Nanti aja kalau hasilnya sudah keluar." kataku dengan bergelayut manja pada uncle Damian.

'Dah ah jangan lama-lama peluk nya tar ada yang tegang berabe' batinku mengingatkan.

"Yuk ah kita berangkat nanti telat lagi, hari ini Tatiana diantar sama siapa?" tanya Tatiana.

"Berangkat dengan uncle. Tapi pulangnya sama Dani." jawabnya. Dani adalah sekertaris sekaligus merangkap menjadi supir antar jemputnya untuk ku.

Usia nya masih dua puluhan loh masih muda dan tampan. Meski pun tak sehot dan seseksi uncle Damian.

*****

Perjalanan dari rumah kesekolah hanya memakan waktu 20 menit kalau tidak macet kalau pun macet paling tidak hanya 30 menit dari rumah ke sekolah.

"Inget belajar yang benar jangan bercanda saat belajar, jangan berbuat macam-macam dengan sahabat-sahabat kamu si Bastian, Rio, Sarah, Paris, dan Samuel"

Kata uncle Damian mengingatkan. Uncle Damian tahu betul dengan tingkah kelakuan sahabat-sahabatku yang sedikit urakan.

Kami sudah sampai dan uncle Damian membukakan seat belt ku.

'uncle jangan deket-deket takut Tatiana khilaf gimana?' batinku.

jarak uncle Damian denganku hanya beberapa senti saja. Membuatku berhenti bernafas sejenak. Namun aroma tubuh Damian membuatku mau tidak mau berfokus padanya. Aku menikmati aroma harum maskulin dari uncle Damian.

"Iya uncle bawel... Tatiana masuk dulu ya." Tatiana mencium punggung tangan Damian.

"Tiana.." teriak Sarah salah satu sahabatku.

"Hai.." sapa Tatiana menghampiri mereka.

"Tatiana ingat pesan yang uncle katakan tadi. Belajar yang benar." Uncle Damian memperingatkan lagi.

"Iya uncle.. Sana gih ke kantor, nanti telat." kataku mengusir uncle Dami untuk bergegas pergi ke kantor.

'Bawel banget uncle Damian, untung suka, kalau ngga sudah aku tendang tuh otong supaya tidak cerewet ngomong mulu.' batinku.

"Kamu ini kalau di bilangin." rajuknya.

"Iya... Iya... Uncle Damian, uncle ku tersayang." kataku menekankan kata sayang.

"Ya sudah uncle pergi dulu." pamit Damian untuk pergi ke kantor.

Aku masih menunggu sampai mobil yang dinaiki uncle Damian tidak terlihat.

'Kalau saja uncle tahu kalau aku menyukainya, apa uncle akan bersikap seperti ini pada Tiana?

Kalau saja uncle bukan adik dari mom, mungkin aku tidak perlu menyembunyikan perasaan ini' ucap batinku.

Perasaan yang seharusnya tidak tumbuh untuknya. Meskipun aku tahu ini salah, tapi aku tidak akan mencabut dan akan membiarkan tumbuh subur seiring berjalannya waktu.

******

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD