Revina tidak tinggal diam. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Tristan. Sayangnya pria itu justru semakin erat memeluknya, membuat perasaan Revina membuncah. Revina tak pernah berharap untuk bertemu Tristan lagi.
Bahkan, Revina sudah tak mau tahu kabar pria itu sekalipun hubungan mereka baik-baik saja saat wanita itu kabur meninggalkannya. Sekarang, kenapa harus Tristan yang menjadi paman Hans? Ini gila.
“Lepasin aku!” ucap Revina penuh penekanan. Ia sebenarnya ingin berteriak, tapi mustahil.
Sebenarnya apa mau Tristan? Seharusnya pria itu tidak mengganggu Revina lagi. Padahal tidak perlu ada yang dijelaskan karena Revina yakin Tristan pasti tahu alasan dulu dirinya kabur—ingin merelakan Tristan menikah dengan wanita pilihan orangtuanya.
“Delapan tahun lalu, aku yang nggak ingin melepaskan kamu ... malah harus kehilangan kamu. Sekarang kamu pikir aku akan melepaskanmu lagi?”
“Aku pacar keponakanmu sekarang!”
“Apa itu penting?”
“Jelas penting,” jawab Revina. “Jadi tolong lepaskan aku sebelum ada yang curiga kita di sini.”
“Hans dan putriku belum datang, Mbak Karmila dan Mas Wijaya pun masih sibuk dengan mangga baru matang. Jadi—”
“Jadi apa?” Revina memutar tubuhnya dengan cepat, membuat posisi mereka kini berhadapan dengan jarak yang bisa membuat keduanya merasakan embusan napas satu sama lain.
“Kamu udah menikah, Tristan. Bahkan sejak delapan tahun lalu. Kamu juga punya anak yang sangat lucu. Seharusnya kamu nggak punya alasan untuk berbuat seperti ini,” ucap Revina. “Terlebih aku adalah calon menantu kakakmu.”
Revina masih berbicara, “Tolong jangan gila.”
“Kamu yang udah bikin aku gila. Kamu bersikap seolah setuju untuk kawin lari, tapi nyatanya kamu pergi meninggalkan aku begitu aja. Tanpa pamit, tanpa pesan terakhir dan tanpa jejak. Sadarkah kamu membuatku gila delapan tahun lalu?”
“Buat apa mengungkit tentang itu? Semuanya udah berlalu dan sekarang kita punya kehidupan masing-masing.”
“Kehidupan masing-masing apanya....” Tristan tak melanjutkan kalimatnya karena pada saat yang bersamaan suara mobil mulai terdengar, sepertinya Hans sudah kembali.
“Kita belum selesai bicara. Mari lanjutkan nanti.”
“Enggak. Menurutku udah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi antara kita,” sanggah Revina.
“Ada,” jawab Tristan, kali ini sambil mengecup singkat bibir Revina, membuat wanita itu melongo saking tak habis pikir dengan yang Tristan lakukan.
“Dia pasti gila,” batin Revina, tepat saat Tristan menjauhkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan gudang dengan langkah terburu-buru. Hal yang Revina sesali karena seharusnya ia menendang bagian bawah perut pria itu dulu.
Masih di gudang, Revina sedang berperang dengan batinnya. Bisa-bisanya ia membiarkan Tristan bukan sekadar memeluknya, tapi juga mengecup bibirnya meskipun singkat. Ah, andai tahu Tristan akan menciumnya seperti barusan, sudah pasti ia tak akan membiarkan itu terjadi.
Sumpah demi apa pun, Revina tidak tahu ke depannya akan bagaimana. Bukannya apa-apa, ia bisa melihat ambisi di mata Tristan.
“Seharusnya kamu jangan begitu, Tristan,” batin Revina lagi.
Selama beberapa saat, Revina masih mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ternyata keputusannya menyendiri ke sini bukanlah keputusan yang tepat. Ia telah salah langkah karena yang ada ... Revina malah semakin merasa kacau.
Sampai akhirnya, Revina sadar dirinya tidak mungkin berada di sini lebih lama lagi. Mau tidak mau, ia harus segera membawa tikar dan bergabung dengan keluarga Hans di sana.
Kembali ke halaman samping, Revina langsung disambut oleh calon mama mertuanya yang sudah memotong mangga sangat rapi dan meletakkannya di dalam mangkuk.
“Ini, Revina. Dicoba dulu mangganya. Manis banget, meskipun lebih manis kamu,” ucap Karmila.
Revina tersenyum seraya berterima kasih, meski agak kikuk. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak bersikap mencurigakan, seperti Tristan yang terlihat kelewat santai seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, pria itu langsung sibuk dengan putrinya yang entah kenapa diberi nama persis namanya.
Sementara itu, Hans segera mengambil alih tikar di tangan sang kekasih lalu membentangkannya. Sebelum duduk, Hans sempat mengedipkan sebelah matanya pada Revina. Tentu Revina paham maksud kedipan itu—seolah mengatakan kalau dugaan Hans benar bahwa Revina pasti tidak sulit untuk akrab dengan keluarganya.
“Apa aku bilang, kamu pasti diterima dengan baik oleh keluargaku,” ucap Hans tepat saat Revina duduk lesehan di sampingnya.
Revina tersenyum seraya meraih garpu lalu menyuapkan mangga pada Hans.
Sejenak Hans membuka mulutnya. “Manis dan segar banget, ya,” ucapnya setelah mengunyah mangga yang Revina suapkan.
Setelah itu Karmila dan Wijaya turut bergabung. Karmila juga memanggil Revina kecil untuk bergabung dengan mereka. Revina kecil langsung duduk di dekat Karmila yang sudah menganggapnya seperti cucu sendiri.
“Papa tadi mau ke mana?” tanya Wijaya pada Revina.
“Katanya mau ke kamar mandi sebentar,” jawab Revina kecil.
Setelah itu, mereka kembali bercengkerama. Revina sangat senang bisa diterima dengan baik. Andai pamannya Hans bukanlah Tristan, mungkin ini akan sangat sempurna.
***
Setelah berkumpul di halaman samping rumah, Revina sempat diajak jalan-jalan oleh Hans mengelilingi rumah mewah ini. Dan tempat favorit Revina adalah di rooftop. Mereka sempat mengobrol berdua, meski Revina tak bisa memungkiri kalau dirinya tak bisa melupakan fakta bahwa mantan pacarnya ada di sini.
Hanya karena Tristan adalah paman dari Hans, bukan berarti Revina harus putus, kan? Masa lalu biarlah berlalu. Dan kalau boleh jujur, Revina tidak ingin Hans tahu masa lalunya dengan Tristan.
Saat ini, Revina sedang melihat-lihat sekeliling kamar Hans. Sebenarnya sudah dari tadi Revina berada di kamar sang pacar. Sepuluh menit yang lalu ia juga sudah mengatakan niatnya untuk pulang, tapi Hans izin ke kamar mandi sebentar sebelum mereka turun ke lantai satu untuk pamit pada orangtua Hans.
Revina mulai merasa ada yang aneh karena menurutnya Hans berada di kamar mandi terlalu lama.
“Sebentar apanya?” gumam Revina yang kini melangkah menuju pintu kamar mandi.
Perlahan wanita itu mengetuk pintunya.
“Sayang ... kamu baik-baik aja, kan?”
“Maaf, Sayang. Kamu ke ruang tamu duluan aja. Aku yakin mama ada di sana,” jawab Hans setengah berteriak.
“Aku nggak apa-apa nunggu kamu.”
“Kamu duluan aja. Perutku tiba-tiba sakit banget. Aku janji nggak akan lebih dari sepuluh menit.”
“Kalau gitu aku tunggu di ruang tamu ya, Sayang,” kata Revina. “Tapi kamu yakin baik-baik aja?”
“Iya, kamu tenang aja.”
Setelah itu, Revina meraih handbag-nya lalu keluar dari kamar Hans. Di tangga, ia berpapasan dengan Revina kecil yang tampak bersama dua anak perempuan seusianya.
“Wah, Tante Revina!” seru Revina kecil.
Revina tersenyum. “Kamu sedang bermain dengan teman-teman, ya?”
“Iya, Tante,” jawab Revina kecil lalu menatap dua temannya yang sepertinya bingung. “Temen-temen, kenalin ini Tante Revina, pacarnya om aku. Lucu, kan, nama kami sama?” lanjut bocah itu.
“Wah, pantesan aku bingung kok kamu manggilnya Tante Revina,” balas temannya.
Revina kecil terkekeh. “Ya udah, Tante. Aku sama temen-temen mau ke kamarku.”
Sambil menuruni tangga, Revina sempat berpikir selama beberapa saat ... bukankah Hans bilang kalau sepupu dan om-nya baru meramaikan rumah sekitar semingguan. Luar biasa sekali Revina kecil sudah punya teman.
“Loh, kok sendirian? Hans mana?” tanya Karmila tepat saat Revina menginjakkan kaki di lantai satu.
“Hans lagi di kamar mandi, Ma. Katanya aku suruh nunggu di ruang tamu aja.”
“Sini, sini duduk. Mama temenin.”
Selama beberapa saat, Revina duduk berdampingan dengan Karmila. Mereka membicarakan segala tentang hari ini, terutama kesan yang Revina dapatkan setelah berkunjung ke rumah ini.
“Aku ... happy banget, Ma. Aku bersyukur disambut dengan baik di sini,” ucap Revina. “Walaupun ada bagian tidak happy-nya, yaitu saat di gudang,” lanjutnya, dalam hati.
“Mama bersyukur banget kalau kamu happy, Revina. Tolong bilang aja ya kalau ada yang bikin kamu merasa kurang nyaman.”
“Kabar baiknya, nggak ada yang bikin kurang nyaman, Ma,” bohong Revina. “Sampai-sampai nggak kerasa udah waktunya pulang,” lanjut wanita itu.
“Oh iya, mama hampir lupa kalau papa tadi ada urusan mendadak. Jadi cuma bisa titip salam buat kamu. Katanya maaf karena kamu tidak bisa pamit secara langsung ke papa.”
“Aku maklum, kok. Namanya juga urusan mendadak,” balas Revina.
Bersamaan dengan itu, ponsel Revina bergetar. Meskipun ponselnya berada di dalam tas, tapi getarannya sangat terasa. Ia lalu merogoh tasnya sehingga benda pipih yang menyala itu kini ada di tangannya.
“Ini Hans, Ma,” ucap Revina yang sempat saling berpandangan dengan calon ibu mertuanya.
“Loh, dia nelepon? Coba angkat dulu.”
Revina mengangguk. Ia juga penasaran kenapa Hans malah menelepon, bukannya langsung turun saja. Setelah menggeser layar ke warna hijau, panggilan pun tersambung.
Selama beberapa saat, Revina mendengar suara Hans di seberang telepon sana. Suaranya tampak sangat lelah dan lemah.
“Aku ke sana sekarang,” ucap Revina.
Hal itu membuat Karmila bertanya-tanya, “Ada apa? Hans kenapa?”
Revina lalu memberi tahu Karmila.
“Kamu ke kamarnya aja langsung, nanti mama nyusul sambil bawa air putih buat dia.”
Revina mengangguk lalu dengan langkah terbaru-buru, ia kembali naik ke lantai dua. Tanpa mengetuk pintu, Revina membukanya dan langsung mendapati Hans sudah terbaring di tempat tidur.
Revina mendekat lalu bertanya, “Hans. Kamu kenapa, Sayang?”
“Kayaknya aku ada salah makan. Tadi sempat muntah dan pup sampai beberapa kali. Maaf kayaknya aku nggak bisa antar kamu pulang,” ucap Hans, kentara sekali pria itu tampak lemas.
“Kamu nggak usah mikirin gimana caranya aku pulang, Hans. Kamu harus ke IGD.”
“Kayaknya aku cuma butuh rebahan, Sayang,” jawab Hans.
“Ini minum dulu,” timpal Karmila yang muncul dari arah pintu. “Ya ampun, kenapa tiba-tiba jadi begini?”
Hans hanya menggeleng lemah sambil mengambil alih gelas yang mamanya sodorkan. Revina pun secepatnya membantu sang pacar duduk agar bisa minum dengan nyaman. Tak lama kemudian, Hans menyesap minumannya hingga tersisa setengah.
“Kalau sampai malam ini nggak membaik, aku nggak akan menolak ke dokter,” ucap Hans seraya kembali merebahkan tubuhnya. “Aku cuma butuh istirahat dan tidur.”
“Hans....”
“Maaf ya, Sayang. Kamu pulang sama sopirnya mama aja gimana?”
“Mana mungkin aku pulang dalam keadaan kamu begini?”
“Aku baik-baik aja, Revina sayang. Jangan lupa, kamu ada janji sama temen-temen kamu malam ini.”
Revina mengembuskan napas frustrasi. Namun, rangkulan Karmila berhasil memberikan rasa tenang padanya.
“Biar mama yang jaga Hans ya, Cantik.”
Revina tersenyum. “Maaf, Ma. Aku nggak seharusnya mencemaskan Hans karena ada Mama yang pasti selalu ada.”
Karmila menggeleng. “Cemas itu wajar, kok. Melihat seseorang yang dicintai sakit, siapa yang tidak cemas? Tapi tenang saja, mama jamin Hans baik-baik saja.”
Wanita paruh baya itu melanjutkan, “Sekarang yuk mama antar ke bawah. Sekalian mau bicara sama sopir mama.”
“Maaf Mbak, Pak Sarman sedang mengantar Revina jalan-jalan sore bersama teman-temannya,” ucap Tristan yang entah sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu kamar Hans.
“Kalau begitu aku naik taksi aja. Enggak apa-apa.”
“Memang tempat tinggal kamu di mana? Barangkali se-arah sama saya,” tanya Tristan.
“Hmm, nggak usah. Makasih. Aku naik taksi aj—”
“Loh, kalau se-arah sekalian saja,” kata Karmila.
“Revina tinggal di Calestia Tower. Memangnya Om Tristan mau ke mana?” tanya Hans.
“Saya mau ke rumah teman dan kebetulan banget melewati apartemen itu.”
“Kalau gitu sekalian aja, Om. Tolong sekalian antar pacarku, ya.” Hans mengatakannya tanpa kecurigaan sama sekali.
“Hans, aku naik taksi aja. Enggak apa-apa,” tolak Revina, se-sopan mungkin.
Sempat ada negosiasi yang alot. Hans dan Karmila sepertinya mulai heran kenapa Revina sangat bersikeras menolak. Sampai kemudian, Revina terpaksa mengiyakan. Itu lebih baik daripada pacarnya curiga.
“Pokoknya kamu tenang aja, Sayang. Om Tristan akan mengantarmu dengan aman,” ujar Hans. “Maaf aku mau ke kamar mandi lagi,” lanjutnya seraya beranjak menuju kamar mandi dengan terburu-buru.
Pada akhirnya, Revina mau tidak mau pamit lalu bersiap pulang dengan Tristan.
Tunggu, pulang dengan Tristan?
Revina bukan hanya deg-degan, tapi juga takut.
Tidak, bagaimana ini?