"Mas.." Ajeng menatap mata suaminya dengan lekat. Sorot matanya yang teduh iu mulai berkaca-kaca. Dia berkata lirih sambil menunduk. "Kita harus cerai.." Gema menggeleng. "Kamu nggak harus lakuin itu, kamu bakal ribet kalau kita cerai." Laki-laki itu dengan tegas menolak. Nafasnya mulai memburu. Keduanya sedang berada di luar ruangan Tante Hera setelah mereka mendiskusikan tentang rencana yang akan mereka jalani. Tentu saja keduanya setuju, tapi Ajeng memanggil Gema keluar untuk berbicara sejenak. Ternyata pembicaraan itu malah mengarah kepada perceraian mereka. Ajeng menyeka air matanya. "Kamu mau sampai kapan buat aku nunggu? Kamu mau sakitin aku berapa lama lagi hah?" Wanita itu menandang Gema dengan lirih. "Aku ngerti kalau kamu selamanya nggak bakal jatuh cinta sama aku, m

