Bukan Orang Ketiga | Bab 3

1034 Words
Melihat respon emosional Ajeng membuat Gema terduduk lama di meja makan. Biasanya setelah menyeruput kopinya ia akan langsung bersiap-siap berangkat. Tapi kali ini kegiatannya seolah terhenti. Ia juga menyayangkan sikap nya yang mengajak bicara pagi-pagi begini. Padahal seharusnya wanita itu berhak mendapatkan ketenangan setelah tadi malam ia pulang larut malam sekali. Persoalan sikapnya yang tetap kepo akan kehidupan sang mantan juga perlu di sayangkan. Tapi, memang tidak mudah mengubah perasaan yang tumbuh lama sekali apalagi itu adalah cinta pertamanya. Pria itu bahkan sudah mulai tertarik pada Tari sejak duduk di bangku SMP. Meski keluarganya berada, ia disuruh masuk ke sekolah negeri untuk belajar bersosialisasi. Bayangkan saja, laki-laki itu anti sekali bermain dengan teman-temannya. Dari TK, hingga Sekolah Dasar semuanya Homeschooling. Hingga ketika dilakukan sesi konseling barulah ia disarankan unuk bergabung di sekolah formal. Entah darimana juga sang Papah mempunyai ide untuk menempatkan nya di sekolah negeri padahal banyak sekolah swasta yang akan menerimanya. Tapi setelah masuk, pria itu pun berterimakasih karena dipertemukan oleh gadis kecil, lucu, periang bernama Tari. "Nama aku Tari, Hobi aku menari~" Untuk umur 13 tahun, perilaku itu sebenarnya sangat kekanak-kanakan. Tapi entah mengapa semua orang tertawa dan menganggap nya lucu. Gema mengalihkan perhatian nya dan melihat ke arah luar jendela. "Hai! Aku duduk disini yah.." Gadis kecil yang ia anggap kekanak-kanakan itu mencoba mengajaknya bicara. "Gak boleh, sana aja duduk sama cewek-cewek. " "Tapi udah penuh." "Duduk aja di lantai!" Ujarnya dingin. Sepertinya fasilitas sekolah negeri betul-betul pas-pasan. Apa dia menyumbang satu bangku saja yah untuk kelasnya. "Heh, gak usah sok gitu disini. Emangnya bangku itu punya bapak lo?!" Laki-laki yang duduk di bangku belakangnya itu menyeru. "Kalau gak mau duduk sama Tari, yaudah tukaran aja nih sama Dodot! Biar Tari duduk sama aku." Ujar laki-laki itu sambil menunjuk teman sebangku nya yang gendut. Gema kecil menyeru jijik. "Yaudah lo duduk disini." Ujarnya sambil menarik tangan Tari dengan kasar agar secepatnya duduk. Gadis kecil itu mengulum bibir getir. Kemudian dia berbalik ke belakang, "makasih yah." Yang hanya di balas anggukan oleh mereka. Semua tentang perempuan itu memang polos dan baik. Perempuan itu juga lembut, penyayang yang kemudian membuatnya bercita-cita jadi perawat. Ingat sekali dulu Gema luka karena permainan futsal di lapangan. Kemudian datang Tari sambil membawa perlengkapan P3K. "Nanti kalau kamu luka datang lagi aja ke aku, aku pas gede mau jadi perawat, jadi aku bakal rawat kamu gratis!" Sekelebat ingatan itu membuatnya ikut bersedih karena Tari harus masuk jurusan Ekonomi dan bukannya Keperawatan seperti yang ia impikan. Padahal ia inin sekali di rawat seperti yang di janjikan kepadanya selama ini. Ingatan yang terputar di kepalanya seperti kaset rusak itu tiba-tiba terhenti saat mendengar dering telepon. "Saya kan udah bilang, meetingnya di undur. Kalau kliennya gak mau yah terserah dia!" "Pak Gema, ini saya pak." Gema terdiam sebentar. "Kan saya udah bilang laporinnya malam." "Saya lagi di depan rumah Mbak Tari pak." "Terus?" Gema mulai menaikkan alisnya bertanya-tanya. Suara di seberang terdengar panik, dibumbui juga dengan beberapa saut paut keributan. "Mbak Tari Pak. Dia lagi kesulitan di sini." Nafasnya tiba-tiba tersengal. "Kamu gerak sekarang! Saya akan ke sana dalam 15 menit." Ujarnya tanpa basa-basi dan langsung memakai jas nya di meja. Ia segera keluar dari rumah itu tanpa pikir panjang bahkan tanpa mengingat untuk berpamitan dengan wanita yang berstatus istrinya itu. Hanya satu nama wanita yang ada di pikirannya sekarang. Dan itu bukan Ajeng, tapi Tari. Mantan pacarnya yang sudah ia sukai sejak Sekolah Menengah Pertama. Gema tanpa pikir panjang mengemudi dalam kecepatan tinggi. Tidak ada sesuatu yang kebih darurat dibandingkan keselamatan perempuan yang sedang memenuhi benaknya itu. Selama ini ia memang memantau kegiatan Tari, bukan hanya sekedar ia yang datang menyaksikan dari jauh, tetapi mendatangkan orang suruhannya juga untuk mengawasi. Bukan 15 menit, ia datang ke lokasi yang dikirimkan dalam 12 menit kemudian. Laki-laki itu tanpa sengaja bertatapan dengan Tari sejenak sebelum akhirnya sadar. Ia kini sedang berada di ruang tunggu IGD. Terlihat tubuh lemas Tari sedang duduk di kursi tunggu dengan cemas. Gema kemudian mengisyaratkan orang suruhannya agar pergi meninggalkan mereka berdua. Kemudian pria itu pun bergerak untuk duduk di samping Tari. Perasannya campur aduk menyaksikan perempuan itu yang sedang kalut. "Jadi selama ini kamu ngawasin aku?" Tari memulai pembicaraan meski tatapannya menunduk. Ingin rasanya Gema rangkul perempuan itu di dalam peluknya andai ia tidak akan di tolak. "Aku pikir aku ngawasin kamu dari jauh aja udah cukup " Laki-laki itu menggela nafasnya. "Kalau kamu terganggu aku minta —" "Makasih" Setidaknya setitik gengsi wanita itu ia turunkan hanya demi mengucapkan kata itu. Hal yang membuat pria disebelahnya dapat bernafas lega. "Kamu kenapa gak pernah hubungin aku pas kamu susah?" Tari terkekeh sinis. "Yakali lah, istri kamu gimana?" "Aku bisa tetep bantu kamu meskipun aku udah nikah." Tari menggeleng. "Gak pantes Gema." Keduanya terdiam. Bingung sebenarnya ingin membahas apa. Gema takut perempuan di sebelahnya ini tidak nyaman jika ia coba dekati. Sementara Tari berusaha agar tidak membawa perasaan atas perlakuan Gema selama ini padanya. "Kamu udah pernah bawa ibu kamu berobat kan?" Ujar Gema untuk menghilangkan keheningan di antara mereka. Perempuan itu mengangguk. "Udah, tapi harus di rawat jalan. Soalnya gak di tanggung BPJS buat rawat intensif. Inhaler nya aja susah aku beli soalnya kemahalan." Tari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya saking pusingnya ia mencari jalan keluar Gema terdiam. Selama ini, perempuan itu hanya tau bekerja selama hidupnya. Sampai harus merelakan cita-citanya karena persoalan ekonomi. Ternyata meskipun sudah bekerja keras, Tari masih tetap kesusahan seperti ini. "Aku bakal ganti kok biayanya. Tadi juga orang suruhan kamu bayarin aku—" "Gapapa Tar, aku seneng bantuin kamu." Tari menatap kata pria yang beristri itu. "Tapi aku gak enak Gema, istri kamu gimana?" "Dia juga pasti lakuin hal yang sama kalau di posisi aku." Perempuan itu kembali menunduk. "Aku gak tau harus bales pake apa." "Gak usah bales apa-apa" Gema menyaut. "Aku pasti temenin kamu kapan pun, bilang aja." "Kamu tuh gak ngerti situasinya sama sekali yah. Sekarang kan udah beda. Kamu udah nikah. Kamu gak tau susahnya aku buat batesin diri!" Hingga pertahanan pria itu runtuh. Ia memeluk Tari agar setidak nya dapat menenangkan perasaan kalut wanita itu. Ia tau sekarang ini Tari sedang tertekan berat. "Kamu gak usah batesin diri. Aku tungguin kamu kelepasan padahal."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD