Juan keluar dari kamar itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah sudah berapa kali ia menghela nafas lelah. Di tuntut sana-sini. Kebingungan sana-sini. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar Ajeng. Ia tidak langsung membuka lebar pintu itu. Ia mengintip terlebih dahulu. Mengecek situasi di dalamnya. Tapi ternyata wanita iu tenang. Ia pun membuka lebar pintu. Juan menyaksikan Ajeng yang tengah tertidur pulas. Ia sontak kaget saat ada seseorang dari belakang yang menepuk pundaknya pelan. "Kamu nggak usah khawatir. Dia udah nggak papa kok." Keduanya pun duduk di ruang tamu. Tangan Juan mengecek resep obat yang di tuliskan di atas secarik kertas itu. "Dia udah ketergantungan obat tidur. Tadi saya kasih jamu yang kamu beliin. Untungnya ampuh. Tapi nggak bakal senyenyak itu, dia baka

