Ajeng menghentakkan kakinya kesal. Ia menggigit bibir bawahnya tanpa peduli akan terluka atau tidak. Tangannya sudah lelah di tarik oleh laki-laki itu. Sudah beberapa kali ia memberontak dan mengancam tapi untuk sekali pun Juan tak mengindahkan hal itu. "Okay-okay! Aku nggak gangguin cewek itu. Udah dong, mau kemana sih?" Ujar Ajeng jengah. Juan masih belum berkutik. Ia lalu membawa tubuh gadis itu masuk ke dalam ruang kesenian miliknya. "Aku nggak masalah kalau Ibu mau apain dia. Ngancem, ngomel, marahin dia terserah! Masalahnya ibu nggak bisa kontrol emosi ibu. Lagian, kenapa juga harus ke taman? Nggak ingat terakhir kambuh tuh —” "Husttttt!" Ajeng menutup kedua telinganya dengan tangan. Ia memandang kesal ke arah laki-laki itu. "Kenapa sih sumpah." Omelan Juan itu bahkan sedet

