“Enak?”
Tiana menoleh, lalu mengangguk. “Mau coba? Tapi bekasan gue gapapa?”
“Coba dikit.” Djorka menggunakan sedotan miliknya karena Tiana yang menyuruh. Djorka pun pastinya ingin menggunakan sedotan miliknya, kan?
“Kenapa gitu mukanya?” Tiana menahan tawa. “Nggak enak ya?”
“Enak kok, cuma kemanisan buat gue.”
“Padahal ini less sugar. Lo sukanya yang pahit, kebiasaan Americano sih.”
“Iya. Lidah gue sukanya yang pahit. Kok lo tahu gue suka Americano?”
“Oh? Dari kemarin kayaknya lo belinya Americano terus,” Tiana beralasan.
Djorka memandangi Tiana sesaat, penuh tanda tanya.
“Lo peka juga ya sama sekeliling,” ujar Djorka kembali menyeruput minumnya.
Tiana berdehem pelan. Ini bukan soal peka, tapi Tiana terlalu hafal pada apa yang Djorka tidak dan sukai.
“Jadi kenapa lo nggak jadi ambil jurusan kedokteran?”
Djorka meletakkan cup minumannya, menatap lurus ke depan. Danau kampus mereka memang salah satu spot bersantai terbaik di kampus.
“Lo pasti tau kan waktu kecil Ryuu itu kesehatannya sensitif banget. Nggak cuma gue, Kak El juga pengen jadi dokter. Dan itu semua alasannya cuma 1, karena Ryuu. Sampai SMP akhirnya El berubah pikiran, sedangkan gue masih dengan keinginan yang sama. Apalagi waktu itu Ryuu ambil sekolah yang berbeda dan lumayan jauh dari sekolah gue. Waktu naik kelas 3 SMA, gue deeptalk sama Papa. Sejujurnya, beliau nggak pernah ngelarang gue buat ngambil langkah dan keputusan apa pun. Papa sama Bunda juga dukung 100% keinginan gue buat ambil kedokteran.” Djorka menjeda.
Ia menatap jauh ke depan, kemudian menolehkan wajahnya ke samping, memandangi Tiana dengan sedikit sudut bibir tertarik, membentuk senyuman tipis nan hangat.
“Tapi ada 1 pertanyaan Papa yang bikin gue terdiam lama, susah buat ngejawab.” Djorka menarik napas dalam. “Papa tanya, jadi dokter itu hanya untuk Ryuu atau untuk diri gue juga?”
Tiana sudah dengar cerita perjalanan Djorka dalam memutuskan ambil jurusan, tapi untuk cerita yang satu ini, ia benar-benar baru mendengar dari si empunya cerita.
“Awalnya gue pikir apa pun untuk Ryuu ya otomatis udah untuk gue juga. Tapi pertanyaan Papa hari itu bikin gue mikir ulang. Terus Papa tanya lagi, kalau ternyata setelah jadi dokter gue nggak bisa mencapai harapan gue untuk Ryuu gimana? Apakah gue akan menyesal? Atau bahkan akan kehilangan motivasi?”
Djorka tersenyum lebih lebar. “Gue mikirin perkataan Papa semalaman. Besoknya gue ngobrol sama Ryuu, gue nggak tau juga kenapa tiba-tiba dia mau bahas masalah itu sama gue. Ryuu larang gue ambil kedokteran kalau alasan gue sebatas demi dia. Bukan karena Ryuu nggak percaya kemampuan gue-“
Tiba-tiba Tiana menyahuti, “Tapi karena menurut Ryuu sia-sia orang sehebat lo ada di kedokteran dengan alasan sekecil itu.”
Djorka menoleh lagi pada gadis di sebelahnya. Entah sejak kapan mereka menjadi begitu dekat. Bisa menghabiskan waktu duduk bersantai di taman kampus, hanya berdua, dan tidak dalam event apa pun.
“Ryuu pasti ngasih tau lo ya?”
Tiana tak langsung menjawab. Seperti ada yang ingin ia katakan, tapi kemudian tertelan dan hanya berganti menjadi sebuah senyum tipis.
“Orang-orang mikir gue nggak masuk kedokteran karena udah di setting Opa buat ngurus perusahaan. Padahal kalau gue nggak mau juga mereka nggak bisa maksa.”
“Djor, gue boleh nanya nggak?”
“Sure. Tanya apa?”
“Lo sangat mendengarkan Ryuu ya?”
“Hmm bisa dibilang gitu sih.”
“Untuk apa pun itu?”
Djorka pandangi Tiana, kali ini tanpa senyum, namun tetap terlihat hangat.
“Sebagian besar. Mungkin 85%.”
“Termasuk hari ini?”
Alis Djorka terangkat sedikit, lalu ia tertawa kecil. “Lo beneran ngira gue disuruh Ryuu ya?”
Tiana mengangguk. Pria itu menarik napas dalam.
“Kalau itu bikin lo ngerasa lebih lega ya anggap aja begitu.”
Jawaban yang sedikit ambigu.
“Lo mau ke mana lagi?” Djorka memecah keheningan yang berlangsung beberapa menit.
“Nggak ada sih, udah beres semua.”
“Mau langsung pulang?”
Tiana mengangguk.
Djorka memandangi jam tangannya. “Masih jam segini. Gimana kalau makan siang dulu?”
“Oh iya, boleh. Gue yang traktir.” Gadis itu bangkit. Djorka tertawa pelan. Keduanya melangkah meninggalkan area danau bersama obrolan ringan seputar rumput kampus mereka.
…
“Kenapa?”
Tiana menghela napas pelan. “Lo bisa habisin Americano berapa cup dalam sehari?”
Sejak mereka berangkat hingga detik ini, Tiana tak melihat Djorka minum air lain selain Americano.
“Tergantung sikon. Kalau lagi banyak kerjaan ya 15 sampai 20 cup.”
Bola mata Tiana sontak membesar. Tawa Djorka pecah.
“Becanda, Ti. Nggak sampai segitu juga. Nggak tidur-tidur ntar gue. Ya paling banyak 10, itu pun nggak sering, cuma pernah.”
Tiana terlihat agak lega.
“Lo sendiri, sesuka itu sama teh leci?”
“Hm.”
“Kenapa?”
“Enak.”
“Cuma karena itu?”
Dahi Tiana sedikit mengerut. Mungkin ada banyak alasan yang bia Tiana paparkan kenapa ia bisa sangat suka teh leci. Tapi rasanya tak perlu, sebab alasan enak saja sudah cukup baginya.
“Ada orang bilang kadang 1 alasan cukup untuk kita suka banget sama sesuatu.”
“Siapa yang bilang?”
Tiana yang hendak menyuap spaghetti ke dalam mulut terdiam sebentar, mencoba mengingat.
“Adalah orang.”
Djorka tertawa lagi. Siang ini Djorka biarkan Tiana mentraktirnya makan. Bahkan saat kasir menatapnya agak lama ketika Tiana yang membayar, dengan enteng Djorka berkatq, “Dia banyak duitnya, Mba. Temen saya billioner.”
Tiana melotot, lalu dengan senyum tipis menerima kartu yang dikembalikan oleh kasir.
“Kan gue bener,” ucap Djorka saat mereka hendak masuk mobil. “Orang baik itu sama aja kayak billioner.“
“Emang gue orang baik?”
“Hm. Emang lo nggak sadar?”
Tiana memasang seatbelt. “Biasa aja sih.”
“Nah itu bukti kalau lo orang baik. Nggak merasa kalau dirinya baik.”
Djorka melaju mobilnya.
Beberapa menit berlalu dalam lantunan musik.
“Makasih banyak ya, Djor. Maaf gue ngerepotin lo.”
“Santai aja. Btw jangan makasih lagi, lo udah ngucapin lebih dari 10 kali dari tadi.”
“Nggak enak aja gue.”
“Harusnya gue yang lebih nggak enak. Lo udah jagain Ryuu selama ini. Gue nggak akan pernah bisa balas kebaikan lo.”
Dan yaa, Tiana sudah bisa menebak. Djorka hanya sedang berterima kasih padanya. Ia pun tak berharap yang aneh-aneh. Bagi Tiana terlalu jauh dan hampir tidak mungkin.
“Mungkin ke depannya gue masih akan ngerepotin lo, Ti.”
“Tenang aja, Djor. Ryuu udah kayak saudara buat gue. Bukan sekedar sahabat lagi. Jadi apa yang gue lakuij buat dia, itu emang udah seharusnya.”
Djorka mengangguk.
“Tapi jujur, gue agak kaget dikit.”
Djorka menoleh.
“Nggak nyangka aja ternyata lo bisa banyak ngomong.”
“Selama ini gue juga aslinya banyak ngomong kok, mungkin lo nggak tau karena kita jarang ketemu dan ngobrol.”
Tiana manggut-manggut. Selebihnya tak banyak lagi obrolan. Djorka fokus mengemudi dan Tiana sibuk menikmati pemandangan. Hanya musik yang mengisi perjalanan kembali ke rumah Tiana.
…
Kopi dan teh itu mirip, tapi tetap saja tidak sama. Americano sudah pasti pahit. Teh leci walau diberi gula hanya secuil pun kesannya akan tetap seperti minuman manis. Tapi ini jelas bukan tentang minuman.
“Lagi ngapain?”
“Eh Bu, nggak ada, lagi lihat-lihat film, tapi belum ketemu yang cocok.”
Ibu duduk di sebelah Tiana.
“Kenapa, Bu?”
Ibu menarik napas dalam. Ia kemudian menceritakan tujuan kedatangan Ibu Randy tadi pagi. Tiana memang tak memikirkan yang terlalu jauh, walau sempat menduga sikap aneh Ibu Randy dan sang anak. Tapi mendengar penjelasan ibunya, Tiana benar-benar terkejut.
“Ini aja belum lulus, Bu, kuliahnya. Masih harus co-as, terus internship. Masih panjang perjalanannya.”
“Ibu udah jelasin, tapi Ibu Randy ngotot bilang nggak apa-apa. Beliau juga bilang mau tanggung jawab bantuin biaya kuliah kamu.”
“Ibu jawab apa?”
“Ya ibu tolak dong. Ibu jelasin bail-baik.”
“Terus?”
“Beliau tetap pengen lamar kamu. Katanya tunangan dulu nggak apa-apa. Walau dua tahun atau tiga tahun juga mereka mau nunggu.”
Tiana menghela napas. “Aku belum kepikiran ke sana, Bu. Mikirin kuliah aja udah pusing. Ini juga pulang sengaja ninggalin semua buku di kos karena pengen bener-bener istirahat.” Walau Tiana hanya akan bertahan 2 hari dan tetap berakhir mengakses seluruh informasi seputar pelajaran di internet. Atau kadang ia bisa habiskan hari-hari liburnya dengan menonton video seputar dunia medis di y*utube.
“Ibu tadi udah bilang kok, nggak bisa ambil keputusan untuk kamu. Kalau beliau masih ngotot paling nanti akan datang lagi buat ketemu kamu langsung.”
Tiana hanya bisa menghela napas. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
“Ryuu..”
“Ibu keluar dulu. Mau Ibu bikinin pisang goreng?”
Tiana mengangguk antusias.
Ibu meninggalkan kamar.
“Hallo, Ryuu. Ada ap—“
“Ti..” suara di seberang terdengar lirih.
***