Aruna digiring oleh kedua maid Rafael, Hilda dan Dora. "Mari...kami akan mengantarmu,"ucap Dora dengan lembut. Namun langkah Aruna terhenti, keraguan dan juga rasa cemas yang terpancar di sorot mata Aruna nampak jelas.
Aruna menggeleng pelan."Tidak Dora, tunggu...Aku tidak mau ke sana, di sana bukan tempatku, aku takut Dora."
Dora menatap lekat wajah Aruna dengan tatapan sendu, matanya berkaca-kaca, Dora tahu apa yang dirasakan Aruna."Aruna, yakinlah, tidak akan terjadi apa-apa padamu. Percayalah padaku."Dora menggenggam tangan Aruna. Meski batinnya prihatin akan apa yang menimpa Aruna, Dora berusaha tersenyum getir.
"Baiklah, aku percaya padamu Dora."Aruna kembali melangkahkan kakinya. Perlahan, nampak begitu berat kaki kecil itu melangkah. Menuju kamar utama di mansion itu, dimana seorang mafia ada di dalamnya. "Tuhan, lindungi aku,"suara batin Aruna.
Sementara Rafael tidak ada di kamarnya, dia saat ini sedang berada di kolam renang.
Malam itu udara terasa hangat, aroma klorin dari kolam renang menguar lembut bersama angin malam. Lampu-lampu taman berkilau redup, memantulkan cahaya di permukaan air yang tenang.
Rafael berjalan mendekati kolam, melepas jasnya dan menyandarkannya di kursi panjang. Hanya dengan kemeja putih yang digulung hingga siku, ia duduk di tepi air, memandangi langit malam tanpa ekspresi.
Langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
“Honey, kau sendirian?” suara Alexa terdengar menggoda.
Rafael tidak menoleh. “Kau tidak pernah bisa tidur tanpa membuat keributan, ya?”
Alexa tersenyum, menurunkan handuk yang menutupi tubuhnya. baju renang bikini yang ia kenakan membuatnya tampak percaya diri seperti biasa, seksi dan menggoda. Ia melangkah ke air perlahan, membuat riak kecil yang memantul di wajah Rafael.
“Keributan kadang membuat malam tak terasa sepi,” katanya sambil berenang mendekat."Karena keributan kecil yang kubuat, akan membuatmu nyaman, dan puas."
Rafael hanya diam. Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang jauh, bukan pada Alexa, bukan pada kolam, tapi pada sesuatu yang lain. "Sedang apa dia, apa dia sudah ada di kamarku, atau...dia menolak perintahku lagi?"Rafael bergejolak dalam batinnya.
Alexa mendekat, mencoba menarik perhatian Rafael dengan sentuhan lembut di bahunya.
“Kau bahkan tidak melihatku,” ujarnya sedikit kesal."Apa yang kau pikirkan Rafael?Hei...Aku disini."
Rafael menghela napas panjang, akhirnya menatap wanita itu.
“Aku melihatmu,” jawabnya datar, “tapi bukan itu yang kucari malam ini.”
Alexa menatapnya tak percaya. “Apa maksudmu?”
Rafael berdiri, berjalan menjauh dari tepi kolam. “Pergilah tidur, Alexa. Jangan buang tenagamu untuk menarik perhatianku, karena aku sedang tidak ingin diganggu."Rafael berlalu dan memakai kembali kimononya. Dia mengurungkan niatnya untuk berenang. Seolah moodnya sudah hancur oleh kehadiran Alexa.
Wanita itu menggigit bibirnya, antara marah dan bingung."Arrrgh, shit."
Namun yang tidak ia sadari, di balkon lantai atas, seorang gadis berdiri diam, menatap pemandangan itu dengan hati yang tak karuan, yaitu Aruna.
"Rafael menolak wanita itu?Tapi...bagaimana bisa, bukankah mereka memiliki hubungan?"
Dari tempatnya, ia melihat bagaimana Rafael menolak Alexa, bukan dengan marah, tapi dengan dingin yang menyakitkan. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak.
Antara lega dan entah apa yang lain.
Cahaya lampu kolam menyorot wajah Rafael yang menatap ke arah balkon. Sekilas, pandangan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat waktu seolah berhenti."Deg."Jantung Aruna berdegup kencang.
Aruna cepat-cepat mundur ke balik tirai, jantungnya berdegup kencang.
“Apa yang sedang aku rasakan ini…” bisiknya pelan.
Sementara Rafael tetap berdiri di bawah, menatap arah balkon itu lama, sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kolam tanpa sepatah kata pun.
Aruna memegang dadanya, yang terlihat naik turun akibat tatapan Rafael dan dirinya bertemu. Ada perasaan aneh yang dia rasakan saat ini. "huhhh, huhhh,"Aruna berusaha mengatur nafasnya.
Suara langkah kaki terdengar makin jelas mendekat ke arah kamar. Aruna bingung harus bagaimana. "Duh, bagaimana ini, dia...menuju kemari."Aruna akhirnya menuju ranjang dan menutup wajahnya menggunakan selimut.
"Ceklek."Suara pintu dibuka. Aroma parfum maskulin mahal menyeruak. Rafael tahu jika Aruna pura-pura tidur. Dia hanya tersenyum, setidaknya gadis yang selalu melawannya itu, saat ini ada di kamarnya.
"Kau sudah tidur?"Rafael mendekatkan wajahnya dan mencium kening Aruna. Nampak Aruna yang mengerutkan keningnya tanda dia ketakutan.
"Ternyata..Kau hanya pura-pura, baiklah kalau begitu, aku akan tidur di sofa saja, supaya kau merasa nyaman."Rafael menjauh dan berdiri di depan cermin. Dia membuka satu persatu pakaiannya.
"Tidak...kau mau apa?"Aruna terperanjat, matanya membulat,"Kkkau. mau berbuat m***m?"
"Apa?m***m?Hei...Aku mau tidur, dan aku tidak mungkin memakai pakaian basah saat tidur."Rafael mengambil pakaiannya untuk tidur.
"Tttapi kau bisa ganti di walking closet, atau .."
"Memangnya kau siapa?Ini kamarku, jadi terserah aku mau ganti dimana."Rafael mendekatkan wajahnya pada Aruna. "Tidurlah, sudah malam."
"Biar aku saja yang tidur di sofa, anda ...tidur di ranjang saja."
"Kita tidur berdua di ranjang, ini perintah."
"Apa ? Tidak mau."Aruna menggeleng dengan cepat. Dia berusaha keluar dari kamar namun Rafael menekan remot sehingga pintunya terkunci otomatis.
"Buka...buka...pintu nya."
"Kau mau apa, sudahlah, ayo sini.. tidurlah."Rafael menepuk ranjang kingsizenya.
Dengan langkah ragu, Aruna menuju ranjang tersebut. Dia memejamkan matanya, bukan karena mengantuk, tapi karena takut yang mendera perasaannya saat ini. Tak lama dengkuran halus terdengar dari Aruna. Rafael menyelimuti gadisnya. Dan membelai rambutnya.
"Bagaimana bisa gadis sepertimu, bisa mengalihkan pikiranku, dan kau sangat keras kepala dan pembangkang." Rafael tersenyum tipis.
Keesokan paginya, Aruna terbangun, dia terkejut saat tangan besar melingkar di pinggang nya. Dan wajahnya sangat dekat dengan Rafael. Kakinya berada diatas perut Rafael. Namun ketua mafia tersebut, tidak keberatan.
"Hahhh, apa ini, kenapa kakiku bisa berada di perutnya, kalau dia sadar bisa mati aku."Aruna mengerjapkan matanya. Aruna pun menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya dan segera ganti baju.Dia tidak lupa dengan tugasnya sebagai maid."Hei...lihat itu, dia pandai sekali menggoda tuan Rafael."Hilda nampak bebrisik pada temannya.
"Enggak salah, dia ..tidur di kamar tuan Rafael."
Suasana mansion terasa tegang. Para pelayan bekerja dengan canggung, mereka tahu sejak tadi pagi, Alexa sudah membentak dua orang maid hanya karena hal sepele.
Wanita itu duduk di ruang tamu dengan wajah muram, masih mengenakan gaun sutra tipis. Cangkir kopinya sudah dingin, tapi amarah di matanya masih menyala.
“Dia pikir siapa gadis itu?” gumam Alexa pelan namun tajam.
Seorang pelayan menunduk takut, tak berani menjawab.
Alexa menatap ke arah tangga, tempat Aruna baru saja muncul dengan seragam sederhana, membawa map berisi dokumen untuk diserahkan ke ruang kerja Rafael. Rambut gadis itu dikuncir rapi, wajahnya polos tanpa riasan.
Suasana makan malam yang tadinya hening berubah menegangkan dalam sekejap.
Aruna melangkah perlahan membawa teko wine, memastikan setiap langkahnya teratur. Ia menunduk dalam, mencoba tidak menatap siapa pun, apalagi Rafael.
Namun ketika sampai di sisi kiri meja tepat di tempat Alexa duduk sesuatu terjadi.
Kaki Alexa bergeser pelan ke depan, menghadang tanpa terlihat.
Aruna yang tidak menyadarinya tersandung sedikit. Teko di tangannya oleng, dan seketika "brak!"
Cairan merah tumpah mengenai meja, lalu mengalir ke arah gaun Alexa yang berwarna merah muda lembut.
“Ya Tuhan!” seru Alexa kaget, berdiri dengan napas tersengal. Gaun mahalnya kini ternoda warna merah seperti darah.
Semua pelayan menahan napas. Leonardo langsung bangkit dari kursinya, tapi Rafael belum bergerak — hanya menatap dengan mata dingin yang gelap.
“Saya… saya minta maaf, Nona,” ujar Aruna panik, lututnya lemas. Ia buru-buru mengambil serbet, mencoba membersihkan noda di meja.
Namun Alexa menepis tangannya kasar.
“Jangan sentuh aku, dasar pelayan tidak berguna!”
Suara tamparan keras terdengar, menggema di ruang makan megah itu.
Pipi Aruna langsung memerah, matanya bergetar menahan air mata.
Rafael berdiri. Kursinya berderit keras hingga suasana membeku total.
Tatapannya tajam, menusuk ke arah Alexa yang masih memegangi ujung gaunnya.
“Cukup,” ucapnya datar, tapi tegas.
Alexa menoleh, wajahnya masih penuh amarah. “Dia menumpahkan minuman ke bajuku, Rafael! Lihat ini—!”
“Sudah kubilang, cukup.”
Nada suara Rafael kini lebih rendah, tapi justru membuat Alexa terdiam. Semua pelayan menunduk makin dalam.
Ia berjalan perlahan ke arah Aruna. Gadis itu masih menunduk, menahan isak kecil yang tak bisa ditahan lagi.
Rafael berhenti tepat di depannya, menatap noda wine di lantai, lalu wajah Aruna yang masih basah air mata.
“Pergilah ke dapur. Ganti bajumu. Aku tidak mau melihatmu gemetar di sini,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak marah tapi dinginnya justru terasa seperti pelindung.
Aruna mengangguk cepat, suaranya hampir tak terdengar. “Baik, Tuan.”
Alexa mendengus kesal. “Jadi kau malah membelanya?”
Rafael berbalik, menatap Alexa dengan pandangan yang begitu tajam hingga wanita itu tersentak mundur setapak.
“Kalau aku ingin seseorang yang membuat keributan di mejaku,” katanya dingin, “aku tak perlu menyewamu untuk itu.”
Alexa terdiam, bibirnya bergetar menahan marah, tapi ia tahu tak ada gunanya melawan ketika Rafael sudah berbicara seperti itu.
Aruna berjalan cepat meninggalkan ruangan, menunduk, menahan air mata yang jatuh satu per satu.
Dan di balik tatapan dingin Rafael, ada sesuatu yang lain: rasa bersalah dan keinginan kuat untuk melindungi gadis yang baru saja ia biarkan terluka di depan matanya sendiri.
Kata-kata itu menancap di hati Aruna seperti belati."Iya, saya sadar."
Aruna menjawab sambil menggenggam map itu erat-erat, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Alexa mendekat lebih lagi, berbisik dengan nada menghina,
“Jangan bermimpi. Rafael hanya bosan. Dia akan membuangmu begitu saja saat sudah puas bermain.”
"Cukup."
Bersambung...