Sarapan bersama

1528 Words
Malam itu, kamar Rafael terasa lebih mencekam dari biasanya. Lampu gantung besar hanya menyala separuh, menyisakan bayangan panjang di dinding marmer. Aruna berdiri di tengah ruangan, menunduk, jari-jarinya menggenggam ujung pakaian lusuhnya erat-erat. Rafael duduk di kursi kerjanya, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Di meja di depannya, sebuah laptop terbuka layar menampilkan rekaman video yang membuat jantung Aruna hampir berhenti berdetak. Di layar itu tampak dua sosok yang sangat ia kenal: ayah dan ibunya. Mereka dikelilingi oleh beberapa pria berpakaian hitam, wajah-wajah asing yang tidak bersahabat. “A-Apa yang kau lakukan pada mereka?” suara Aruna bergetar, nyaris tak terdengar. Rafael mengangkat pandangannya perlahan, menatap tajam ke arah gadis itu. “Aku belum melakukan apa pun,” ucapnya datar. “Dan semoga tidak perlu.” Aruna menatap layar itu dengan mata membesar. Ia berusaha maju, tapi Rafael segera menutup laptopnya dengan satu hentakan keras. Suara dentuman itu membuat Aruna tersentak. “Kau tidak akan menyentuh mereka,” ujar Rafael dengan nada yang tenang namun berbahaya. “Selama kau… menuruti apa yang aku katakan.” Aruna menatapnya dengan campuran takut dan marah. “Kau... kau tidak punya hati,” bisiknya dengan suara bergetar. Sudut bibir Rafael terangkat sedikit — senyum dingin tanpa rasa. “Aku tidak butuh hati untuk memimpin dunia seperti ini, Aruna. Aku hanya butuh kendali. Dan sekarang, kau adalah salah satu bagiannya.” Air mata mengalir di pipi Aruna, namun ia menggigit bibir, menahan tangis agar tidak terdengar. Ia tahu melawan berarti menghancurkan keluarganya sendiri. “Baik,” akhirnya Aruna berbisik. “Aku akan lakukan apa pun yang kau mau. Asal jangan sakiti mereka.” Rafael menatapnya lama lama sekali, hingga tatapan itu terasa menusuk jantung. Namun di balik sorot dingin matanya, ada sesuatu yang bergetar halus… sesuatu yang bahkan Rafael sendiri tidak mengerti. Ia memalingkan wajah, berusaha menepis perasaan itu. “Kau boleh pergi sekarang,” ucapnya pelan. “Dan ingat, satu langkah salah… mereka yang akan menanggung akibatnya.” Aruna menunduk, lalu melangkah perlahan keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, Rafael menatap laptop yang kini mati. Kedua tangannya mengepal di meja dan untuk sesaat, ia sendiri membenci cara kekuasaan membuatnya kehilangan kendali atas nuraninya "Tuhan, apa yang akan terjadi padaku!" Langkah hak tinggi terdengar mendekat. Aruna berhenti sejenak, menoleh dan benar saja, Alexa berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur satin berwarna gelap, rambutnya terurai sempurna, senyumnya samar tapi menusuk. “Kau masih di sini?” tanyanya pelan, suaranya terdengar seperti nada ramah, namun dingin di ujungnya. “Masih ada tugas, Nona,” jawab Aruna sopan tanpa berani menatap. Alexa melangkah masuk, mengamati gerakan Aruna dari belakang. “Rajin sekali,” ujarnya sambil menyentuh pinggiran meja dapur. “Kau bahkan lebih tekun dari semua pelayan lain. Tidak heran Rafael mulai... memperhatikanmu.” Aruna sontak menoleh, wajahnya memucat. “A… apa maksud Nona?” Alexa terkekeh pelan, mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. “Jangan pura-pura polos. Aku tahu tatapan pria sepertinya. Aku sudah bersamanya berbulan-bulan. Aku tahu kapan dia mulai tertarik pada seseorang.” Aruna menunduk cepat, menggenggam ujung celemeknya kuat-kuat. “Saya hanya bekerja di sini, Nona. Tidak lebih.” “Tentu saja,” bisik Alexa, suaranya seperti racun lembut. “Tapi dunia ini kejam, gadis kecil. Pria sepertinya hanya bermain sebentar… lalu pergi. Percayalah, aku tahu lebih banyak dari yang kau sangka.” Aruna tak menjawab. Ia berusaha menahan getaran di matanya, tapi sorot luka tak bisa disembunyikan. Alexa tersenyum puas, membalikkan badan dan melangkah pergi. Namun sebelum ia melewati pintu, suara berat Rafael terdengar dari arah lorong. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Aruna yang berdiri kaku, jantungnya berdetak tak karuan. Ia tak tahu mengapa kata-kata itu terasa begitu... melindungi."Tuhan...apa yang kukatakan?"Aruna memegang dadanya yang kini berdegup sangat kencang. ****** Di rumah kecil di pinggiran kota itu, suasana pagi terasa hampa. Meja makan berantakan dengan botol minuman kosong berserakan di lantai. Di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya duduk memeluk selendang lusuh, matanya bengkak oleh tangis yang tak kunjung reda. “Anakku… Aruna… di mana kau sekarang, Nak…” suara Mariana, ibu Aruna, terdengar parau dan gemetar. Air matanya menetes lagi, membasahi kain di tangannya. Ia masih tak percaya bahwa putrinya, satu-satunya alasan ia bertahan selama ini dibawa paksa oleh orang-orang bersetelan hitam. Semua terjadi begitu cepat, bahkan sebelum sempat ia melindungi Aruna. Di sisi lain ruangan, Bimo, suaminya, duduk bersandar di kursi dengan rokok di tangan, wajahnya datar tanpa ekspresi. “Sudahlah, Mariana,” ucapnya acuh. “Kalau bukan dia, aku pasti sudah mati karena hutang-hutang itu.” Mariana menoleh dengan mata merah dan marah. “Kau tega bicara seperti itu?! Itu anakmu, Bimo! Darah dagingmu sendiri!” Bimo mengembuskan asap rokok pelan, tidak menatap istrinya. “Setidaknya dia masih hidup. Mafia itu tak akan membunuhnya kalau dia tahu diri.” "Plakkk."Tamparan keras melayang. Mariana berdiri dengan tubuh gemetar, menatap suaminya dengan pandangan kecewa yang dalam. “Kau bukan ayah! Kau pengecut!” Bimo terdiam. Tapi bukan karena tersinggung, karena di dalam hatinya, rasa bersalah itu memang nyata. Ia hanya terlalu tenggelam dalam rasa putus asa untuk mengakuinya. Mariana jatuh berlutut, menangis sesenggukan. “Aruna pasti ketakutan… dia pasti menangis sendirian…” Ia menatap foto kecil Aruna yang tergantung di dinding, senyum lembut gadis itu saat mengenakan toga SMA. “Maafkan Ibu, Nak… Ibu tak bisa melindungimu…” Hujan mulai turun di luar, menambah suram suasana. Namun di balik awan kelabu itu, jauh di tempat berbeda, Aruna tengah berjuang mempertahankan harga dirinya di rumah Rafael. Ia tidak tahu ibunya menangis setiap malam untuknya, tapi entah bagaimana, setiap kali ia merasa ingin menyerah, hati kecilnya berbisik: "Bertahanlah, Aruna. Ibu percaya padamu." "Sudahlah Mariana, makanlah, nanti kau sakit."Bimo mencoba mendekati Mariana. "Bisakah kau berhenti minum minuman keras?Tidakkah kau sadar? Semua ini akibat ulahmu?"Mariana sambil terisak. "Hei...dengarkan aku, kau tak perlu menyalahkanku. Sudah sewajarnya anak kita melakukan sesuatu untuk menyelamatkan keluarga kita."Bimo dengan terhuyung, mencoba bertahan dengan posisinya. "Hahhhhh, kau memang biadab Bimo, kau tidak punya hati. Bahkan tega pada anakmu sendiri."Marian meninggalkan Bimo dan pergi ke kamar Aruna. Dia mencium kemeja Aruna yang pernah dipakainya. "Nak...ibu akan terus mendoakanmu, maafkan ibu ya sayang." ******* "Mulai hari ini, kau bertugas sebagai pelayan di rumah ini, kau sama seperti mereka!"Ucapan dingin Rafael terdengar sangat tegas namun membuat Aruna sedikit lebih lega. Pagi itu, sinar matahari menembus kaca besar di lantai dua mansion. Suasana rumah mewah itu tampak sibuk; beberapa staf dan pengawal mondar-mandir mempersiapkan kepergian sang tuan rumah. "Silahkan tuan, sarapan sudah siap,"ujar dora pada asisten Rafael. "Baik...kalian siapkan mobil, tuan Rafael akan pergi setelah sarapan."Reno memebri perintah. "Baik tuan,"jawab Salah satu supir Rafael. Dikamarnya yang mewah dan luas, Rafael berdiri di depan cermin, mengenakan setelan jas hitam elegan. Rambutnya disisir rapi ke belakang, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan, sosok sempurna seorang pengusaha sukses. Tak ada yang menyangka bahwa di balik ketenangan wajahnya, tersembunyi sisi gelap yang bahkan para pesaing bisnisnya tak berani sebutkan. "Tuan...sarapan sudah disiapkan."Reno sambil menunduk. "Heummm, apa gadis itu juga ada di bawah?"Rafael dengan nada tanya. "Ehmm sudah tuan."Reno sedikit ragu. Nampak Rafael tersenyum tipis. Membuat Reno bingung melihat sikap tuannya. Yang biasanya nampak dingij dan menakutkan. Rafael menuruni tangga dengan suara sepatunya yang menggema ke telinga seluruh penghuni Mansion. Tatapannya tertuju pada Aruna. Yang tengah sibuk menyiapkan makanan di meja. "Silahkan tuan."Dora dengan lembut. "Hei...kau.." "Ssaya tuan?"Aruna dengan membelalakkan bola matanya. "Iya, duduklah, temani aku makan." "Ttapi..." "Ini perintah!"Rafael dengan nada dingin dan tegas. "Bbaik tuan."Aruna nampak kaku dan ragu. Matanya menatap ke arah semua maid yang melihatnya. Aruna pun mencoba makan dengan perlahan. Sarapan pun selesai. “Semua berkas sudah siap, Tuan,” ucap salah satu asistennya, Reno, sambil menyerahkan map cokelat tebal. Rafael mengangguk singkat. “Mobil sudah di depan?” “Sudah, Tuan. Anda ada pertemuan dengan investor Jepang di Hotel Alvara pukul sepuluh.” Rafael menarik napas dalam. “Baik.” Ia melangkah menuju pintu, namun langkahnya terhenti sesaat ketika melewati ruang makan. Di sana, Aruna sedang menata vas bunga di meja besar. Gadis itu tampak serius, mengenakan pakaian pelayan sederhana, rambutnya diikat rapi, wajahnya tanpa riasan. Tapi justru kesederhanaan itu yang entah mengapa membuat Rafael kembali memandang. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat jantung Aruna berdetak lebih cepat. Ia buru-buru menunduk, pura-pura sibuk. “Jaga rumah,” ujar Rafael datar, meski nada suaranya lebih lembut dari biasanya. Aruna hanya mengangguk pelan. “Baik, Tuan.” Rafael berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh beberapa pengawal berbadan tegap. Begitu mobil hitam mewahnya keluar dari gerbang besar mansion, suasana rumah itu kembali hening. Namun di luar sana, dunia Rafael yang sebenarnya menunggu. Hotel-hotel besar, proyek properti jutaan dolar, dan rapat-rapat bisnis hanyalah bagian dari topeng yang ia kenakan untuk dunia. Di balik layar, Rafael mengendalikan jaringan gelap yang bergerak di bawah bayangan, urusan senjata, keamanan, dan hutang-hutang yang membuat banyak orang bertekuk lutut. Di ruang rapat hotel megah, Rafael duduk di kursi utama. Semua orang memandangnya dengan hormat dan sedikit takut. “Proyek tanah di kawasan timur harus segera selesai,” katanya dengan nada dingin namun berwibawa. “Jika ada yang menghalangi, aku sendiri yang akan turun tangan.” Para investor hanya mengangguk, tak berani membantah. Tapi di sela pembicaraan itu, tatapan Rafael sesekali menerawang, memikirkan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan bisnis atau kekuasaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD