🌼2🌼

1123 Words
Hari itu menjadi titik baru dalam hidup Angel, hari pertamanya bekerja di kantor pusat Merced Group setelah dipindahkan dari perusahaan cabang. Reputasinya sebagai manajer pemasaran yang sukses memajukan cabang membuatnya dipercaya memegang posisi yang lebih besar. Untuk pertama kali dalam kariernya, Angel memiliki ruang kerjanya sendiri, bukan lagi meja kecil di sudut ruangan yang ramai. Ia menyentuh permukaan meja kayu mengilap itu, menatap jendela besar dengan pemandangan kota New York yang sibuk, dan merasakan sesuatu yang lama ia impikan akhirnya menjadi nyata. Suara ketukan lembut terdengar dari balik pintu. Ia menoleh dan menemukan Bella berdiri di sana dengan senyum lebar. Bella, manajer produksi yang dikenal tegas namun hangat, adalah orang pertama yang mempercayai kemampuan Angel dan merekomendasikannya untuk pindah ke kantor pusat. “Pagi! Bagaimana hari pertamamu?” tanya Bella sambil melangkah masuk tanpa ragu, seolah ruang itu memang sudah lama menjadi tempat mereka mengobrol. Angel tersenyum, menatap ruangan yang masih wangi perabot baru. “Aku… sangat menyukai ruangan ini. Tidak menyangka akhirnya punya ruang sendiri. Apa kita beda lantai?” Bella mengangguk sambil mengangkat map yang ia bawa. “Tentu saja. Produksi di lantai tujuh, pemasaran di lantai lima. Tapi tenang, kita masih satu gedung. Kau tidak akan sempat merasa kesepian.” Ia meletakkan map itu di meja Angel dan menambahkan, “Hari ini akan ada rapat besar. Sementara menunggu waktu, kau harus lihat materi yang akan dirapatkan.” Angel membuka map itu, meski sebenarnya ia sudah tahu isinya. “Aku sudah melihatnya jauh sebelumnya. Mantan manajer sebelumku sangat baik. Sayangnya dia harus pensiun karena melahirkan kembar tiga.” Bella menyandarkan tubuhnya ke kursi tamu. “Aku juga menyayangkan itu. Dia sebenarnya ingin bertahan sedikit lagi, tapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Tapi aku sangat bersyukur karena kau akhirnya bisa berada di sini.” Pipi Angel memanas sedikit mendengar itu. “Terima kasih, Bella. Tanpamu, aku tidak akan sampai sini. Serius, aku berutang banyak padamu.” Bella melambaikan tangan seolah ucapan Angel tidak perlu dibahas lebih jauh. “Sudahlah. Kau mendapat posisi ini karena kerja kerasmu. Aku hanya memberi sedikit… dorongan.” Angel tertawa kecil. “Dorongan yang sangat besar, maksudmu.” Bella mengangkat alis pura-pura sombong. “Dan karena dorongan besar itu, aku terima mentraktirku nanti. Kau yang bilang, kan? Jangan tarik kata-katamu.” “Tenang saja,” kata Angel sambil merapikan berkas. “Aku akan mentraktirmu. Apa pun yang kau mau.” “Kau yang bilang, ya. Jangan kaget kalau aku pilih restoran mahal,” gurau Bella sambil berdiri dan merapikan bajunya yang elegan. Bella melangkah ke arah pintu, lalu berhenti sejenak. “Kalau begitu… sekali lagi, selamat datang dan selamat bergabung di kantor pusat, Nona Manajer Pemasaran.” Ia memberikan kedipan penuh arti sebelum membuka pintu. Angel tersenyum lebar, merasakan energi semangat yang mengisi dadanya. “Terima kasih, Bella.” *** Rapat besar itu akhirnya tiba setelah makan siang. Angel melangkah menuju ruang rapat dengan penuh semangat dan percaya diri. Ini adalah momen penting, pertemuan pertamanya dengan jajaran pusat Merced Group. Ia merapikan blazernya, memastikan setiap langkah mencerminkan profesionalitas yang selama ini ia banggakan. Begitu ia membuka pintu, hampir semua orang sudah duduk. Suara percakapan kecil terdengar, namun langsung mereda saat Bella berdiri dan memberi isyarat. “Baik, sebelum kita mulai, aku ingin memperkenalkan seseorang,” ucapnya sambil tersenyum ke arah Angel. Ruangan menoleh serempak. “Ini Angel Hoover, manajer pemasaran baru kita yang sebelumnya sukses memajukan cabang timur.” Beberapa orang mengangguk ramah, sebagian tersenyum, dan beberapa lainnya mengamati dengan rasa ingin tahu. Angel membalas dengan sikap penuh percaya diri yang dipupuk dari pengalaman bertahun-tahun bekerja keras. Ia berdiri sedikit dari kursinya, memperkenalkan dirinya dengan singkat dan profesional. “Halo saya Angel Hoover, mohon bantuannya.” Namun saat ia hendak duduk kembali, pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Angel refleks menoleh dan napasnya langsung tercekat. Di ambang pintu, berdiri seseorang yang seharusnya tidak berada dalam hidup profesionalnya. Seseorang yang seminggu lalu berakhir bersamanya di kamar hotel, tanpa pakaian, tanpa kendali, tanpa alasan. Seseorang yang tiga tahun lalu pernah ia cintai dengan seluruh hatinya dan menyisakan luka yang hingga kini belum betul-betul sembuh. Nathan Merced. Pria itu juga terdiam sesaat. Sorot matanya berubah kaku, membeku, dan jelas-jelas terkejut. Namun hanya berlangsung sedetik. Dalam sekejap, ekspresi profesionalnya kembali, seolah Angel hanyalah pegawai baru yang bahkan belum ia hafal namanya. “Kita mulai rapatnya,” ucapnya datar sambil berjalan menuju kursi di depan. Angel menelan ludah, menahan gelombang panik yang sempat mencuat. Ruangan kembali fokus pada agenda. Bella melanjutkan presentasi, semua orang menunduk pada berkas masing-masing. Tak ada yang sadar bahwa dua orang di ruangan itu sedang bertarung dengan diri sendiri. Angel menjaga wajahnya tetap netral, meski jantungnya berdetak kacau. Ia memaksa diri mencatat, memaksa diri tampak tenang, memaksa diri mengikuti rapat seperti biasa. Seolah pria itu bukan Nathan. Seolah mereka tidak pernah berbagi malam yang panas. Seolah tiga tahun lalu tidak pernah terjadi apa pun. Nathan pun sama. Ia duduk dengan wibawa seorang presdir muda, fokus pada penjelasan proyek baru, mengarahkan diskusi, menunjukkan kedewasaan profesional yang tanpa cela. Tidak ada yang tahu bahwa di balik sisi dingin itu, pikirannya melayang pada sosok wanita yang duduk tiga kursi dari kirinya, wanita yang sama dengan yang ia tinggalkan tiga tahun lalu dan temuinya kembali dalam keadaan paling kacau seminggu lalu. ** Rapat akhirnya selesai. Satu per satu peserta keluar ruangan, suara kursi bergeser dan langkah kaki perlahan menghilang di balik pintu. Angel masih sibuk merapikan berkasnya ketika suara yang sudah terlalu familiar terdengar memanggil namanya. “Angel, tetaplah di sini.” Ia membeku. Punggungnya menegang. Ia menoleh perlahan, dan mendapati Nathan duduk di kursinya, ekspresinya sulit dibaca. Bella yang masih berada di ambang pintu sempat melirik dengan alis terangkat, jelas terkejut melihat presdir memanggil manajer baru secara pribadi. Namun, setelah Angel memberi anggukan bingung, Bella memilih mundur. “Aku keluar dulu,” katanya cepat sambil menutup pintu rapat rapat. Kini hanya mereka berdua di ruangan luas yang tiba-tiba terasa sempit itu. Nathan berjalan mendekat, langkahnya tenang namun tajam. “Bagaimana kau bisa di sini?” suaranya rendah. “Menjadi manajer pemasaran?” Angel meraih mapnya lebih erat, lalu menyilangkan kedua tangan di depan d**a, mencoba memberi jarak. “Lalu bagaimana denganmu?” Tatapannya menusuk balik. “Presdir Merced Group? Wah, aku tidak menyangka.” Alis Nathan mengernyit. “Apa maksudmu itu?” Angel menghela napas tajam, semua luka tiga tahun lalu mendesak keluar. “Aku merasa ditipu selama tiga tahun kebersamaan kita. Dan aku baru tahu kau anak dari pemilik Merced Group.” Suaranya bergetar, campuran marah dan perih yang lama ia kubur. Nathan tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya justru terangkat, senyum sinis, dingin, seperti tameng yang menutupi sesuatu yang lebih dalam. “Kalau kau tahu dari dulu…” Ia mendekat satu langkah. “Apa itu berarti kau tidak akan pernah meninggalkan aku?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD