BAB 25 - Om-Om Puber

1336 Words

Mata Kanika seketika melotot, menatap tak percaya pada Fabian. Panggilan Sayang itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang jauh lebih tua darinya. Jantungnya berdebar, bukan karena tersipu, melainkan karena kaget dan sedikit kesal. Fabian tersenyum tipis, seolah membaca keterkejutannya. “Bercanda, jangan terlalu serius, Kanika.” Fabian dengan cepat mengklarifikasi, suaranya kembali dingin dan datar, seolah panggilan itu tak pernah terucap. Dan, kini ​Kanika memilih diam, menahan diri untuk tidak membalas. Dia menganggap hal ini sebagai salah satu godaan iseng dari Fabian. Baginya, kaum Adam memang tidak bisa ditebak, dan cat calling seperti ini bukan hal baru. Dia hanya berusaha menenangkan diri dan menganggap semuanya biasa saja. ​Di tengah usahanya bersikap tenang, bus yang dia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD