Akibat ulah Fabian, Kanika kini bersembunyi di dalam kamarnya, dadanya naik-turun menahan detak jantung yang menggila. Telapak tangannya menempel di d**a, mencoba menenangkan irama yang tak karuan. “Aduh, huft ... ya ampun," gumam Kanika sembari menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang baru saja dia tutup. “Bisa-bisanya dia begitu, lagian kenapa juga aku ladenin, sih?” Dia merutuki dirinya sendiri. Jujur saja, dia menyesal sudah mengimbangi candaan Fabian. Pembicaraan yang dimulai dari hal sepele berubah menjadi lelucon-lelucon yang terdengar seperti percakapan sepasang suami-istri. Dan yang paling parah, Fabian benar-benar akan membuktikan ucapannya tadi jika Kanika tidak melarikan diri. Bodoh, Kanika, bodoh! batinnya. Dia masih bisa merasakan panas di wajahnya. Pikiran tentan

