Jika sebelumnya Kanika, kali ini lidah Fabian dibuat kelu. Dia tersentak, seperti tertimpa palu godam akibat ulahnya sendiri yang bisa dibilang agak asal bicara. Sarannya untuk Kanika mencari tempat tinggal yang lebih luas nyatanya bermakna ganda. Kalimat “Tidak cukup buat berdua” itu bagaikan bumerang yang menghantam dirinya sendiri, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Kanika menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya, menuntut penjelasan. Dia butuh jawaban yang logis, dan Fabian yang tak ingin terlihat jelas-jelas gila seketika berpikir keras. Otaknya bekerja super cepat, mencoba menyusun serangkaian alasan lain yang sekiranya masuk akal, dan tidak melunturkan wibawanya sebagai seorang pria. “Oh iya?” Fabian mencoba memasang wajah datar, seolah ia baru me

