Suara Fabian terdengar berat namun penuh otoritas. Matanya yang tajam menatap Kanika lekat-lekat, seolah ia bisa membaca semua yang Kanika rasakan. Kanika terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, ia takut. Di sisi lain, dia merasa lega karena ada seseorang yang bersedia membantunya. Fabian adalah satu-satunya orang yang berada di sana, di tengah malam yang sunyi dan dingin. Kanika menelan ludah, dia merasa tak punya pilihan lain selain menerima tawaran pria itu. ”Kanika cepat, tubuhmu sudah basah kuyup sadar tidak?”Fabian mendesak, suaranya terdengar tidak sabar. Dia tidak ingin lagi membuang waktu. Kanika terdiam, tapi dia tidak punya pilihan lain. Daripada terjebak dalam situasi yang jelas akan merugikannya, Kanika mengikuti perkataan Fabian. Ia membuka pintu mobil

