“Ih, apaan sih,” gumam Kanika menunduk malu, suaranya nyaris tak terdengar. Gombalan maut Fabian benar-benar membuatnya mati kutu. Pipinya terasa panas, dan dia tidak sanggup lagi menatap wajah Fabian. Seolah ada magnet tak kasat mata yang menariknya untuk terus menatap, tapi rasa malu yang begitu besar memaksanya untuk memalingkan wajah. Kanika membuang muka, sengaja menghindari tatapan mata Fabian yang luar biasa mengguncang jiwanya. Demi Tuhan, dia berkata tidak sanggup. Bahkan, jika boleh jujur, dia menyesal telah melayangkan protes yang ternyata justru berakhir membuat Fabian salah tanggapan, dan kini malah membuatnya semakin salah tingkah. Fabian tersenyum melihat reaksi Kanika. Hatinya menghangat, tapi dia tidak ingin membuat wanita itu semakin canggung. “Bercanda, jangan dia

