Fabius dan Selena

1119 Words

Sudah lama sekali sejak terakhir kali Fabius menatap Selena seperti ini. Tidak ada rasa haru. Tidak ada kerinduan yang membuncah. Tidak juga rasa simpati. Hanya saja, perasaan sedih di hati Fabius. Harusnya dia tidak boleh ragu. Tidak. Dia tidak boleh ragu—menghunus pedang tepat di jantung Selena. Tidak boleh ada keraguan. Namun tetap saja Fabius merasa ada hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Sahabat Titania. Sahabat dari perempuan yang dicintainya. Sahabat ... oh, masa bodoh dengan kata sahabat dan seluruh kode etik yang tertanam dalam persahabatan. Perempuan ini tidak lebih dari seorang pengkhianat. Pengkhianat. Benar, tidak ada yang perlu diragukan lagi. ″Betapa beruntungnya berjumpa dengan pangeran tertua Hardenbergia,″ ucap Zaroq memecah keheningan di antara Fabius dan Selena.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD