Rara Kusuma tidak pernah meminta malam itu terjadi.
Ia datang ke hotel karena percaya pada sahabatnya. Ia pulang sebelum subuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia kembalikan dan sembilan bulan kemudian, dunia yang sudah susah payah ia bangun sendiri terancam runtuh dari dalam.
Empat bulan ia simpan rahasianya. Empat bulan ia makan tidak teratur, tidur tidak cukup, dan mempertahankan IPK-nya di atas garis yang memisahkan ia dari kebangkrutan. Tidak ada yang tahu. Sampai satu nama muncul di papan pengumuman Dekanat dan Rara menyadari bahwa pria yang tidak pernah ia kenal namanya malam itu adalah Dosen Pembimbing Akademiknya sendiri.
***
Arvan Pradipta bukan pria yang mudah dikelabui.
Ia dosen muda yang terlalu cepat naik jabatan, terlalu terlatih membaca orang, dan terlalu keras kepala untuk membiarkan sesuatu yang tidak ia mengerti berjalan begitu saja di depannya. Ketika hoodie abu-abu itu kembali ke mejanya dengan dua inisial di sudutnya, ia tahu ia punya satu pertanyaan yang jawabannya akan mengubah segalanya.
Ia tidak menyangka jawabannya duduk dua lantai di bawah ruangannya. Di kelas paling belakang. Dengan mata yang bahkan dalam kondisi paling hancur sekalipun tidak pernah sekalipun memohon.
***
Ini bukan kisah tentang cinta yang datang di waktu yang salah.
Ini kisah tentang dua orang yang sama-sama hancur, sama-sama keras kepala, dan dipaksa berbagi ruang oleh satu kenyataan yang tidak pernah mereka minta. Tentang kepercayaan yang dikhianati oleh orang yang paling tidak terduga. Tentang pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah dan dijalankan dengan kebencian, sebelum keduanya perlahan belajar bahwa bertahan bukan berarti menyerah.
Dan bahwa kadang, orang yang paling menyakiti kita adalah orang yang sama yang akhirnya memilih untuk tinggal.