Bab 1 - Jangan Mati di Sini
Lantai semen kosan itu terasa sedingin es yang merambat masuk ke pori-pori kulit Rara. Ia terbaring miring, meringkuk seperti janin, dengan satu tangan menekan dinding kusam yang catnya sudah mengelupas. Perutnya tidak berhenti berdenyut, sebuah rasa sakit yang tajam dan panas, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mencoba mencabik jalan keluar dari dalam sana.
Rara mencoba menghirup napas, tapi paru-parunya terasa menyempit. Bau debu dan pengap kamar sempit itu mendadak membuatnya mual luar biasa. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali perutnya diisi makanan yang layak. Kemarin? Atau dua hari lalu? Ingatannya kabur, tertutup oleh kabut kelelahan yang luar biasa berat. Uang di dompetnya hanya tinggal beberapa lembar ribuan, dan ia harus memilih antara membeli nasi bungkus atau menyimpan uang itu untuk ongkos angkot ke kampus besok.
"Sial," bisiknya lirih, suaranya pecah dan nyaris tidak terdengar.
Setiap kali ia memejamkan mata, gambar-gambar itu muncul lagi. Langit-langit hotel yang mewah dengan lampu kristal yang berpijar redup. Ubin kamar mandi yang licin dan dingin. Bau alkohol yang menyengat, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang sangat mahal. Aroma yang kini ia ketahui milik pria yang memegang kendali atas nasib akademisnya.
Tiga bulan. Sudah dua belas minggu ia menyimpan rahasia ini sendirian, membungkusnya rapat-rapat di bawah hoodie longgar yang kini terasa semakin sesak. Tubuhnya mulai memberontak. Berat badannya merosot, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi ditutupi bedak murah, dan tangannya sering gemetar tanpa sebab.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kayu yang tipis itu terdengar seperti ledakan meriam di telinga Rara.
"Rara? Kamu di dalam, kan? Kok diam saja dari tadi? Ini sudah jam makan siang, lho," suara melengking itu milik Bela, penghuni kos sebelah yang rasa ingin tahunya sering kali melewati batas sopan santun.
Rara memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menelan rasa mual yang kembali naik ke tenggorokan. Ia memaksakan dirinya untuk menjawab agar Bela tidak nekat membuka pintu yang kuncinya sudah agak longgar itu.
"Lagi istirahat, Bel," jawab Rara, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar normal. Tapi yang keluar justru bisikan parau yang sangat lemah.
"Kamu sakit ya? Suaramu kok aneh begitu? Mau aku belikan obat di depan?" Bela tidak menyerah.
"Tidak usah. Aku cuma kurang tidur semalam. Mau tenang sebentar," kata Rara lagi, kali ini dengan penekanan yang lebih tegas.
Hening sejenak. Rara menahan napas sampai akhirnya ia mendengar langkah kaki Bela menjauh. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan tubuhnya kembali terkulai di lantai. Tangannya bergerak pelan ke bawah, meraba perutnya yang masih terasa datar namun keras. Ada nyawa di sana. Nyawa yang tidak pernah ia minta. Nyawa yang hadir karena sebuah jebakan licik dari orang yang ia anggap sahabat paling setia.
Dira. Nama itu memicu amarah yang lebih panas dari rasa sakit di perutnya. Dira yang tersenyum saat menyerahkan segelas minuman di hotel malam itu. Dira yang bilang Pak Rendi ingin bertemu untuk urusan beasiswa. Semuanya bohong. Teman sejak SMA itu ternyata menyimpan kebencian yang sudah membusuk bertahun-tahun, hanya karena Rara selalu dianggap lebih unggul di kampus.
Rara mencoba bangkit. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk bertumpu pada pinggiran kasur busanya yang sudah kempes. Kepalanya langsung berputar hebat. Pandangannya menggelap selama beberapa detik, bintik-bintik cahaya menari-nari di depan matanya.
"Jangan pingsan. Jangan mati di sini, Ra. Tidak ada yang akan menolongmu," bisiknya pada diri sendiri, kuku-kukunya memutih karena mencengkeram sprei dengan kuat.
Ia teringat ibunya di kampung. Ibunya yang sudah terlalu lelah bekerja sebagai buruh cuci hanya agar Rara bisa kuliah. Kalau ibunya tahu anak kebanggaannya hamil tanpa suami, itu akan membunuh wanita tua itu lebih cepat daripada penyakit apa pun. Rara tidak boleh kalah. Ia tidak boleh lemah.
Tepat ketika lututnya nyaris menyerah dan kembali menyentuh lantai, ponsel butut di atas meja kayu bergetar pendek. Satu notifikasi muncul di layar yang retak.
Rara meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya, berharap itu hanya pesan sampah atau pengingat tagihan kos yang sudah nunggak seminggu. Tapi, begitu membaca isinya, jantungnya seolah berhenti berdetak.
SISTEM INFORMASI AKADEMIK: JADWAL BIMBINGAN AKADEMIK - WAJIB HADIR.
DOSEN PEMBIMBING: ARVAN PRADIPTA, S.H., M.H..
Darah di wajah Rara seketika luruh. Namanya terpampang jelas di sana. Nama pria yang wajahnya hanya ia ingat samar-samar di kegelapan kamar hotel, tapi suaranya... suara bariton yang dingin dan penuh otoritas itu telah menghantuinya selama tiga bulan terakhir.
Arvan Pradipta. Dosen muda paling berprestasi, paling rapi, dan paling ditakuti di Fakultas Hukum. Dan dia adalah ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.
Rara menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong. Lututnya benar-benar menyentuh lantai sekarang, tapi kali ini bukan karena lemah. Amarah yang murni dan pekat mendadak menjalar ke seluruh sarafnya. Pria itu akan duduk di sana, di balik meja kayunya yang mewah, memeriksa nilai-nilainya, tanpa tahu bahwa dialah yang telah menghancurkan hidup Rara berkeping-keping.
Ia tidak bisa bersembunyi lagi. Perutnya akan terus membesar, dan beasiswanya akan segera dicabut kalau ia tidak segera menghadap.
Rara menarik napas panjang, mengusap keringat dingin di dahinya dengan kasar. Ia berdiri, meski tubuhnya masih terasa goyah. Ia berjalan menuju lemari plastik, mengambil hoodie abu-abu paling longgar yang ia punya. Hoodie yang sama dengan yang tertinggal di hotel malam itu, namun ia punya dua yang serupa.
Ia harus pergi ke kampus. Ia harus menghadapi monster itu. Bukan untuk meminta belas kasihan, tapi untuk memastikan pria itu tahu bahwa ia tidak akan bisa tidur nyenyak setelah ini.
Rara memutar kunci pintu. Saat ia melangkah keluar, perutnya kembali melilit tajam, kali ini disertai rasa basah yang membuatnya membeku di tempat. Ia menyentuh bagian belakang roknya, lalu melihat telapak tangannya.
Ada bercak merah tua di sana.
Rara menelan ludah, wajahnya sepucat kertas. Apakah ini akhirnya? Apakah ia akan kehilangan semuanya bahkan sebelum ia sempat melawan?
"Kamu tidak boleh pergi sekarang, Nak," bisiknya parau, menekan perutnya dengan telapak tangan yang berlumuran darah tipis. "Jangan sekarang."
Apakah Rara akan berhasil sampai ke ruang bimbingan Arvan dalam kondisi pendarahan, atau rahasianya akan terbongkar di tengah koridor kampus yang ramai?