Sore itu, Sophia duduk termenung di bangku kayu halaman rumahnya. Tangannya yang pucat menggenggam erat setangkai bunga mawar merah yang masih berduri. Duri-duri tajam menusuk kulitnya, menggores halus daging di bawahnya hingga darah merembes keluar. Namun ia tidak peduli. Perihnya luka itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang merajalela di dalam dadanya. Tatapannya kosong. Menembus taman yang dulu ia rawat bersama Vincent, suaminya. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Ia menghela napas pelan, matanya masih mematung ke depan, ke arah gerbang rumah yang terbuka sedikit. “Ya Tuhan… aku tidak mau bercerai dengannya,” bisiknya lirih, nyaris seperti sebuah doa yang melayang di antara desau angin sore. Pikirannya melayang, mengenang detik-detik di mana Vincent mulai