Vincet menyeringai, matanya mengikuti setiap gerakan Nancy. "Kau tahu betul bagaimana membuatku terangsang, sayang," bisiknya serak, melihat Nancy melepaskan kancing gaunnya satu per satu di ruang tengah yang remang-remang. Lampu-lampu kecil memantulkan cahaya keemasan di kulitnya yang halus. Nancy tertawa kecil, suaranya menggoda, "Itulah gunanya seorang istri, bukan?" Gaunnya melayang ke lantai, memperlihatkan bra renda hitam yang menantang. "Memastikan suaminya tidak pernah bosan." "Bosan? Denganmu? Itu mustahil," jawab Vincent, suaranya bergetar. Ia bangkit dari sofa, mendekat perlahan seperti predator mengintai mangsanya. Nancy memutar tubuhnya, punggungnya menghadap Vincent. "Kalau begitu, tunjukkan padaku seberapa mustahilnya itu," bisiknya, melepaskan pengait branya. Vincent ti