“Maafkan aku Ai… aku tak berdaya…” gumam Arsen menatap punggung Zahira hingga hilang dibalik pintu ruangannya. Arsen bersandar setengah duduk di meja kerjanya, menatap telapak tangannya, cincin yang khusus ia pesan untuk Zahira kembali ke tangannya. Padahal ia ingin Zahira menyimpannya tanpa harus mengembalikannya. “Seharusnya cincin ini masih ada di jari manismu Ai, walau kita sudah tidak bersama, paling tidak ada sesuatu dariku yang kamu simpan.” Arsen menghela napas panjang, ia kalut, ia sangat yakin anak anaknya menyetujui hubungannya dengan Zahira karena melihat kedekatan mereka tapi tak disangka anak anaknya menolak keras hubungan itu. Sedangkan Zahira yang keluar dari ruangan Arsen tak bisa menahan air matanya, air matanya menetes di pipinya dan berkali kali ia hapus dengan tang