Riana berlari lebih dulu menuju ke ruang rawat Vino. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jun. Dia yakin, sekarang Jun sedang membutuhkan banyak dukungan. Sebagai kekasih, Riana ingin memberikan perhatian lebih pada pria itu. Nam yang sedikit banyaknya tahu tentang perasaan Jun dan Riana hanya bisa memandang punggung gadis yang kian menjauh dari pandangannya. Jimi hanya tersenyum. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Jun dan Riana, tetapi dia sangat maklum, dua manusia itu memang dekat. Riana menatap Jun dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia merasa sakit dan hancur dalam waktu bersamaan. Jun terlihat begitu berantakan, bersandar di tembok dengan rambut acak-acakan. Matanya sembab, hidung merah, dan pipi yang masih basah. Gadis itu langsung menghampiri Jun dan memeluknya er