Setelah menenggak surga dunia berdua di gazebo terapung, perjalanan kembali ke hotel diliputi keheningan yang nyaman. Namun suasana itu pecah ketika ponsel Kirana bergetar—sebuah pesan dari Huda menanyakan kabar. "Boleh saya balas, Pak?" tanya Kirana dengan sopan. Bramasta mengangguk singkat, meski raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Mereka memang tidak memiliki kesepakatan apa pun selain menjadi "teman main" di ranjang. "Bagaimana suami kamu di Surabaya?" tanya Bram, kembali mengenakan topeng atasan yang berwibawa. Kirana tersenyum kecil. "Dia bilang semua berjalan lancar dan bisa beradaptasi dengan cepat. Terima kasih ya, Pak, atas bantuannya..." ucapnya tulus. Bram mengangguk, menyembunyikan rasa cemburu yang menggerogoti. Betapa beruntungnya Huda memiliki istri seperti Kirana.

