Hanya Object

1202 Kata
Hari Minggu sore, kamar mereka dipenuhi dengan koper terbuka dan baju yang masih terlipat rapi. Kirana dengan hati-hati menyusun pakaian Huda ke dalam koper, setiap helainya terasa berat oleh beban pengkhianatan yang ia pendam. "Ingat ya, Mas di sana jangan telat makan," bisik Kirana, suaranya bergetar halus. "Jangan begadang dan jangan kebanyakan merokok." Setiap nasihat terasa seperti pisau yang menikam hatinya sendiri. Huda menghentikan aktivitasnya dan memandang istrinya dengan penuh kasih. "Mas ingat, Kiran... Kamu tenang saja. Mas akan baik-baik saja demi kalian," ujarnya sambil menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan yang hangat. Sentuhan tulus itu membuat Kirana nyaris menangis. Rasa bersalah merayap masuk seperti racun yang perlahan menyebar. "Sayang..." Huda menghela napas. "Sebenarnya Mas bisa naik bis saja. Kamu kenapa malah beli tiket pesawat? Dan uang yang kamu berikan ke Mas ini..." "Buat pegangan, Mas. Jangan dipikirkan," potong Kirana cepat. "Mas Senin sudah harus kerja. Kalau naik bis, nanti kecapekan. Tubuh Mas juga butuh istirahat." Huda menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan erat. "Mas beruntung sekali punya istri sepertimu, Kiran. Terima kasih ya, Sayang..." Dia mencium puncak kepala istrinya dengan lembut. Kirana membalas pelukan itu, namun jiwanya terasa tercabik antara cinta dan pengkhianatan. "Oh ya, Mas..." Kirana menarik diri perlahan. "Aku ada kabar baik. Sekarang aku tidak jadi admin lagi, tapi menjadi asisten pribadi Pak Bram. Gajinya naik, makanya aku berani kasbon untuk beli tiket dan pegangan Mas..." "Aspri?" Huda mengerutkan kening. "Kok tiba-tiba? Kamu harus hati-hati, Sayang. Bagaimanapun dia laki-laki. Jangan sampai dia melecehkanmu! Pekerjaanmu akan sering berdekatan dengan dia!" "Tidak cuma berdekatan, Mas. Kami bahkan sudah melakukan hal yang jauh lebih intim," batin Kirana menyayat-nyayat, tapi yang keluar dari mulutnya justru: "Mas tenang saja. Aku akan hati-hati. Lagian siapa sih yang akan tertarik sama ibu-ibu seperti aku?" Huda tersenyum, menariknya kembali ke pelukan. "Kiran... ibu seperti kamu ini cantik, seksi. Siapa yang bakal menolak?" Kirana pura-pura cemberut. "Aku tuh justru yang harus curiga dengan Mas. Awas ya kalau Mas di sana main-main dengan perempuan lain..." "Sayang..." Huda memandangnya dengan serius. "Mas ini kerja untuk keluarga. Tidak ada ruang untuk bermain-main. Menghidupi satu istri saja Mas belum sanggup membahagiakan, apalagi kalau sampai nambah. Tidak! Hati Mas hanya untuk kamu dan Kia!" Janji tulus itu membuat Kirana ingin berlari dan bersembunyi. "Tentu saja, siapa yang meragukanmu, Mas," ucapnya, sementara batinnya berteriak: "Aku mengatakan ini hanya untuk menutupi pengkhianatanku sendiri!" Saat taksi online yang dipesan datang, Huda memeluknya sekali lagi. "Kamu hati-hati ya, selalu kasih kabar!" Kirana mencium punggung tangan suaminya, perasaan hancur berkeping-keping. "Kamu juga hati-hati, Mas. I love you." "I love you too," jawab Huda sebelum masuk ke taksi. Mobil itu perlahan menjauh, membawa sebagian hati Kirana bersamanya. Dia memegang dadanya yang sesak, berusaha menenangkan diri. "Kalau semua sudah membaik," bisiknya pada angin sore, "aku akan berhenti melakukan ini." Tapi di kedalaman hatinya, ia tahu janji itu mungkin sudah terlalu terlambat untuk ditepati. Saat kembali ke dalam rumah yang terasa semakin kosong setelah kepergian Huda, Kirana membereskan sisa-sisa barang yang masih tersisa. Hampir semua barang berharga telah terjual untuk menutupi hutang, meninggalkan ruangan yang terasa hampa dan sunyi. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bram muncul di layar: "Besok jam 6 pagi sudah ada di rumahku. Bantu siapkan kebutuhan pribadi saya sebelum ke kantor." Kirana menelan ludah getir. Senin ini dia secara resmi memulai posisi barunya sebagai asisten pribadi Bram. Meski hubungan mereka sudah melampaui batas profesional, dia bertekad untuk bekerja sungguh-sungguh. Semua dokumen untuk pertemuan di Bali sudah dia siapkan sejak Jumat lalu bersama sekretaris Bram. Sebelum sempat membalas, pesan kedua masuk: "Jangan lupa bawa pakaian dinas." Kirana mengerutkan kening. Pakaian dinas? Di perusahaan mereka tidak ada seragam khusus, hanya kode busana formal biasa. Kemudian sebuah gambar muncul—sebuah foto yang membuat nafasnya tersangkut. Bukan seragam kantor yang dia bayangkan, melainkan pakaian dalam yang sensual dan provocative, dengan catatan: "Ini seragam dinas baru kamu sebagai asisten pribadi saya." Jantung Kirana berdebar kencang. Tangannya secara refleks menempel di d**a, merasa campuran malu, gelisah, dan—yang paling mengkhawatirkan—sebuah denyut liar yang mulai membangunkan sisi gelapnya. Bahkan dengan Huda, dia tidak pernah memakai sesuatu seperti ini. Namun, ini adalah bagian dari "pekerjaan"-nya sekarang. Dengan jari yang sedikit gemetar, dia membalas: "Siap, Pak." Tanpa berpikir panjang, Kirana langsung berkemas dan memesan taksi online menuju mall terdekat. Di perjalanan, dia tidak bisa berhenti membayangkan dirinya mengenakan pakaian itu untuk Bram—dan bagaimana reaksi pria itu saat melihatnya. Sebagian dari dirinya merasa hancur oleh rasa malu, tetapi sebagian lain justru merasa excited oleh sensasi larangan yang ditawarkan oleh "seragam dinas" barunya ini. Dinginnya AC mobil taksi tidak mampu meredakan panas yang menjalar di kulit Kirana. Ponsel di genggamannya bergetar sekali, lalu dua kali. Dua notifikasi dari dua dunia yang berbeda sekaligus. Pesan pertama dari Huda: "Sayang, aku sudah di waiting room. Pesawannya delay dikit. Kia baik-baik aja?" Senyum getir merekah di bibir Kirana. Jarinya menari cepat membalas, "Kia baik, Mas. Safe flight ya... Miss you already." Kata-kata itu terasa seperti kapas di mulut yang pahit. Tak sampai tiga detik, getaran berikutnya datang. Dari Bram. Bukan tulisan, melainkan sebuah gambar—sebuah set lingerie yang begitu terbuka dan sensual, membuatnya hampir menjatuhkan ponsel. "Foto dulu yang kamu pilih. Yang lebih seksi dari ini," perintahnya singkat, tanpa basa-basi. Dunia seakan berhenti berputar. Di satu sisi, ada suaminya yang sedang menanti boarding dengan hati penuh harapan untuk memulai hidup baru. Di sisi lain, ada pria yang memperlakukan tubuhnya seperti katalog yang bisa dipilih sesuka hati. "Baik," balas Kirana kepada Bram, satu kata yang terasa seperti pisau yang menancap di hatinya sendiri. Dalam sekejap, dia tersadar. Dia bukan apa-apa bagi Bram kecuali objek pemuas nafsu. Sebuah mainan yang bisa diperintah sesuka hati. Dengan napas berat, dia beralih kembali ke chat dengan Huda. Dia mulai mengobrol dengan suaminya dengan intens, menanyakan detail penerbangan, mengirim foto Kiara yang sedang tertidur pulas, melakukan apapun untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan "tugas" yang menunggunya. Setiap pesan dari Huda adalah penawar racun dari kenyataan pahit yang harus dihadapinya. "Sayang, aku boarding dulu ya. Love you," pesan Huda akhirnya. "Kabari kalau sudah landing. Love you too," balas Kirana, hancur karena tahu dia akan mengkhianati pria yang baru saja mengucapkan kata-kata itu begitu pesawatnya lepas landas. Taksi akhirnya sampai di mall. Kirana berjalan dengan langkah gontai menuju toko lingerie ternama. Dengan malu-malu, ia memilih beberapa set yang menurutnya sudah cukup berani—rendahan dengan lace, warna merah menyala, bahan yang nyaris transparan. Dia mengirim foto pilihannya kepada Bram, berharap salah satunya disetujui. Jawaban Bram datang hampir langsung. Bukan tulisan, tapi sebuah gambar baru. Sebuah set yang jauh lebih vulgar, lebih terbuka, dan hampir tidak meninggalkan ruang untuk imajinasi. "Ini. Size kamu kan M? Beli yang warna hitam," perintahnya. Kirana memandangi gambar itu, darahnya berdesir campur aduk antara malu, jijik, dan—yang paling menyiksa—sebuah gairah terlarang yang mulai membara. Dia merasa seperti sedang mempersiapkan kostum untuk film porno, bukan "seragam dinas". Tapi dia sudah tidak punya pilihan. Dia sudah terjun terlalu dalam. Dengan tangan gemetar, dia memberikan kartu ATM hitam pemberian Bram kepada kasir, membayar untuk sesuatu yang akan digunakan untuk menghancurkannya sendiri. Dia tidak lagi memiliki kendali. Jalan mundur sudah tertutup. Yang bisa dilakukannya hanyalah menuruti setiap keinginan Bram, sambil berharap suatu saat nanti, semua pengorbanan ini akan sepadan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN