Jam enam kurang beberapa menit, Kirana sudah berdiri di depan pintu rumah megah Bramasta. Rumah itu terlihat seperti istana dari majalah arsitektur—bersih, mewah, dan sempurna dalam setiap detailnya. Namun, ada suasana dingin yang menyelimuti, seolah dinding-dindingnya tidak pernah merasakan tawa atau kehangatan sebuah keluarga.
Seorang pelayan senior dengan seragam necis menyambutnya dengan sikap hormat yang terukur. "Selamat pagi, Ibu Kirana. Silakan masuk. Bapak sudah menunggu."
Kirana sedikit terkejut. "Langsung ke kamar Bapak?" tanyanya, ragu.
"Benar, Ibu. Pesan Bapak sangat jelas. Kalau Ibu datang, langsung menuju kamarnya untuk membangunkannya. Katanya Ibu adalah asisten pribadi beliau," jawab pelayan itu dengan ekspresi datar, seolah ini adalah hal yang wajar.
Dengan jantung berdebar kencang, Kirana mengikuti pelayan melalui koridor yang panjang dan sepi, hingga akhirnya berhenti di depan pintu kayu besar yang tertutup rapat.
Setelah pelayan pergi, Kirana menarik napas dalam sebelum memberanikan diri mendorong pintu itu.
Kamarnya gelap gulita, hanya disinari cahaya remang-remang dari lampu baca di sisi tempat tidur. Suhu ruangan sangat dingin, membuat kulit Kirana merinding. Di tengah ranjang king-size yang megah, terbaring Bramasta. Dia tidur telanjang d**a, hanya tertutup selimut tipis yang menampilkan siluet tubuhnya yang atletis dan berotot. d**a bidangnya naik turun perlahan, dan untuk sejenak, Kirana terpana—dia terlihat begitu perkasa bahkan dalam keadaan tidur.
Tenggorokannya terasa kering. Dia memeluk tubuhnya sendiri, ragu bagaimana harus membangunkannya tanpa terkesan lancang.
Akhirnya, dengan suara lirih yang gemetar, dia mencoba, "Selamat pagi, Pak Bram..." sambil sedikit menggoyangkan kaki pria itu pelan.
Bramasta bukan tipe orang yang tidur nyenyak. Sentuhan ringan itu langsung membuatnya tersentak dan membuka mata. Matanya yang masih berkabut tidur menatap Kirana, lalu perlahan merekah menjadi senyum tipis.
"Ooh... hai... kamu sudah di sini," ucapnya, suaranya serak namun penuh kewibawaan. "Bantu siapkan pakaian yang akan saya pakai dan untuk dibawa ke Bali. Termasuk celana dalam, ada di ruang ganti sana."
Tanpa basa-basi, dia menyibakkan selimutnya. Kirana langsung menutup mukanya dengan kedua tangan, berusaha menahan teriakan yang nyaris meledak. "Dasar orang gila!" umpatnya dalam hati, merasa jantungnya hampir melompat keluar.
"Kenapa tutup mata? Kamu sudah pernah merasakannya. Kamu juga punya suami, masa tidak tahu kalau pagi hari pria bangun dalam keadaan seperti ini? Itu normal," celetuknya cuek sambil berdiri.
"Kenapa Bapak tidur telanjang?" tanya Kirana, suaranya hampir seperti bisikan.
"Saya memang selalu begitu kalau tidur. Sama seperti perempuan, kan? Kalau tidur suka tidak pakai bra," jawabnya sambil mendekati Kirana. Tangannya yang besar menarik tangan Kirana yang masih menutupi wajahnya. "Buka. Kamu harus mulai membiasakan diri dengan ini. Aku jamin, sekarang juga kamu sudah basah."
Perkataan blak-blakan itu membuat wajah Kirana memerah membara. Dia tidak lagi menutup matanya, tetapi menatap ke segala penjuru ruangan kecuali ke arah bawah.
Tapi Bramasta tidak memberinya kesempatan untuk menghindar. Tiba-tiba, dia sudah berada di belakangnya. Tangannya meremas p******a Kirana dari balik dress yang ia kenakan, sengan menempelkan tubuhnya yang keras pada b****g Kirana.
"Boleh saya tolak?" batin Kirana berteriak. Tapi tidak. Resleting dressnya sudah dibuka dengan gerakan mahir.
"Aku minta kamu datang pagi-pagi karena ini," bisiknya di telinga Kirana, membantu menurunkan dress itu hingga jatuh ke lantai. Udara dingin menerpa kulit Kirana yang sekarang hanya terbungkus pakaian dalam.
"Aku sudah bilang, aku hyper," ucapnya lagi, sambil menggigit lembut telinga Kirana. Kirana tetap mematung, tubuhnya kaku menahan rangsangan yang mulai membakar. Tangannya yang terampil mengelus perutnya yang rata, turun perlahan, melewati pusar, dan berhenti di area yang mulai memberikan sinyal bahwa—tanpa peduli seberapa besar perlawanan dalam hatinya—tubuhnya sudah menyerah pada kenikmatan yang ditawarkan pria ini.
Bram menggesekkan tangannya dengan mahir di atas kain tipis yang masih melindungi Kirana, memberikan gesekan-gesekan yang memicu gelombang kenikmatan. Tanpa disadari, kepala Kirana terlelap menyandar pada d**a bidang Bramasta, mencari kenyamanan yang seharusnya tidak ia rasakan dengan pria ini.
Selisih tinggi mereka membuat Bramasta sedikit menunduk untuk merebut bibir Kirana dalam ciuman yang dalam dan menguasai. Kirana ingin menolak, ingin mengingatkan diri bahwa ini salah—bahwa semalam ia masih bertukar pesan mesra dan foto keluarga dengan suaminya, namun pagi ini tubuhnya telah dikhianati oleh sentuhan pria lain.
“Mm….Pak Bram…” desahnya lemah, tak mampu menahan rangsangan saat jari tengah Bram memberikan tekanan tepat pada titik sensitifnya.
“Kirana…” bisik Bramasta dengan suara serak, “Aku sangat menyukaimu. Tidak rugi mengeluarkan uang begitu banyak untukmu.”
Pujian itu seharusnya membuatnya mual, tapi yang terjadi justru sebaliknya—kenikmatan fisik yang ia rasakan begitu kuat hingga mengaburkan suara hati nuraninya.
“Sudah basah,” gumam Bramasta lagi, menyibakkan kain dalam Kirana ke samping hingga jemarinya menyentuh langsung kelembaban yang sudah membanjiri. Jantung Kirana berdebar kencang, lututnya terasa lemas bagai jelly.
“Pak… saya…..”
“Tenang,” potongnya dengan suara yang penuh kendali, “Aku juga menginginkanmu, Kiran!”
Jari Bram yang besar dan terlatih melesak masuk, mempermainkannya dengan ritme yang sempurna hingga Kirana dihantam gelombang o*****e yang mengguncang.
“Kamu cantik sekali saat o*****e, Kiran!” puji Bramasta, matanya memancarkan kepuasan. “Wanita tercantik yang pernah aku temui…”
Bramasta tersenyum puas mendengar rintihan Kirana. Permintaannya yang polos dan penuh hasrat itu menyentuh sisi paling primal dalam dirinya. Selama ini, istrinya sendiri selalu menganggap kebutuhan seksualnya yang tinggi sebagai sesuatu yang abnormal—sebuah kelainan yang harus disembunyikan. Bahkan saat berhubungan, istrinya hanya melakukannya sebagai kewajiban, seringkali dengan ogah-ogahan dan kritikan pedas.
Tapi Kirana... dia berbeda. Dia tidak hanya menerima, tapi merespons dengan dahsyat, dengan permohonan yang tulus yang membuat Bramasta merasa diinginkan, dihargai, dan—yang paling penting—diakui sebagai lelaki.
"Seperti yang kau mau, Sayang," bisik Bramasta dengan suara serak, penuh kemenangan.
Dengan gerakan perlahan namun penuh keyakinan, dia memposisikan diri di antara kaki Kirana yang masih gemetar. Saat pertama kali masuk, mereka berdua menghela napas secara bersamaan. Kirana karena terkejut oleh ukuran dan keperkasaannya yang selalu berhasil memenuhi setiap inch kenyamanan sekaligus ketidaknyamanannya. Bramasta karena kehangatan dan kelembaban yang menyambutnya dengan sempurna.
Beda..., batin Kirana tak bisa menahan perbandingan yang muncul lagi. Huda... tidak seperti ini. Suaminya baik, lembut, dan penuh perhatian—tapi sentuhannya tidak pernah seberapa membuatnya merasa seperti wanita sepenuhnya, tidak pernah seintens ini, tidak pernah sedahsyat ini.
Bramasta mulai bergerak, setiap hantaman tepat dan dalam, menemukan setiap titik sensitif yang bahkan tidak Kirana ketahui sebelumnya. Tangannya meraih erat pinggul Kirana, mengatur ritme sesuai keinginannya.
"Pak Bram... tolong..." rintihnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak, lebih liar. "Lebih... lebih dalam..."
Permintaan itu seperti bensin yang disiram ke api bagi Bramasta. Kelakiannya semakin menjadi, menghujam dengan kekuatan penuh, membuat ranjang kayu solid berderak-derak mengikuti irama mereka.
Kirana tidak bisa lagi berpikir. Semua penolakan, semua penyesalan, semua pengingatan bahwa ini hanya transaksi—luluh oleh gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat. Tubuhnya mengejang berkali-kali, mencapai puncak lagi dan lagi, hingga sprei basah oleh cairan yang mereka berdua keluarkan.
Bramasta akhirnya mencapai klimaksnya dengan erangan panjang, tubuhnya gemetar hebat sebelum akhirnya kolaps di atas Kirana, peluhnya bercampur dengan peluh perempuan itu.
Dia memeluk tubuh lemas Kirana erat-erat, menciumi rambut dan keningnya dengan posesif. Sementara Kirana hanya bisa terbaring, tatapannya kosong menatap langit-langit kamar yang mewah. Tubuhnya masih berdenyut-denyut, mengingat setiap detik kenikmatan gila yang baru saja dialaminya.
Di balik kepuasan fisik yang mendalam, ada rasa hampa yang menggerogoti. Dia telah melampaui batas lagi, dan sebagian dari dirinya—yang liar dan haus—justru menginginkan lebih.