Riki muncul dari balik punggung Nesya. Dada Regantara turun naik. Bukan karena takut, melainkan karena rasa lega yang datang terlalu cepat dan terlalu kuat. “Kalian ngapain ke sini?” gerutunya, meski sorot matanya jelas berkata lain—terlihat lega. Nesya langsung mengangkat dagu, mata bulatnya berputar malas. “Ck. Bukannya seneng malah ngomel,” sahutnya, ketus, jutek. Khas gadis yang selalu pura-pura tak peduli padahal diam-diam memindai setiap luka kakaknya. Sementara itu, Riki tak menghabiskan waktu untuk bicara. Ia langsung membuka tas selempangnya—dan tanpa dramatis, ia mengeluarkan sebuah tang besi. Gerakannya tenang, terencana, seakan ia sudah tahu apa yang Regantara perlukan sebelum pria itu sendiri mengetahuinya. Regantara mengerjap, lalu mengangkat alis. “Ternyata kebiasaa

