"Apa-apaan ini, Dad? Bukankah Daddy memberiku waktu untuk membujuk Elaine. Aku tidak setuju jika Daddy langsung menemuinya, dia pasti syok nanti," kata Devan menggebu-gebu, matanya melotot dengan tangan bertolak pinggang. Sejak tadi, dia berjalan mondar-mandir di depan ayahnya. Bagus yang melihat itu tampak santai. Wajahnya tak menunjukkan emosi apapun, yang membuat Devan tak bisa menebak apa yang akan dilakukan lelaki paruh baya itu. "Apa aku terlihat berbahaya? Aku kan hanya ingin bertemu, tidak mau menggigit," kata Bagus tampak tak acuh dan malah terkesan bercanda. "Pokoknya aku tidak setuju, titik!" pekik Devan. "Kamu berani membentak Daddy?" keluh Bagus dengan dahi yang berkerut dalam saat menatap Devan. "Bukan seperti itu," ucap Devan dengan cepat. Lelaki itu tiba-tiba saja

