"Nikmati sisa usia dengan bahagia. Nggak usah mikir berat. Sayang sama otak. Masa iya puluhan tahun diajak mikir abot terus. Santai saja sekarang, biar umur panjang, sehat, dan bisa menyaksikan anak cucu bahagia. "Apa to yang nggak kamu punya, Mas. Harta banyak, anak ada, cucu yang menggemaskan juga punya. Kalau soal istri yang berhati batu itu, nggak usah dijadiin beban. Biar saja dia menjadi perempuan tua yang sangar karena ulahnya sendiri." Pak Norman tersenyum getir dengan ucapan panjang lebar adik iparnya. Namun ia serasa mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan kalbunya. Bu Ariana benar, kenapa membebani diri dengan permasalahan yang tidak pernah selesai. Padahal permasalahan itu bisa saja selesai bertahun-tahun yang lalu. "Maaf, Mas Norman. Kok saya jadi nasehatin Mas, sih. Ha