Hari itu hujan datang tanpa aba-aba. Deras, padat, seperti memaksa semua orang untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam. Di dalam apartemen kecil mereka yang hangat, Sheila duduk di sofa sambil memeluk bantal, kakinya diselipkan di bawah selimut tipis. Di tangannya ada buku bacaan tentang kehamilan trimester pertama, tapi matanya kosong menatap halaman yang tak benar-benar dibaca. Galih muncul dari dapur membawa sepiring roti bakar dan potongan buah. “Kamu belum makan siang,” katanya pelan, meletakkan piring di meja. Sheila mengangguk kecil. “Nggak lapar.” Galih duduk di sebelahnya, lalu menatap perut istrinya yang masih rata. “Kamu tahu... aku bahkan belum bisa bayangin bentuknya. Tapi aku ngerasa udah kenal dia.” Sheila tersenyum tipis. “Kamu selalu lebih cepat menyayangi apa pun

