Pagi itu, hujan belum juga turun, tapi langit sudah kelabu sejak subuh. Udara terasa berat, dan daun-daun di balkon tidak bergerak. Di dalam apartemen, keheningan terasa lebih tebal dari biasanya. Galih bangun lebih dulu. Ia berjalan pelan menuju dapur, membuka kulkas, dan menyadari bahwa s**u almond yang biasa Sheila minum sudah habis. Ia menuliskan di kertas kecil: "s**u almond, roti gandum, buah pir." Sheila belum bangun. Biasanya, dia akan bangun bersamaan, atau minimal setengah jam setelah Galih duduk membaca berita pagi. Tapi hari itu, ranjang di sebelahnya masih tak bergerak. Galih melirik jam. Sudah pukul 08.12. Pelan-pelan ia masuk ke kamar. Lampu masih redup. Sheila tertidur dalam posisi miring ke kiri, wajahnya menghadap ke arah jendela yang tertutup tirai. Selimut menyelimut

