Hari itu langit cerah tanpa awan. Udara Jakarta terasa lebih ringan dari biasanya, seperti memberi jalan bagi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di dalam mobil yang melaju pelan menuju rumah sakit, Sheila memegang amplop kecil berisi hasil pemeriksaan darah minggu lalu. Tangannya dingin, meski AC mobil tidak terlalu dingin. Galih menyetir dalam diam. Tapi bukan diam yang dingin—lebih ke diam yang penuh kehati-hatian. Sesekali ia melirik ke arah Sheila. “Kamu yakin masih mau USG sekarang?” tanyanya perlahan, seolah bertanya apakah Sheila masih mau melanjutkan perjalanan hidup mereka. Sheila mengangguk. “Iya. Aku pengen lihat. Walau mungkin... belum banyak yang bisa dilihat.” Galih tidak menjawab. Tapi senyumnya muncul. Dan dari cara ia menggenggam setir lebih ringan, Sheila t

