Bab 67

594 Kata

Pagi itu hujan turun tipis, seperti taburan ragu yang pelan-pelan jatuh ke atap kota. Suara air menyentuh kaca jendela menjadi latar yang tenang, nyaris seperti musik lembut yang dibuat oleh waktu. Sheila duduk di meja makan dengan secangkir teh hangat, tangannya memegang ponsel. Di layar, percakapan terakhir dengan Devi masih tergantung di sana, berakhir dengan emoji tawa ringan dan “kapan kita brunch, Bu?” Ia mengusap perutnya pelan, lalu mengetik: “Dev, kamu sempat luang hari ini? Aku mau cerita sesuatu.” Balasan datang tak sampai semenit kemudian: “Selalu. Rumah atau tempat kamu?” Sheila mengetik: “Datang ke sini aja. Aku belum kuat jalan jauh.” “OTW, bawa roti isi favorit kamu 😘” Setengah jam kemudian, pintu apartemen terbuka dengan suara langkah ringan yang sudah akrab di te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN