Dua bulan setelah konferensi itu, kehidupan kembali berjalan dalam irama yang Sheila dan Galih pelajari ulang seperti nada piano yang pernah dilupakan: tidak selalu sempurna, tapi cukup untuk menyanyikan kembali sebuah lagu. Galih sudah kembali ke Jakarta. Penugasannya dipindahkan ke kantor pusat, dan walau masih menyisakan urusan administratif yang berbelit, kini ia bisa makan malam bersama keluarga setiap hari. Raka tumbuh cepat. Kata-katanya makin jelas, pertanyaannya makin banyak. Salah satu yang paling sering: “Papa sayang Mama?” Dan Galih selalu menjawab, dengan senyum, sambil menatap Sheila: “Sayang. Terus belajar sayang setiap hari.” Sheila duduk di teras sore itu, laptop di pangkuan, Raka bermain mobil-mobilan di atas ubin. Buku pertamanya sudah dicetak. Ia tidak pernah mem

