Pagi di Jakarta berwarna pucat. Matahari masih ragu-ragu muncul, dan jalanan di depan rumah Sheila belum terlalu ramai. Raka sudah berangkat ke daycare bersama Mama Sheila, seperti kebiasaan baru dua kali seminggu sejak Galih pindah ke Medan. Sheila duduk di ruang kerja, membuka email. Di antara puluhan surat promosi, ada satu yang membuatnya berhenti menggulir. Subjek: Undangan Menjadi Pembicara Kunci – Konferensi Sastra Internasional Dari: Prof. Rania Harun – Nanyang Humanities Institute Ia membaca pelan: “Kami mengikuti karya-karya Anda, terutama esai-esai reflektif yang menyentuh topik hubungan dan realitas domestik. Kami ingin mengundang Anda menjadi pembicara kunci dalam sesi utama konferensi kami di Singapura, bulan depan...” Sheila menggenggam tepi meja. Matanya bergetar sedi

