Tiga minggu telah berlalu sejak mereka kembali dari Palembang. Di rumah kecil mereka di Jakarta, kehidupan kembali bergerak dalam irama biasa: suara Raka memanggil dari kamar tiap pagi, bunyi air mendidih di dapur, dan tawa kecil yang muncul ketika Galih pura-pura jadi “dinosaurus ayah” di ruang tengah. Tapi Sheila tahu, di balik rutinitas itu, ada yang perlahan berubah. Bukan seperti sesuatu yang patah. Lebih seperti sesuatu yang sedang mekar diam-diam. Pagi itu, Galih datang membawa dua cangkir teh ke ruang kerja kecil mereka. Sheila sedang menulis. “Pagi. Kamu kelihatan serius,” katanya, meletakkan cangkir di sebelah laptop. Sheila tersenyum. “Aku baru dapat email. Naskahku diterima editor.” “Yang ‘Tiga Suara’?” Sheila mengangguk. “Mereka suka kerangka naratifnya. Tapi ada satu

