Pagi itu hujan turun perlahan seperti keraguan yang belum sempat diucapkan. Di ruang kerja mungil rumah mereka, Sheila duduk di depan laptop dengan layar terbuka, tapi jari-jarinya tak bergerak. Matanya menatap huruf-huruf yang sudah ditulis malam tadi, kalimat pembuka yang mengendap dalam hati. “Kadang yang kita cari bukan penyelesaian, tapi seseorang yang bersedia mendengar cerita kita tanpa menyela.” Dari dapur, terdengar suara Galih mencuci botol s**u Raka. Aktivitas kecil yang dulunya biasa saja, kini terasa lebih berat. Bukan karena pekerjaan itu sendiri, tapi karena masing-masing dari mereka sedang berjalan perlahan menyeberangi jembatan yang rapuh. Sheila menyimpan draftnya. Lalu berdiri, menuju dapur. “Galih.” “Ya?” “Aku mau bantu cari Seno.” Galih berhenti, menoleh. “Kamu

