“Nggak mau!” teriak Raka untuk ketiga kalinya sore itu. Sheila menahan napas. Kakinya sudah bengkak, punggungnya nyeri, dan emosinya menipis. Tapi ia berusaha tetap duduk setenang mungkin di lantai kamar Raka, memegang kaos tidur bergambar dino kecil yang belum sempat dipakaikan. “Sayang, Mama cuma bantuin kamu ganti baju,” ucapnya perlahan. Raka menyilangkan tangan, berdiri memunggungi Sheila. “Aku nggak suka baju itu!” “Kemarin kamu suka,” kata Sheila masih dengan nada sabar. “Sekarang nggak!” Galih masuk pelan dari pintu yang terbuka. Pandangannya bertukar dengan Sheila—tatapan ‘apa yang sebenarnya terjadi?’. Ia duduk di tepi kasur, tidak langsung ikut campur. Raka masih berdiri di sana, kecil, keras kepala, dengan mata yang tampak lebih lelah dari biasanya. “Rak,” ujar Galih ak

