Pagi itu, Sheila bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena Raka rewel, atau tubuhnya lelah. Tapi karena ponselnya berdenting berkali-kali, notifikasi dari email, media sosial, dan satu grup w******p alumni yang sudah lama ia mute. Ia mengerjapkan mata. Mencoba membaca satu pesan. “Sheil, opini kamu yang minggu ini masuk TwitterX. Viral banget. Banyak yang setuju, tapi juga banyak yang marah.” Hatinya langsung menghangat—bukan karena bangga. Tapi karena cemas. Ia membuka link yang dikirim. Tulisan opininya, berjudul “Anak Bukan Proyek, Ibu Bukan Produk Jadi”, dipotong, dikutip, di-take out of context, dan dimasukkan ke dalam debat panjang antara “tim ibu bekerja vs ibu rumah tangga”, “ibu modern vs ibu tradisional”, bahkan... “perempuan yang egois karena menolak jadi martir.” Komen

