Udara pagi itu terasa lebih jernih dari biasanya. Jakarta baru saja diguyur hujan semalaman, dan daun-daun di balkon Sheila dan Galih seperti bernapas lega. Di meja makan, ada semangkuk bubur ayam, telur rebus, dan secangkir teh hangat. Sheila menatap semangkuk bubur itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Kayaknya... aku nggak bisa makan ini,” gumamnya pelan. Galih menoleh dari dapur, mengangkat alis. “Kamu mual lagi?” Sheila mengangguk pelan sambil memegang perut bagian atas. “Nggak separah kemarin sih. Tapi... kayak nggak sreg aja.” Galih mendekat, duduk di sampingnya, lalu berkata sambil tersenyum, “Mungkin si kecil nggak suka bubur ayam.” Sheila menatapnya. “Tapi kemarin suka banget nasi goreng tek-tek.” “Mungkin dia mood-nya kayak kamu,” canda Galih. Sheila tertawa, tapi

