agi itu hujan turun ringan, seperti tirai tipis yang menggantung di langit Jakarta. Bukan hujan deras yang menggulung dunia, tapi jenis hujan yang diam-diam mengetuk jendela dan meminta diperhatikan. Di meja makan, dua cangkir teh hangat berembun. Galih menatap cangkirnya dengan tangan menyilang di depan d**a. Sheila duduk di seberangnya, rambutnya masih lembap karena baru mandi. Di antara mereka, sebuah kertas berisi jadwal dokter kandungan baru tergeletak. “Kamu yakin sama tempat ini?” tanya Galih, akhirnya membuka percakapan. Sheila mengangguk. “Kata Devi, dokternya baik dan nggak terlalu judging. Aku... butuh itu.” Galih tersenyum kecil. “Kamu takut dihakimi?” Sheila mengangkat bahu. “Bukan takut. Lebih ke... aku belum terbiasa. Dengan semua ini.” Galih menjulurkan tangannya, men

