Hari itu langit Jakarta terlihat seperti tumpukan kapas lembut yang enggan pecah. Hangat, teduh, dan hening seperti pagi-pagi di luar waktu. Tapi di dalam apartemen, dunia Sheila dan Galih bergetar halus oleh sesuatu yang belum mereka beri nama. Sheila duduk di tepi tempat tidur, kaki ditekuk, jari-jari tangannya meremas ujung kaus tidur. Galih berdiri tak jauh, bersandar ke kusen jendela dengan ekspresi campuran antara cemas dan menanti. “Mau aku beli test pack sekarang?” tanya Galih akhirnya, pelan-pelan, seperti takut pertanyaannya terlalu berat. Sheila mengangguk kecil tanpa menoleh. “Mungkin iya... sebelum aku terlalu banyak berandai-andai.” Galih melangkah mendekat, duduk di sebelahnya. Ia menyentuh tangan Sheila yang dingin. “Apapun hasilnya, kita tetap tim, ya?” Sheila menole

